Rabu, 23 Oktober 2013

Cerpen


Lawak

“~Widuri…. Elok bagai rembulan…. Oh Sayang… ~Widuri… kuakan menyayangi~…”
“~La…la… la…~”
Eh… Maaf ternyata aku sedang diperhatikan, ya? Ehemm.. hmm.. Bagaimana? Baguskah suara saya? Ya, suara saya? Ah, bilang saja bagus. Jangan susah-susah dibahaslah. Tapi, sebelumnya, apa kalian tahu siapa aku ini? Ayo, coba tebak siapa aku? Nah.. Ternyata kalian saja tidak tahu siapa aku. Ya sudahlah, aku akan memperkenalkan diriku. Tidak lihat nama saya terpampang jelas di samping Museum SMB II Palembang? Nama saya adalah Archa Budha. Saya adalah patung. Terbuat dari Batu Granit. Ya, saya sudah dibuat pada zaman nenek moyang kalian. Zaman kerajaan Sriwijaya saya sudah ada.
Awalnya saya ditemukan hanya dalam bentuk kepala. Jadi, saya dipindahkan  ke museum nasional di Jakarta. Lalu, beberapa bagian tubuh saya akhirnya di temukan lalu disatukan kembali. Akhirnya saya diletakkan di Museum Sultan Mahmud Badarudin II. Ya, meski pun kondisi saya tidak dalam keadaan utuh.Hanya sebagian tubuh saya saja yang di temukan, seperti, badan dan lengan saya. Jadinya, saya tidak keren donk. Tapi, suara saya tetap “cetar membahana badai berduar-duar”! ya, kan?
Tapi, saya di sini bukan ingin membahas pribadi saya atau pun keadaan saya. Lagi pula banyak kok patung-patung lain seperti saya, ada si Ganesha, si Singa, dan teman-teman yang lain si Meriam di depan, si air mancur, dan si  kembar anak tangga museum. Banyak kok. Sumpah. Yang kalian bingungkan itu apa sih? Tunggu sebentar. Tunggu ya, saya lagi berpikir, mau tebak kalian mau jawab apa. Eits…! Pasti kalian mau bilang Pemilu tahun ini ricuh? Iya, kan? Hah? Salah? Kok bisa? Jadi apa dong? Oh itu .. Mengapa saya bisa bicara dan berbicara seperti ini?
Kalau itu sih sudah lama. Belum kalian lahir, saya juga sudah bisa berbicara kok. Yang lain juga bisa berbicara. Tidak tahu, ya? Kasian deh kamu! Memang sih kami tidak pernah bicara saat di siang hari. Karena kami menahannya. Kalau kami bicara, wah para Boy Band maupun Ariel Noah bakal kalah pamer sama saya. Karena itu, kami tidak berbicara saat di siang hari. Kami hanya berbicara di malam hari saja, saat semua orang tidak tahu dan telah tertidur lelap. Baru kami sibuk berkicau bagai burung di pagi hari. Ya, sama lah seperti ibu-ibu yang suka gosip gitu.
Jangan kalian samakan gosip kalian yang ada di televisi. Tapi, kami membicarakan tentang keadaan di sekitar museum SMB II Palembang. Asal kalian tahu, kadang kami juga sering kesal dengan tingkah laku muda-mudi sekarang ini. benar-benar kehilangan moral. Sampai-sampai si Meriam yang di belakang museum saja pernah liat bocah-bocah di bawah umur malah tengah bercinta. Baik malam atau pun siang sama saja. Si Ganesha juga sering liat bocah yang suka kecing sembarangan lah, buang sampah sembarangan, dan serba sembarangan. Apa itu tidak edan?
Tapi cerita saya agak sedikit berbeda, waktu itu, hujan rintik-rintik, kita berteduh di bawah atapnya. Eh, maaf malah nyanyi. He..he.. he…! Waktu itu, nampak seorang pemuda menunggu di depan saya, di tampak sedang menikmati rokok filternya. Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Rembulan tampak mencekam ditelan kabut suram.
Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Temannya membawa sebuah nampan berisi kembang tujuh warna. Saya sempat bingung. Mau ngapain nih orang-orang? Eits.. pake acara bakar menyan segala, eits.. malah baca mantera segala. Ternyata mereka minta kaya sama saya? Hah? Bego? Minta kaya? Saya saja tidak pernah kaya, malah tubuh saya saja tidak pernah lengkap , malah mau minta sama saya.
Yang ada malah dedemit yang datang waktu malam itu.
“Mbah, Tolong kabulke permintaan aku ni, jadike aku ni uong kayo, punyo bini 3 kayak Eyang Bubur itu nah..” kata  peminta satu
“Iyo, Mbah, mada’i kami beketek terus nyari duet nih? Lesu nian. Katek nian kami penghasilan.” Kata peminta dua
“Gek, kami janji kalo kami la jadi kayo dan beduet, kami bakal kasih persembahan besak samo Mbah Patung.”
“Jangan kan Kambing, Sapi Eropa kami siapke gek, Mbah patung.”
“Hi…hi… hi… !” terdengar tawa di balik semak
“Siapo itu ketawo? Cak cewek tawonyo tu?” kata peminta dua.
“Hah? Cewek? Mano belagak dak?”
“Neh Mesum pulok budak sikok ini, betino tula.”
“Hi… hi.. hi… Minta sama saya saja, tapi kalian jadi suami saya, ya.” Suara seorang perempuan berbaju putih, berambut panjang, dengan wajah penuh ulat, menampakkan diri di depan mereka.
“Astajim..! Jok.. Li..li…liat Jok! Depan kau! Demit…!” Kata peminta dua ketakutan saat melihat demit tepat di depan mukanya.
“Ay katek-katek demit.. kito nih nyembah patung …. Wah! Demit…!” Teriak peminta satu.
“Lari… Antu… !”
“Waaa… aaa.. ! Tolong! Woi, Kubu ini, jangan ninggalke aku dewekan, oy..”
“Ndak, ay.. aku dak galak…! Mati gek aku..” Kata peminta dua meninggalkan peminta satu.
“Hi.. hi.. kok malah kabur sih, dak sopan nian ye, Tung, mereka tu.” Kata demit.
“Lemak be kau ngomong, Tung, Tang, Tung. Aku ni Archa.”  Kata ku yang sedikit kesal.
“Neh, memang nian kau tu patung memang apo lagi? Pager bêtes?” Cibirnya.
“Ay, nak ngajak rebot kau nih. Dak liat apo kau, aku ni jenis patung apo?” semakin kesal.
“Iyo, kau tu patung Archa Budha, yang paling keren dan gaul cak itu nah, tapi cacat. Hi..hi.. hi…” Semakin meledek.
“Sano-sano  pegilah kau nih, ganggu be.”
“Is, dah, Patung sikok ini. awasla, gek dak dapet bini.” Kata demit
“Ah, dak butuh aku bini, aku ni patung.”
“Yo, sudah, aku nak ke gudang di bawah museum, rombongan Mbah Jin ngajak maen Gaplek di sano. Liatla, mereka la nyiapke kursi rapi-rapi. Tentunyo nak nyambut artis cantik cak aku ni.” Kata demit membanggakan diri.
“Yakwa.. lentek nian antu sikok ini. Hush… hush… pegi sano, sebelum aku bacoke mantera.”
“Berisik nian mamang patung ini” katanya sambil terbang menuju gudang museum yang ada di lantai 1.
Sebenarnya, bukan hanya hal itu saja, masih banyak yang lain. Narkobalah, kupu-kupu malam, sampe bocah-bocah mabok lem Aibon. Banyak hal yang terjadi di sekitar daerah museum ini.
Kami tidak bisa banyak berbuat untuk hal seperti itu. Kami hanya bisa membicarakannya di malam hari. Apalah artinya kami ini. Kami hanyalah benda yang dianggap mati yang tidak bisa berbicara dan hanya sebagai benda bersejarah saja oleh manusia.
Paling tidak kami menjadi aset budaya untuk Sumatera Selatan. Banyak yang berfoto di sini. Bermain, bahkan bercerita tentang cinta mereka juga ada. Sampai ada cerita rumah tangga yang berantakkan terdengar di telinga kami.
Tapi sayang, kami tidak terlalu terawat di sini. Lihat saja, gedung-gedung yang berlumut, mebel-mebel yang tidak pernah digunakan. Bahkan sampah yang berhamburan di sekitar museum. Kusen yang ditutupi debu dan hampit tua, lampu yang yang rusak, bahkan air mancur bintang yang tak pernah lagi dimanfaatkan.
Entah pengurusnya sibuk atau tidak, yang pasti kami ini hanyalah benda. Kami terkadang merasa pilu dengan keadaan yang ada di luar SMB II, kami hanya bisa melihat sungai Musi, orang yang lalu-lalang, para pedagang kelontong, sampai jembatan Ampera semuanya sama. Orang-orang tidak terlalu memperhatikan kami. Mereka hanya tertuju pada apa yang mereka percayai saja. Kekuasaan, tahta, uang, jabatan, bahkan wanita. Semua sama, kehidupan manusiawi mereka terlalu besar, hingga mereka tidak sadar, bahwa sesungguhnya hal itu tidak akan pernah kekal.
Ya, yang merasa kekal, ya kekal, kayak demit tadi, selalu saja datang menghampiri dengan menggunakan wujudnya yang sok cantik, tapi pada dasarnya busuk. Mereka hanyalah mahluk yang belum bisa meninggalkan dunia ini, karena ada hal yang belum tuntas sewaktu mereka hidup. Terpaksa deh, mereka gentayangan. Tapi, mereka benar-benar menyusahkan. Ketawa nggak jelas gimana gitu. Amit-amit deh deket-deket dengan mereka.
Paling enak itu, mereka yang tinggal di bagian dalam museum yang ada di lantai dua. Adem, sejuk, dingin, gak kepanasan, apa lagi kehujanan. Seperti di-anak- mamakan. Sedangkan kami di-anak-tirikan. Tidak adil kan?
Itu si Keris yang berada di depan saat memasuki museum, sering meledek kami kalau lagi hujan.
“Yang di luar tolol, yang di luar tolol, kasian deh lu… kasian deh lu..,” katanya selalu saja berkata begitu. Kalau lagi panas, “Duh, ademnya, ada Ac, gak kepanasan, kayak yang di luar itu, tu, terbakar matahari yang menyengat. Sampe-sampe jamuran dan bau busuk. Ha..ha.. ha..”
Geram sering kurasa bila dia berbicara seperti itu. Kadang selalu aku berpikir dan membayangkan bila tubuh ini lengkap dan kakiku kembali utuh, akan kukejar dia, kutarik lalu kupatahkan, kuremas-remas hingga dia hancur berkeping-keping. Bener-bener ngeselin. Selalu yang itu–itu saja dibicarakannya. Ejekan – ejekannya itu benar-benar membuat hatiku sakit. Bukan hanya saya, tapi semua aset yang ada di luar selalu ribut membicarakan  si Keris kecil itu. Sampai-sampai dia mendapatkan julukan  “Si Keris Bacot Kompor Meleduk”. Benar-benar sesuatu deh.
Huft.. Sudah berapa lama saya berbicara, ya? Kebanyakan mulut juga ya ternyata saya ini. He..he..he…! Memang kalian percaya saya bicara begini? Memang saya bicara sebenarnya? Kalian yang tolol atau saya yang tolol? Mau tahu jawabannya? Oh.. tidak bisa. Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.
Nyanyi lagi ah, “~Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita tanyakan pada Archa yang bergoyang~ Dududu~ Dududu~ dududu~…”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Karya: Daruhiko Ahmad
(Ahmad Badarudin)
2010112094

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Menulis Karya Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar