Lawak
“~Widuri…. Elok bagai rembulan…. Oh
Sayang… ~Widuri… kuakan menyayangi~…”
“~La…la… la…~”
Eh… Maaf ternyata aku sedang diperhatikan, ya? Ehemm.. hmm.. Bagaimana? Baguskah
suara saya? Ya, suara saya? Ah, bilang saja bagus. Jangan susah-susah
dibahaslah. Tapi, sebelumnya, apa kalian tahu siapa aku ini? Ayo, coba tebak
siapa aku? Nah.. Ternyata kalian saja tidak tahu siapa aku. Ya sudahlah, aku akan
memperkenalkan diriku. Tidak lihat nama saya terpampang jelas di samping Museum
SMB II Palembang? Nama saya adalah Archa Budha. Saya adalah patung. Terbuat
dari Batu Granit. Ya, saya sudah dibuat pada zaman nenek moyang kalian. Zaman
kerajaan Sriwijaya saya sudah ada.
Awalnya saya ditemukan hanya dalam bentuk kepala. Jadi, saya
dipindahkan ke museum nasional di
Jakarta. Lalu, beberapa bagian tubuh saya akhirnya di temukan lalu disatukan
kembali. Akhirnya saya diletakkan di Museum Sultan Mahmud Badarudin II. Ya,
meski pun kondisi saya tidak dalam keadaan utuh.Hanya sebagian tubuh saya saja
yang di temukan, seperti, badan dan lengan saya. Jadinya, saya tidak keren
donk. Tapi, suara saya tetap “cetar
membahana badai berduar-duar”! ya, kan?
Tapi, saya di sini bukan ingin membahas pribadi saya atau pun keadaan
saya. Lagi pula banyak kok patung-patung lain seperti saya, ada si Ganesha, si
Singa, dan teman-teman yang lain si Meriam di depan, si air mancur, dan si kembar anak tangga museum. Banyak kok.
Sumpah. Yang kalian bingungkan itu apa sih? Tunggu sebentar. Tunggu ya, saya
lagi berpikir, mau tebak kalian mau jawab apa. Eits…! Pasti kalian mau bilang Pemilu tahun ini ricuh? Iya, kan?
Hah? Salah? Kok bisa? Jadi apa dong? Oh itu .. Mengapa saya bisa bicara dan
berbicara seperti ini?
Kalau itu sih sudah lama. Belum kalian lahir, saya juga sudah bisa
berbicara kok. Yang lain juga bisa berbicara. Tidak tahu, ya? Kasian deh kamu!
Memang sih kami tidak pernah bicara saat di siang hari. Karena kami menahannya.
Kalau kami bicara, wah para Boy Band
maupun Ariel Noah bakal kalah pamer
sama saya. Karena itu, kami tidak berbicara saat di siang hari. Kami hanya
berbicara di malam hari saja, saat semua orang tidak tahu dan telah tertidur
lelap. Baru kami sibuk berkicau bagai burung di pagi hari. Ya, sama lah seperti
ibu-ibu yang suka gosip gitu.
Jangan kalian samakan gosip kalian yang ada di televisi. Tapi, kami membicarakan
tentang keadaan di sekitar museum SMB II Palembang. Asal kalian tahu, kadang
kami juga sering kesal dengan tingkah laku muda-mudi sekarang ini. benar-benar
kehilangan moral. Sampai-sampai si Meriam yang di belakang museum saja pernah
liat bocah-bocah di bawah umur malah tengah bercinta. Baik malam atau pun siang
sama saja. Si Ganesha juga sering liat bocah yang suka kecing sembarangan lah,
buang sampah sembarangan, dan serba sembarangan. Apa itu tidak edan?
Tapi cerita saya agak sedikit berbeda, waktu itu, hujan rintik-rintik, kita
berteduh di bawah atapnya. Eh, maaf malah nyanyi. He..he.. he…! Waktu itu, nampak
seorang pemuda menunggu di depan saya, di tampak sedang menikmati rokok
filternya. Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Rembulan tampak mencekam
ditelan kabut suram.
Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Temannya membawa sebuah
nampan berisi kembang tujuh warna. Saya sempat bingung. Mau ngapain nih
orang-orang? Eits.. pake acara bakar menyan segala, eits.. malah baca mantera
segala. Ternyata mereka minta kaya sama saya? Hah? Bego? Minta kaya? Saya saja
tidak pernah kaya, malah tubuh saya saja tidak pernah lengkap , malah mau minta
sama saya.
Yang ada malah dedemit yang datang waktu malam itu.
“Mbah, Tolong kabulke permintaan aku ni, jadike aku ni uong kayo, punyo
bini 3 kayak Eyang Bubur itu nah..” kata
peminta satu
“Iyo, Mbah, mada’i kami beketek terus nyari duet nih? Lesu nian. Katek
nian kami penghasilan.” Kata peminta dua
“Gek, kami janji kalo kami la jadi kayo dan beduet, kami bakal kasih
persembahan besak samo Mbah Patung.”
“Jangan kan Kambing, Sapi Eropa kami siapke gek, Mbah patung.”
“Hi…hi… hi… !” terdengar tawa di balik semak
“Siapo itu ketawo? Cak cewek tawonyo tu?” kata peminta dua.
“Hah? Cewek? Mano belagak dak?”
“Neh Mesum pulok budak sikok ini, betino tula.”
“Hi… hi.. hi… Minta sama saya saja, tapi kalian jadi suami saya, ya.”
Suara seorang perempuan berbaju putih, berambut panjang, dengan wajah penuh
ulat, menampakkan diri di depan mereka.
“Astajim..! Jok.. Li..li…liat Jok! Depan kau! Demit…!” Kata peminta dua
ketakutan saat melihat demit tepat di depan mukanya.
“Ay katek-katek demit.. kito nih nyembah patung …. Wah! Demit…!” Teriak
peminta satu.
“Lari… Antu… !”
“Waaa… aaa.. ! Tolong! Woi, Kubu ini, jangan ninggalke aku dewekan, oy..”
“Ndak, ay.. aku dak galak…! Mati gek aku..” Kata peminta dua meninggalkan
peminta satu.
“Hi.. hi.. kok malah kabur sih, dak sopan nian ye, Tung, mereka tu.” Kata
demit.
“Lemak be kau ngomong, Tung, Tang, Tung. Aku ni Archa.” Kata ku yang sedikit kesal.
“Neh, memang nian kau tu patung memang apo lagi? Pager bêtes?” Cibirnya.
“Ay, nak ngajak rebot kau nih. Dak liat apo kau, aku ni jenis patung
apo?” semakin kesal.
“Iyo, kau tu patung Archa Budha, yang paling keren dan gaul cak itu nah,
tapi cacat. Hi..hi.. hi…” Semakin meledek.
“Sano-sano pegilah kau nih, ganggu
be.”
“Is, dah, Patung sikok ini. awasla, gek dak dapet bini.” Kata demit
“Ah, dak butuh aku bini, aku ni patung.”
“Yo, sudah, aku nak ke gudang di bawah museum, rombongan Mbah Jin ngajak
maen Gaplek di sano. Liatla, mereka la nyiapke kursi rapi-rapi. Tentunyo nak
nyambut artis cantik cak aku ni.” Kata demit membanggakan diri.
“Yakwa.. lentek nian antu sikok ini. Hush… hush… pegi sano, sebelum aku
bacoke mantera.”
“Berisik nian mamang patung ini” katanya sambil terbang menuju gudang
museum yang ada di lantai 1.
Sebenarnya, bukan hanya hal itu saja, masih banyak yang lain. Narkobalah,
kupu-kupu malam, sampe bocah-bocah mabok
lem Aibon. Banyak hal yang terjadi di sekitar daerah museum ini.
Kami tidak bisa banyak berbuat untuk hal seperti itu. Kami hanya bisa
membicarakannya di malam hari. Apalah artinya kami ini. Kami hanyalah benda
yang dianggap mati yang tidak bisa berbicara dan hanya sebagai benda bersejarah
saja oleh manusia.
Paling tidak kami menjadi aset budaya untuk Sumatera Selatan. Banyak yang
berfoto di sini. Bermain, bahkan bercerita tentang cinta mereka juga ada.
Sampai ada cerita rumah tangga yang berantakkan terdengar di telinga kami.
Tapi sayang, kami tidak terlalu terawat di sini. Lihat saja,
gedung-gedung yang berlumut, mebel-mebel yang tidak pernah digunakan. Bahkan
sampah yang berhamburan di sekitar museum. Kusen yang ditutupi debu dan hampit
tua, lampu yang yang rusak, bahkan air mancur bintang yang tak pernah lagi
dimanfaatkan.
Entah pengurusnya sibuk atau tidak, yang pasti kami ini hanyalah benda.
Kami terkadang merasa pilu dengan keadaan yang ada di luar SMB II, kami hanya
bisa melihat sungai Musi, orang yang lalu-lalang, para pedagang kelontong,
sampai jembatan Ampera semuanya sama. Orang-orang tidak terlalu memperhatikan
kami. Mereka hanya tertuju pada apa yang mereka percayai saja. Kekuasaan,
tahta, uang, jabatan, bahkan wanita. Semua sama, kehidupan manusiawi mereka
terlalu besar, hingga mereka tidak sadar, bahwa sesungguhnya hal itu tidak akan
pernah kekal.
Ya, yang merasa kekal, ya kekal, kayak demit tadi, selalu saja datang
menghampiri dengan menggunakan wujudnya yang sok cantik, tapi pada dasarnya
busuk. Mereka hanyalah mahluk yang belum bisa meninggalkan dunia ini, karena
ada hal yang belum tuntas sewaktu mereka hidup. Terpaksa deh, mereka
gentayangan. Tapi, mereka benar-benar menyusahkan. Ketawa nggak jelas gimana
gitu. Amit-amit deh deket-deket dengan mereka.
Paling enak itu, mereka yang tinggal di bagian dalam museum yang ada di
lantai dua. Adem, sejuk, dingin, gak kepanasan, apa lagi kehujanan. Seperti di-anak- mamakan. Sedangkan kami di-anak-tirikan. Tidak adil kan?
Itu si Keris yang berada di depan saat memasuki museum, sering meledek
kami kalau lagi hujan.
“Yang di luar tolol, yang di luar tolol, kasian deh lu… kasian deh lu..,”
katanya selalu saja berkata begitu. Kalau lagi panas, “Duh, ademnya, ada Ac,
gak kepanasan, kayak yang di luar itu, tu, terbakar matahari yang menyengat.
Sampe-sampe jamuran dan bau busuk. Ha..ha.. ha..”
Geram sering kurasa bila dia berbicara seperti itu. Kadang selalu aku
berpikir dan membayangkan bila tubuh ini lengkap dan kakiku kembali utuh, akan
kukejar dia, kutarik lalu kupatahkan, kuremas-remas hingga dia hancur
berkeping-keping. Bener-bener ngeselin. Selalu yang itu–itu saja
dibicarakannya. Ejekan – ejekannya itu benar-benar membuat hatiku sakit. Bukan
hanya saya, tapi semua aset yang ada di luar selalu ribut membicarakan si Keris kecil itu. Sampai-sampai dia
mendapatkan julukan “Si Keris Bacot
Kompor Meleduk”. Benar-benar sesuatu deh.
Huft.. Sudah berapa lama saya
berbicara, ya? Kebanyakan mulut juga ya ternyata saya ini. He..he..he…! Memang
kalian percaya saya bicara begini? Memang saya bicara sebenarnya? Kalian yang
tolol atau saya yang tolol? Mau tahu jawabannya? Oh.. tidak bisa. Tanyakan saja
pada rumput yang bergoyang.
Nyanyi lagi ah, “~Mungkin Tuhan
mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan
dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita tanyakan pada
Archa yang bergoyang~ Dududu~ Dududu~ dududu~…”
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Karya:
Daruhiko Ahmad
(Ahmad
Badarudin)
2010112094
Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia
Menulis
Karya Sastra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar