Jumat, 20 Desember 2013

KUMPULAN CERPEN MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIV. PGRI PALEMBANG


DI BALIK KEBAYA PUTIH
Ya ampun.......aku menjerit di sore itu, hari ini aku ada janji dengan teman lamaku untuk bertemu di Museum Sultan Mahmud Badarudin II Palembang. Pasti dia sudah lama menunggu, kemudian aku bergegas melihat jam tanganku yang jelek berwarna hitam, ternyata sudah pukul 5 sore. Lalu aku mandi dan berganti pakaian sesuai dengan keinginanku, aku berpikir sejenak, “apakah aku harus datang dengan terlambat atau tidak sama sekali.” Tapi rasanya aku kasihan dengan temanku, mungkin ia sudah lama menunggu kedatanganku di sana. Akhirnya aku berniat untuk datang meskipun telah mengecewakannya terlalu lama menunggu.
Ketika aku ingin berangkat keluar rumah, tiba-tiba HP kesayanganku bergetar, kring...kring...kring... ibuku menelpon agar aku menjeput adikku di sekolah, aku menjadi delima, aku ingin membangkang orang tuaku aku tidak sanggup. Kalau dituruti temanku pasti marah dan kecewa kepadaku, lagipula ini kesempatan pertama kali temanku mengajak bertemu setelah berapa tahun kami tidak bertemu.
Aku terdiam tidak bisa berbuat apa-apa, waktu terus berjalan, detik berlalu berubah menjadi menit. Sore ini tidak seindah yang aku bayangkan pagi tadi, ternyata aku bertemu dengannya hanya di dalam mimpi, aku terlena dengan keindahan bunga tidur sehingga aku semakin terlelap dibawa oleh mimpi tersebut, ketika bangun waktu sudah hampir habis dan kesempatanku terbatas.
Tok...tok...toook...
Assalamuallaikum Wr. Wb
Adikku pulang dari sekolah!!!
Aku kembali semangat untuk pergi menemui temanku, tanpa berkata apa-apa aku langsung pergi menemui dengan gembira, adikku bertanya “mau pergi ke mana” aku hanya tersenyum dan bilang “jangan banyak tanya”. Tidak berapa lama kemudian aku tiba di museum tempat kami janjian, ku lihat dari kejauhan sekitar halaman museum, tampak sepi tidak ada lagi orang yang duduk di sekitar halaman museum.
Aku berputus asa dan menyesali semua keteledoran waktu, secara tidak sengaja aku melihat di bawah pohon palem dekat patung arca ada seorang wanita cantik yang duduk menghadap ke arah Jembatan Ampera dengan wajah yang tegang melihat gemerlip lampu penerangan jembatan. Ternyata dia adalah Raisyah temanku, dia tersenyum melihat kedatanganku dan memandangku dengan tatapan mata yang tajam seperti sinar batu kristal yang cemerlang. Tanpa mengulur waktu aku langsung mendekatinya, dan menintah maaf atas keterlambatanku, “aku tadi ketiduran, jadi lupa akan janji kita di sini untuk bertemu”. Dia pun menjawab dengan tersenyum “tidak apa, aku juga maklum dari kamu tidak datang sama sekali”.
Aku tahu ia sudah lama menunggu, tapi ia tidak sedikitpun merasa bosan untuk menanti kedatanganku yang dianggapnya sebagai teman baik saat masih di bangku sekolah SMP dulu, kenangan beberapa tahun yang lalu ketika itu kami berdua masih sama-sama di suatu sekolah yang penuh sejarah perjalan hidup pendidikanku. Setelah lama tidak bertemu Raisyah 100% berubah begitu cantik, putih, dan anggun, mungkin karena ia tinggal di Jakarta bersama orang tuanya sedangkan aku berubah menjadi hitam dan jelek.
Adzan Maghrib pun bergemah di masjid tercinta, tanda hari sudah mulai malam dan matahari telah menyembunyikan sinarnya yang begitu cerah menerangi kota Palembang. Kami berdua belum mau untuk pulang ke rumah masing-masing, karena masih ingin menghabiskan waktu bersama-sama, berdua dan mengingat masa kecil dulu selalu bermain bersama. Sambil duduk di bawah pohon, ia menceritakan kehidupannya selama di Jakarta, kami sudah lama tidak bertemu terakhir saat sekolah mengadakan perpisahaan dan pembagian raport tanda kelulusan peserta didik.
Raisyah adalah salah satu teman yang paling baik di kelas, kemanapun aku pergi dia ada di sampingku waktu di SMP dulu. Kini kami dipertemukan kembali dengan usia yang sudah remaja dewasa, bercanda dan tertawa terbahak-bahak ketika mengingat cerita waktu masih kanak-kanak. Tidak terasa waktu sudah mulai malam, burrung-burung di sekitar museum mulai bernyanyi di dalam sangkarnya.
Aku memandang ke depan ada seorang nenek yang sedang menagis, ketika melihat kami duduk berdua dengan mesra dan selalu tersenyum saling memandangi dan beratatap mata. Kami berdua berinisiatif untuk menemui nenek tersebut dan ternyata setelah kami temui, nenek tersebut merasa sedih ketika ia mengingat masa mudanya bersama seorang remaja. Mereka sering duduk dan bertemu di sini, hal itulah membuat sang nenek merasa sedih ketika nenek melihat dua remaja yang sedang duduk berpasang-pasanagan.
Nenek yang umurnya sekitar 65 tahun ini bercerita betapa kuatnya rasa cinta yang bertemu di sini, pada waktu itu usia nenek sedang memasuki usia puber 17 tahun, ia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah dan berani, pangeran yang datang dari langit diciptakan untuk nenek. Kemudian di tempat inilah pangeran itu mengucapkan rasa cintanya kepada nenek yang tidak kalah cantik, mereka menjalin hubungan dengan diam-diam, karena orang tua nenek tidak menyetujui hubungan mereka.
Karena perbedaan derajat keluarga, nenek berasal dari golongan bangsawan sedangkan kakek dari golongan keluarga yang tidak punya apa-apa, untuk mencukupi makan sehari-hari kakek harus berjuang dengan sekuat tenaga. Dari perbedaan itulah nenek dan kakek tidak direstui untuk menjalin hubungan, restu orang tua tidak membuat keduanya patah semangat dalam menjalani rasa cinta dan kasih sayang. Tanpa restu itu membuat mereka semakin hebat dan erat tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun termasuk kedua orang tua mereka.
Karena merasa sudah menemukan cintah sejati, akhirnya mereka berdua ingin melanjutkan hubungan mereka ke yang lebih serius yaitu pernikahan meskipun tanpa restu dari orang tua nenek. Di acarah pernikahannya nenek menangis karena tidak satupun keluarganya yang datang ke acarah pernikahannya. Setelah menikah dengan kakek, nenek pun dikucilkan dari keluarga besarnya. Akan tetapi mereka hidup dengan sederhana dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tetapi tekanan batin nenek masih membekas di hatinya. Meskipun nenek juga merasa nyaman bisa hidup dengan seorang lelaki idamannya, baik, dan bahkan di dalam rumah tangganya tidak ada sedikitpun pertengkaran yang terjadi, mereka hidup damai, nyaman, dan tentram walaupun hidup seadanya.



Kehidupan rumah tangga mereka terganggu dengan serakahnya keluarga nenek yang tidak ikhlas jika nenek hidup dengan kekurangan, sedangkan mereka tahu keseharian nenek mau mintah apa pun di kasih oleh orang tuanya. Ada salah-satu kakak dari nenek yang ingin mengajak nenek untuk pergi meninggalkan kakek dan pulang ke rumahnya tinggal bersama keluarganya lagi dan berniat untuk menceraikan nenek, tanpa rasa takut nenek membantah kakaknya untuk tidak menuruti semua keinginan kakaknya itu. Kakaknya langsung marah dan mengancam akan selalu mengganggu kehidupan rumah tangga mereka.
            Setiap hari nenek merasa sedih apabila mengenang nasibnya yang tidak direstui oleh keluarganya, tapi semua itu tanpa pengetahuan kakek. Karena ia tidak ingin kakek tahu bahwa ia merasa terbebani, dan ia tidak ingin mengingkari janji mereka berdua apapun yang terjadi mereka akan selalu tetap bersama sekalipun badai menghantam keluarga mereka yangs sederhana ini, mereka akan tetap bersama. Itu semua terbukti dengan keadaan rumah tangga mereka yang masih terjaga dengan baik, meskipun tanpa dukungan dari keluarga nenek, mereka masih bisa hidup di dunia ini.
            Sebagai anak yang berbakti nenek merasa bersalah dengan keputusannya telah pergi meninggalkan keluarganya, tapi apalah daya nenek sudah berapa kali datang menghadap ayah dan ibunya untuk memintah maaf sekaligus memohon restu agar mereka berdua bisa dijadikan bagian dari keluarga besar ayahnya. Namun usaha itu sia-sia, ayahnya masih tetap tegar dengan keputusannya, bahkan berniat akan membunuh suami nenek dengan tujuan agar nenek tidak bisa bertemu lagi dengan kakek. Ayahnya berkata seperti itu tidak main-main, nenek semakin bersujud di kaki ayahnya untuk memohon agar tidak melakukan perbuatan jahat itu kepada suaminya tercinta.
            Kesesokan harinya ayahnya murkah kepada nenek, ayahnya datang ke rumah nenek yang sederhana itu untuk menjemput nenek agar tinggal bersama mereka. Akan tetapi kakek tidak diizinkan untuk ikut tinggal bersama mereka, perlawanan sudah dilakukan nenek tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Nenek pun dibawa ke rumah orang tuanya, dan kakek terpaksa harus membiarkan nenek pergi meninggalkannya sendirian. Berbulan-bulan kakek menungguh kabar dari nenek, begitu juga dengan nenek yang menangis setiap malamnya memikirkan keadaan kakek dari kejauhan.


            Setelah berepa bulan kemudian ayah nenek berniat untuk membunuh suami nenek, dengan alasan mengirimkan surat kepada kakek bahwa nenek ingin bertemu dengan kakek di sebuah tempat yaitu di Museum Mahmud Badarudin II, dengan senang hati kakek datang tanpa rasa ragu sedikitpun dan kakek juga tidak mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh oleh sang mertuanya sendiri. Begitu juga dengan nenek tidak mengetahui rencana ayahnya untuk membunuh suami tercintanya itu.
            Kakek berangkat dengan rasa gembira bahwa ia ingin bertemu dengan istrinya yang terpisah beberapa bulan lalu. Tiba di sana kakek langsung diserang oleh anak buah suruhan ayah nenek, akhirya kakek tidak bisa tertolong dan langsung meninggal di bawah pohon tempat mereka pertama kali bertemu dengan nenek, kakek meninggal pada hari itu. Anak buah ayahnya langsung melaporkan hasil kerja mereka. Nenek pun menguping pembicaraan mereka dan nenek langsung menangis dan memukul ayahnya dan berkata “Ayah kejam, biadad...sungguh teganya ayah menghancurkan kebahagianku”. Nenek langsung pergi menemui jasad suaminya itu.
            Dari kejadian itulah nenek setahun sekali datang ke tempat ini untuk mengenang peristiwa kematian suaminya tercinta dan nenek akan selalu menangis apabila melihat ada anak muda yang sedang duduk berdua di sini. Nenek takut nanti kebahagian mereka akan berakhir seperti nenek dahulu, “Nenek berpesan kepada kalian jangan samapai kalian berdua mengalami seperti kejadian yang pernah nenek alami beberapa puluh tahun yang lalu”. Begitu sedihnya aku mendengar cerita nenek, sampai-sampai kami berdua juga ikut meneteskan air mata.

            Sungguh ini kejadian yang tragis, kisah cinta yang tidak direstui. Memang masih banyak peristiwa itu terjadi sampai saat ini. Aku juga mengatakan kepada Raisyah bahwa “Apabila kita nanti menjalin hubungan jangan sampai kita mengalami hal seperti itu”. Dengan terbahak-bahak Raisyah tertawa dengan perkataanku tadi, “aku langsung menyapa mengapa engkau tertawa”? “Apakah engkau tidak ingin menjalin hubungan denganku”? tanyaku sambil menundukan kepala. Raisyah menjawab “Bukan begitu, aku cuma tidak ingin kalau kita menjadi seperti kisah nenek itu tadi”. “Oh...aku kira kamu tidak mau suka dengan perkataanku tadi” jawabku dengan lantang dan percaya diri, bahwa ada harapan Raisrah akan mau menjadi pacarku setelah kami sudah lama berteman.
Karya: Antedi

Kabut Masa Lalu

Matahari belum tinggi. Namun sinar itu sudah menyilaukan mata. Cahaya redup yang menembus dari celah langit-langit rumah, mau tak mau membuat penghuni di dalamnya terjaga. Kokok ayam itupun menadakan pagi telah datang.
Ambran bergegas bangun dari tempat tidurnya. Menuju keran yang ada di belakang, berwudhu, lalu khusyuk dalam solat dua rakaat itu.
Jarum jam menunjukan pukul lima lewat lima belas menit. Traning hitam telah terpakai, kaos oblong pun sudah melekat di badan. Dengan sebuah tas ransel kecil, Mbran memasukan kamera ke dalamnya. Mengikat tali sepatu dan berlari kecil menuju Benteng.
Langkahnya terhenti, keringat yang mulai menetes dari pelipisnya, diusap seketika. Ambran melonggo. Secepat kilat ia membalikan badan. Berjalan setengah berlari, lebih cepat dari sebelumnya.
Astaga! Pintu rumahku belum terkunci!
*****
Ambarn berjalan berlari kecil melintasi belakang gedung kantor walikota Palembang. Menembus jalan melewati lorong Sekanak. “Jalan tikus  juga masih ada di tempat seperti ini”. Ambran menggumam.
Pagi yang segar mengantar langkah kaki Ambran ke arah Museum di B Benteng Kuto Besak. Salah satu tempat wisata yang terletak di tengah kota Palembang. Ambran mengamati sekeliling, sambil sesekali melakukan pemanasan badan.
Kreeekk!!
Bunyi derit pintu itu terdengar pilu di telinga.
Reflek, Ambran menoleh ke arah suara.
Ya, begitulah bila tempat bersejarah yang kurang terawat. Padahal tempat ini begitu banyak menyimpan aset sejarah puluhan tahun lalu, tapi entah mengapa pemerintah seolah enggan, untuk terus memperhatikannya.
Seorang lelaki paruh baya masuk kedalam ruangan itu. Menggambil sapulidi dan keluar kembali.
Srekk.. srekkk.. srekkk.
Gerakannya lamban, namun suaranya terdengar jelas. Sedikit demi sedikit tumpukan daun kering itu terkumpul pada satu tempat. Halaman ini,meski bersih, besar, dan rapi, tetapi tak banyak menarik perhatian pengunjung untuk datang.
Seharusnya tempat ini ramai akan penduduk lokal. Biaya ongkos masuknya pun tak mahal, hanya dua ribu rupiah. Tak bisa dipastikan dengan jelas pula, mengapa museum yang terletak di tengah kota ini menjadi tidak begitu diminati masyarakat lokal.
Pak Rahmadi, yang biasa disapa pak Adi ini, merupakan seorang petugas kebersihan museum Sultan Mahmud Badarudin, yang ada di kota Palembang. Usianya yang telah lebih dari separuh abad menandakan bahwa bangunan itu juga sudah lebih tu dari usianya sendiri.
Lima belas menit kemudian aktivitasnya berhenti. Ia kemuadian berjalan mnuju sebuah jalan stapak dari samping kanan banguna. Duduk di sebuah meja bawah pohon akasia, menunggu pesanan lontong sayur, menu sarapannya pagi ini.
Amran menghentikan jepretan kameranya setelah aktivitas orang itu pun berakhir. Meletakan benda itu kembali ke dalam ransel, Kemudian lahap dalam menu makannya pagi ini.
*****
Semangkuk bubur ayam itu telah lama kosong. Air teh hangat itu juga telah mencapai pada tegukan terakhir. Namun Amran masih duduk di sudut meja sebelah kiri warung. Matanya liar menjelajah setiap yang tertagkap oleh pengelihatannya. Lalu berhenti pada satu tempat.
Ia bangkit berdiri, membayar makanan itu dengan beberapa lembar uang ribuan.
Langkahnya yang pelan dan tegas itu diirigi derai suara burung-burung kecil yang beterbangan dari sebelah utara.
Kicau burung yang saling bersahutanmenambah segar suasana di pukul delapan pagi ini. Arloji bermerk itu tampak berkilau terkena sinar yang menyusup tipis dari cela pepohonan.
Sambil bersiul santai, ia masih berjalan. Amran memasukan kedua telapak tangannya pada saku celananya. Langkahnya pelan. Sungguh menawan.
Sesaat langkahnya terhenti. Kembali kamera kesayangannya bekerja. Sayang bila momen seindah pagi ini dilewatkan. Puncak jembatan Ampera yang muncul dari balik rimbunan pohon-pohon besar menambah nilai estetik tersendiri bagi orang-orang pencinta seni seperti dirinya.
Satu dua kali, Amran mengakhiri kegiatannya.
Menit berikutnya, Amran kembali menikmati pemandangan dengan menghabiskan segelas es kelapa muda. Waktu memang belum tepat pukulsembilan, tapi keringat sudah lumayan membanjir di sekujur tubuh.
Hanya berjalan berkeliling luar bangunan ini saja, sudah membuat lelah. Gumamnya dalam hati. Amran tersenyum, membayangkan perkataannya sendiri.
*****
Potret kehidupan kota Palembang telah berubah dalam kurun waktu yang singkat. Yah, kurang lebih hanya satu tahun yang lalu. Ketika Amran memutuskan untuk pergi merantau ke Yogyakarta. Melanjutkan studinya di kota pelajar itu.
Museum ini, langkah awalnya kembali untuk meneruskan budaya daerahnya yang telah lama tertinggal. Tempat ini asri, bersih, namun jarang terjamah oleh orang-orang.
Lari kecil lagi. Joging kembali ia tekuni.
Tiiiiiinnn......!!!!
Klakson panjang terdengar nyaring. Seluruh orang yang berlalu lalang, serentak menoleh ke arah yang sama. Amran pucat. Peluhnya membanjir. Ya tuhan, nyaris saja nyawanya melayang.
Mulut mobil itu sangat tipis menyentuh kaki Amran. Kalau saja derit rem supir itu tidak ahli, bisa dipastikan, detik ini ia sudah tidak bernyawa lagi.
Heiii...!! punya mata tidak?! Kau pikir ini jalan nenek moyangmu apa? Kalau mau nyebrang itu liat-liat. Dasar tidak punya otak!
Sopir angkot itu mamaki dengan sumpah serapahnya. Amran hanya diam di tempat, membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi. Mukanya jelas masih memucat.
*****
Air mineral dalam botol itu sudah habis setengahnya. Jantung Amran masih cepat berpacu. Irama dan detaknya tak beraturan. Kaos putih itu sudah kotor dimana-mana. Pulang rasanya jauh lebih baik.
Sekali lagi berputar menggelilingi serambi luar museum ini. Sayang Ambran tak masuk ke dalam. Ia datang di hari libur nasional, bahkan penjaga museum itu pun tak mengizinkan para wisatawan yang berkunjung untung masuk. Ya, hanya sebatas melihat-lihat di luar pelataran.
Asyik dengan pemandangan sekitarnya, sebuah suara datang tepat menuju kepadanya.
“Kau Ambran kan?” Ah, tak salah lagi, kau pasti Amran.
Ambran mengeryitkan dahi.
Senyum kecil kembali ia pancarkan. Tak ada yang ia katakan ia katakan. Ambran berpikir.
Siapa orang itu, ucapnya dalam hati.
Ayolah kawan, secepat itukah kau lupa padaku? Orang itu berseru kembali, membuyarkan lamunan Ambran.
Kerut di dahinya semakin banyak. Semakin keras ia berpikir. Seseorang yang menarik perhatiannya. Orang itu seolah tak asing.
Amran lupa orang itu, tapi ia tau, orang itu juga mengenalnya.
Aku Sardi. Teman SMA-mu dulu.
Sardi, teman sekolahku dulu? Apa iya. Ambran berkecamuk lagi dalam pikirannya.
Apa kabarmu kawan? Orang yang mengaku bernama Sardi itu menjabat tangan Ambran. Bagaimana studimu di kota pelajar. Kudengar kau semakin sukses sekarang. Sardi terus bercakap sambil mengajak Ambran duduk di pinggiran sungai musi.
Kau tau Am, beginilah hidupku sekarang. Selepas masa sekolah kita tahun lalu, aku bekerja sebagai pengemudi kapal ketek ini. Kerjaku mengantar para wisatawan keliling sunagi musi, hingga sampai ke pulau kemarau. Begitulah setiap harinya. Bila sedang ramai pengunjung di hari libur, omset yang aku terima bisa melebihi target. Tapi, bila sedang sepi, seharipun pernah tak kudapatkan.
Ambran diam mendengarkan dengan cermat cerita kawan lamanya itu.
Oh ya, aku lupa, kau sudah terlalu banyak mendengar ceritaku. Namun tentu kau masih belumingat padaku. Tak apalah. Wajar jika teman lama yang sudah sekian bulan merantau, akhirnya lupa pada teman sejawat.
Sardi tertawa getir. Entah apa yang ia tertawakan.
Kau beruntung kawan. Hidupmu bisa sukses sekarang. Memang belum lama kau merantau, namun laju kehidupanmu sudah bisa ditebak. Sedangkan aku, hanya meneruskan pekerjaan orang tua. Sardi tersenyum pahit.
Jikalau ada yang bisa aku lakukan, aku sangat ingin membantumu teman, akhirnya Ambran buka suara.
Tak perlulah. Begini juga hidupku sudah cukup. Aku hanya tak ingin menjadi beban orang lain. Tapi ingat, kalau ada “lokak, bebagilah dengan kawan[1]Sardi tertawa lagi. Ambaran pun ikut tersenyum.
Lalu, apa aku tidak mengganggu waktu kerjamu hari ini Sar. Maaf  mungkin aku butuh waktu lebih lama lagi  untuk mengingatmu. Namun aku tau, dulu aku memang pernah mengenalmu.
*****
Arloji Ambran bergerak menunjukan pukul sepuluh pagi. Terik matahari menyengat ke pori-pori kulit. Kulitnya yang putih, nampak kemerahan. Setelah pertemuannya dengan sardi tadi, membuatnya mengenang kisah lama. Sehelai kisah klasik di tahun sebelumnya.
Di sudut taman museum itu, dua orang muda-mudi saling diam. Terpekur dalam pikiran masing-masing. Masih terekam jelas diingatan Ambran, masa lalunya bersama Viona.
Saat itu, tiga hari sebelum kepergian ke kota Yogya, Ambran menemui gadis manis itu. Hanya sekedar mengucapkan kata perpisahan.
Kau serius Am, apa tidak ada pilihan lain. Beasiswa itu benar-benar ingin kau ambil. Ambran melihat setitik butir yang mengalir dari sudut mata gadis itu.
Aku yakinVi, keputusanku sudah bulat, orang tuaku sangat mengaharapkan keberhasilanku dikota itu. Kuharapkau mau mengerti.
Viona terisak, diam dengan butiran kristal yang terus mngalir.
Ambran tersenyum mengenang cinta lamanya. Begitu banyak yang dia temui. Satu tahun membuatnya meninggalkan kenangan begitu banyak di sekitar museum dan pesisir sungai ini.
Larut dalam lamunan, tiba-tiba tubuhnya limbung.
“Aduh!” Ambran meringis kesakitan. Tangannya mengusap-usap pergelangan kakinya. Sedikit darah segar terlihat mengalir keluar dari celah lukanya.
Sial! Ambran mengerutu.
*****
Belum satu hari di tempat ini, banyak sekali kejadian yang aku alami. Dasar nasib.
Ambran berjalan terpincang-pincang menuju tepi pinggiran jalan.
Setelah bertemu teman lama, tersandung batu karena lamunan tentang gadis masa lalu, terus apa lagi yang akan menimpaku saat ini? Ah! Persetan! Ambran menyumpah.
Ujung jarinya masih berdarah. Warnanya merah nyaris mebiru. Oh tuhan.
Hei, bisa rapi kah kau berkerja! Seru seorang kuli bangunan dari atas itu.
Hah! Kesialan apa lagi yang akan aku dapatkan di sini. Bisa mati kali ini kalu sampai tertimpa batako bangunan ini.
Ambran berdiri lagi. Berjalan perlahan. Mencari tempat yang lebih aman.
Ia berjalan memutar arah, menuju terminal angkutan umum.
Kurasa, jam sepuluh sudah waktunya untuk pulang.
*****
Sebuah angkot berhenti di depan Ambran. Ia masuk ke dalam dan mencari tempat paling pas untuk menyendiri.
Ambran terkekeh dalam hati. Seorang pemuda yang pergi joging sendirian di  kota Palembang. Yang awalnya berniat untuk kesehatan badan. Akhirnya pulang naik sebuah angkot dengan membawa luka di pergelangan kaki dengan seribu peristiwa aneh yang terjadi.
Hah, lucu sekali!
Satu tahun itu hanaya hitungan hari. Sudah begini banyakkah perubahan yang terjadi. Ambran mendumal.
Mungkin palembang memang bukan tempatku lagi. Hidupku sudah jauh di kota orang. Di daerah perlajar di pulau seberang.
Memang benar, mana mungkin aset budaya daerah sendiri bisa berkembang, jika anak-anak muda d dari daerah asalnya sendiri lebih memilih hidup merantau ke tempat lain.
*****
Antrian angkot itu telah penuh. Mobil itu mulai bergerak perlahan. Meninggalkan daerah sekitar museum Benteng Kuto Besak dan pinggiran sungai musi dibawah jemabatan Ampera. Entah kapan lagi ia akan kembali ke tempat ini.
Yang pasti, sore nanti merupakan jadwal keberangkatannya kembali keYogya.
Kabut menghilang. Matahari sudah di atas kepala. Perjalanan berakhir. Ambran dan kota Palembang hanya sekilas kisah masa lalu. Tentang Sardi teman masa sekolahnya. Tentang Viona, seorang gadis cinta pertamanya. Dan tentang dirinya dengan semua kesialannya.
Tuhan, begitu indah cerita yang kau rangkai hari ini.
*****


[1] Lowongan kerja, berbagilah dengan teman.
Karya: Retno :Larasati P.


“Selamat Jalan Kekasih Terindahku”


Hari “Ulang Tahun” biasanya memang menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Karena di hari itulah biasanya terlontar limpahan ucapan selamat dan doa-doa yang turut serta dipanjatkan. Doa-doa dan ucapan selamat dari orang terdekatlah yang biasanya menjadi pelengkap sekaligus spesial dihari ulang tahun. Dihari ulang tahun pula biasanya menjadi moment atau saat-saat yang tepat untuk seseorang menjahili orang yang berulang tahun, bahkan menjadi moment yang sangat tepat untuk seseorang memberi kejutan indah yang berkesan yang nantinya mungkin tak akan terlupakan.
Tepat pada pukul 00.00 WIB, tepat pada tanggal 17 Mei. Suasana tengah malam itu nampak terasa biasa saja di usiaku yang sudah terhitung 21 tahun. Tak ada ucapan dari orang-orang terkasih dalam kehidupanku, termasuk pacarku sendiri. Sedih, marah, kesal, atau sesuatu rasa seperti nano-nano yang aku rasakan. Aku pun masih merasa aku hanyalah seorang gadis kecil yang masih sangat butuh bantuan dari banyak orang, yang hidup masih mengandalkan orang tua, yang masih menumpang tinggal di rumah orang tua dan masih meminta uang jajan setiap harinya dari orang tua pula. Aku masih merasa menjadi gadis manja yang sedang mencoba bermetamorfosis menjadi sosok yang lebih dewasa. Ahhh! Lebih baik aku tidur, memejamkan mata yang sudah sangat lelah ini, daripada aku harus menunggu dan menunggu ucapan ”Selamat Ulang Tahun” yang tak kunjung ku dapatkan dari mereka yang terkasih.
Malam telah berganti pagi. Aku pun terbangun dari tidurku dan melihat handphoneku.
“Ahhhh sangat cepat sekali waktu ini bergulir,”kataku sambil mematikan alarm dihandhoneku.
Sejenak aku terdiam, melamun dan terpintas di pikiranku, bahwa aku tidak mau menjadi orang dewasa, aku ingin terus bermain semasa remajaku. Karena saat remaja hal apapun terasa sangat menyenangkan. Namun hal itu tak mungkin terjadi. Waktu akan terus berjalan dan tidak akan pernah mungkin kembali lagi.
Aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi ketika mengguyur tubuhku dengan air, aku teringat hari apa hari ini. Yaa ternyata hari ini adalah hari Jumat, hari ulang tahunku yang ke-21. Aku pun langsung semangat untuk mengguyur tubuhku dengan air.
“Semangat ,”kataku dengan mendengarkan lagu Bollywood
Tapi sekejap aku berpikir,, kenapa hari ini tidak ada yang mengucapkan “Selamat Ulang Tahun kepadaku”, pikirku dalam hati.
Setelah selesai mandi, aku pun bergegas untuk memakai pakaian dan langsung membuka lagi handphoneku, berharap akan ada yang mengirimkan pesan singkat. Ternyata sahabatku Ayu, mengirimkan pesan kepadaku.
Khe, jadi kan kita hari ini ke kampus untuk mengerjakan tugas
Diterima:
07:00 WIB
08127886xxxx
Iya Des, jadi.
Terkirim:
07:05 WIB
08125667xxxx

Haa ternyata pesan singkat itu bukan ucapan “Selamat Ulang Tahun” dari sahabatku, melainkan membahas tentang mengerjakan tugas. Aku sangat sedih sekali. Hari ini adalah hari yang begitu berat untukku melangkah.
Aku langsung bersiap untuk pergi ke kampus, karena semua sahabatku telah menunggu.

Khe, kamu sudah dimana?
Diterima:
09:00 WIB
08127886xxxx
                                    Iya Des, aku sudah di bus
                                    Terkirim:
09:05 WIB
08125667xxxx


Oke, kalau sudah di kampus. Tunggu aku di halte PGRI aja ya, Khe
Diterima:
09:10 WIB
08127886xxxx
Siap bro :)
Terkirim:
09:15 WIB
08125667xxxx

Sesampai di halte PGRI. Aku menelpon Desi untuk memberitahukannya kalau aku sudah di halte.

“Halo Des, aku sudah di halte nih. Buruan ke sini.
“Iya Khe, ini aku sudah di jalan, sudah hampir sampai.
Aku pun  langsung mematikan telepon.

Tak lama kemudian, Desi datang. Desi bukan mengajakku untuk masuk ke kampus. Melainkan mengajak ke pasar 16 untuk menemani Riri membeli sesuatu.
Sahabatku yang lainnya sudah ada di pasar, tinggal aku dan Desi yang belum sampai di sana.
Setelah sampai di sana, ku lihat yang ada disitu hanya ada Mentari saja, sedangkan Riri masih di perjalanan.
Aku dan yang lainnya menunggu Riri di depan sebuah patung Archa Budha dekat Museum Sultan Mahmud Badaruddin. Kami semua bercengkrama di bawah pohon yang rindang. Menikmati udara pagi hari yang menusuk sampai ke tulang, menikmati desiran angin dari arah Sungai Musi serta mendengarkan kicauan burung dan indahnya si kupu-kupu berhamburan di langit. Membuat aku merasakan damai yang luar biasa.
Aku melamun. Lamunan ku tertuju pada kaca-kaca museum yang telah rusak, debu yang kian tebal di sisi ventilasinya, namun museum ini tetap kokoh berdiri dan masih banyak pengunjung dari luar Palembang maupun turis dari luar negeri dari penjuru dunia. Hanya untuk melihat dan ingin tau sejarah tentang Palembang. Luar biasa, inilah kota kelahiranku!
Tiba-tiba, aku dikejutkan dari belakang patung Archa Budha, dekat kantin. Ada nyanyian Selamat Ulang Tahun.

Happy Birthday To You
Happy Birthday To You
Happy Birthday Happy Birthday Happy Birthday To Khekhe sayang…

Aku menoleh ke belakang. Aku melihat kerlipan lilin-lilin kecil membentuk angka 21 diatas kue tart dan untaian nada oleh orang-orang yang istimewa dikehidupanku. Mereka saat itu ada tepat disaat hari ulang tahunku. Kejutan manis yang ternyata telah mereka rencanakan dan tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Kejutan itu membuat aku merasa semua itu hanyalah sebatas mimpi dari buah tidurku malam itu. Namun, beberapa kali aku tersadar dan menyadari bahwa semua itu nyata.
“Happy Birthday, sayang.”kata Nunu
“Makasih sayang atas surprisenya”jawabku terharu
“Iya sama-sama sayang..
Dalam hati, semua yang ku inginkan ku ucapkan. Lalu kerlipan lilin-lilin kecil itu ku tiup. Potongan kue pertama, akan ku suapi pada pacarku tersayang, Nunu. Dan tak lupa sahabat-sahabatku yang lain juga.
Setelah selesai, Nunu meminta ijin kepadaku. Karena ada sesuatu hal yang harus diselesaikan. Tak lama dari Nunu, aku dan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing.
Saat sampai di rumah, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Dan tertidur pulas. Sampai terbangun malam hari sekitar jam 19:00 WIB
Tiba-tiba dari luar sana terdengar suara motor. Ketika ku lihat, ternyata motor itu adalah motornya kak Iponk, kakaknya Nunu dan kak Iponk buru-buru mengajakku ke suatu tempat.
“Cepat minta ijin ke mama, papa kamu Khe dan naik motor kakak!”perintahnya.
Aku tak berani bertanya apa-apa padanya. Matanya nampak berkaca-kaca. Aku bergegas naik motor kak Iponk.
Aku sangat bingung sekali, kenapa kak Iponk membawaku ke rumah sakit Charitas?”tanyaku dalam hati.
“Kamu tunggu disini, kakak mau ke resepsionis sebentar.”
Kami berjalan menuju ruang ICU. Ku lihat dari kaca pintu. Ku ingin tau siapa yang ada disana. Bagai disengat listrik ratusan volt. Aku melihat Nunu, pacarku terbaring disana. Aku tak menyangka, padahal baru tadi pagi aku merayakan hari ulang tahunku bersamanya. Air mataku pun menetes. Aku melihat ibu dan ayahya sedang duduk melamun. Aku menghampiri mereka.
“Nunu kenapa. Om, tante?”tanyaku histeris. Kak Iponk berusaha memeluk dan menenangkanku yang sedang kalut itu.
“Kamu sabar dulu, Khe. Jangan ikut nangis. Nanti Nunu tambah sedih! Sahut ayahnya Nunu yang ikut menenangkanku
“Iya, tapi Nunu kenapa om, tante? Kenapa tiba-tiba Nunu ada di ICU?”tanyaku lagi.
“Nunu mengidap kanker otak stadium akhir, Khe.
Maaf, kami semua tak memberitahumu. Ini keinginan Nunu sendiri. Dia nggak mau kamu sedih di hari ulang tahunmu ini.”kata ibunya Nunu yang ikut menangis. Kak Iponk  yang memelukku pun tak kuasa menahan tangisnya.
Seorang perawat keluar dan mempersilahkan 2 orang untuk menjenguk Nunu. Aku dan kak Iponk lah yang masuk ke dalam ruangan itu. Kami memakai busana yang steril yang telah disediakan oleh rumah sakit.
“Sayang? Kamu kenapa nggak pernah cerita ke aku sih?”tanyaku terisak-isak
“akkk…kkkkuu    ngg….ggggaak    pap….aah    kok   sa...yyyyang.”jawabnya sambil tersenyum.
“Cepet sembuh sayang. Masih banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu.”kataku menahan ribuan tetes air mata yang hendak meledak diujung mataku.
“Lalu, aku mencium kening Nunu.
Kak Iponk yang melihat kami berdua pun ikut merasakan kesedihan, memecahkan segala suasana dalam ruangan itu.
Tak terasa waktu yang kami miliki untuk menjenguk telah habis. Terpaksa kami harus meninggalkan kamar Nunu.
Bulan menampakkan wujudnya. Dan bintang ikut menemaninya. Aku yang sedang duduk melamun di sebuah pinggiran Sungai Musi bersama kak Iponk menikmati indahnya tanpa seorang Nunu disampingku. Kami sering menikmati malam bertiga sambil menikmati lezatnya mie tek-tek pak Karim. Dan akulah yang selalu makan paling banyak, hal itu yang membuat Nunu mencubit hidungku.
Tiba-tiba suara handphone kak Iponk berdering, memecahkan lamunan kami.
“Iya bu?” kata kak Iponk menjawab telepon dari ibunya.
Wajah kak Iponk langsung pucat pasih, matanya mulai berkaca-kaca. Firasatku mulai tak enak lagi.
“Iya bu. Aku ngerti!” jawab kak Iponk langsung mematikan teleponnya.
“Ayo berangkat!” kata kak Iponk. Aku tak berani bertanya apapun
Sesampai di rumah sakit Charitas, aku melihat kamar ICU kekasihku, Nunu telah kosong. Aku sangat senang sekali, karena ku kira kondisi Nunu telah membaik dan telah dipindahkan ke rawat inap biasa. Namun kegembiraanku berhenti sampai disana. Aku melihat ibu, ayah, dan kak Iponk menangis. Aku mendekati mereka semua.
“Khe, kamu bareng kak Ipon aja ya pulangnya?”tanya ayahnya Nunu.
“Pulang?”jawabku kegirangan.
Karena ku kira, Nunu telah dibawa pulang ke rumah. Aku lalu mengiyakan tawaran ayahnya Nunu tadi sembari tersenyum.
Di perjalanan, aku merasa heran. Kenapa motor kak Iponk dan mobil ayahnya Nunu mengikuti ambulance? Keherananku semakin bertambah ketika ambulance itu berhenti didepan rumah Nunu. Begitu juga dengan suasana di sekitar rumah Nunu yang sangat ramai sekali. Banyak orang yang memakai baju hitam. Saat aku turun dari motor kak Iponk, aku melihat bendera kuning yang ada dipagar rumah Nunu. Ada apa dengan semua ini, Tuhan?
Kerika pintu ambulance dibuka, betapa kagetnya aku. Bagai tersambar petir disiang bolong.
“Nunu!”gumamku tak percaya. Nuunnnuuu!!!!!!”teriakku semakin kencang.
Tangan kak Iponk mencoba meraih tanganku dan memelukku. Aku menangis tak karuan.
“Nunu …sayang, kenapa kamu pergi? Kenapa kamu ninggalin aku disaat aku berulang tahun? Kenapa sayang?”kataku sambil menangis dipelukan kak Iponk.
“Khekhe, sudah ya? Jangan sedih. Ikhlaskan kepergian Nunu. Dia juga nggak mau ngeliat kamu sedih dan menangis seperti ini!” kata kak Iponk mengusap air mataku.
“Lalu siapa yang nemenin kita makan mie tek-tek? Siapa yang akan menghiburku disaat aku sedih nanti? Siapa yang akan memberikanku perhatian untuk makan, jangan tidur malam-malam? Siapa yang akan menemaniku ke kolong langit dekat Museum Sultan Mahmud Badaruddin? Siapa kak Iponk? Siapa!”tangisku memuncak.
“Tapi Nunu akan lebih sedih lagi jika lihat kamu nangis!” ikhlaskan kepergian Nunu, Khe.
Kak Iponk mencoba menenangkanku dan memberikan sebuah kado kedua dan sepucuk kartu ucapan untukku dari Nunu.


Isi ucapan kartunya seperti ini:
Saat nyala lilin membias di wajahmu
Ku satukan doa demi bahagiamu
Di hari ulang tahunmu aku berjanji
Akan terus menjaga hatimu
Tanpa henti untuk selalu mencintai dan menyayangimu
Selamat ulang tahun, honey. I miss you
Aku tak akan pernah berhenti untuk mencintaimu
Aku tak akan pernah mencoba untuk menduakan hatimu
Setiaku hanya untukmu sampai kematian yang akan menjemputku
Kau akan selalu dihatiku selamanya
Sekali lagi “Selamat Ulang Tahun” My Sweetheart :*


Semoga kau tenang di sisi-Nya, kekasihku …
Kau akan selalu ada dihatiku untuk selamanya :(
Karya: Inneke Sarastindi
Taman Hitam
Matahari rasanya ingin mencekik ku hari ini. Ini sduah leawat dari pukul 12:00 dan tidak ada pergeseran apapun dari sang maha Angkasa. Aku sudah lelah menumpukan kaki pada stiletto Prada yang sekalipun harganya selangit tapi tetap saja 12 sentinya membuat nyilu.Bunga yang harusnya berjaga setelah ku mengalami kecelakaan ringan di Perumnas. Ia izin untuk tidak datang. Jadi mau tidak mau aku harus menunggu Siti yang masih mengurus banyinya untuk datang menggantikan Bunga.
“Han, apa kamu tidak mau istirahat?? Aku bisa menjadi tempat ini sendirian.” Yuri muncul dengan segelas air yang langsung ia sodorkan padaku. Tentu saja, seperti melihat berlian dengan adanya air ini. Aku sangat berterima kasih terhadap Yuri..!“tidak Yul, harusnya kamu yang mulai istirahat. Tanggal pernikahanmu sudah semakin dekat. Banyak hal yang harus kamu persiapkan.”
Aku bisa melihat dari cafe tidak jauh dari tempat ku dan Yuri bicara sekarang ada pria yang menatap kami. Dia Jovan, atasan kami yang terdahulu yang sekarang di pindah tugaskan ke Jakarta. Jovan itu, kekasih Yuri.“Ahh, tidak ini saat-saat terakhirku bisa bekerja seperti ini sebelum ikut denagn Jovan ke Jakarta. Aku hanya tidak ingin kau merindukanku setelah aku pindah selamanya ke sana.” Kami tertawa, iri sekali melihat gadis yang tidak lajang lagi tertawa bersamaku. Gadis yang empat tahun yang tidak Moving-on, karena selalu menunggu cinta yang bukan miliknya lagi..!
“Maafkan aku terlambat! Tadi Yongra menangis terus.” Siti muncul dengan nafas terangah-engah. Sepertinya ia baru mengejar bis di pemberhentian paling terakhir di dekat rumahnya. Dan harus berlari dari halte yang jaraknya lebih dari 500 meter dari sini.
“alhamdulilah... kakak, akhirnya kau datang juga. Aku sudah lelah berdiri menjaga pameran ini seharian.” Kak Siti pun hanya menggosokkan tangannya meminta maaf dan langsung berlari meninggalkan aku dan Yuri.Di sana, di balik meja marketing di bawah tenda sudah ada mbak Dewi yang mengangkat baju sale tinggi-tingggi. Menyuruh Siti untuk segera masuk dan berganti pakaian..!
“sudah pulang sana. Aku sudah mau ganti shift dengan Dimas, kau bisa ikut dengan ku jika kau mau.” Rumah kami memang searah, tapi tidak enak rasanya jika harus terus menumpang pada Yuri dan Jovan.Aku tahu rasanya sebagai orang yang setidaknya dulu pernah punya kekasih. Bagaiman jika ruang privasi berdua yang tidak begitu lama, mengingat jarak rumah Yuri dari tempat ini tidak terlalu jauh..!!
Jadi harus terganggu karena ada aku, rasanya akan menjadi kacang goreng ketika pertunjukan sirkus tahunan di mulai. Hahahahaa......“Tidak perlu Yul, aku akan pulang sendirian. Lagi pula aku masih harus membeli kebutuhanku di minimarket.”“aaa, baiklah. Sampai berjumpa besok” Yuri langsung bergegas menuju Jovan. Pria itu meraih Yuri dalam dekapannya yang aku yakini begitu besar mencintainya sambil mengecup kening Yuri dengan hangatnya.
Aku sangat iri. Sewaktu kuliah aku sering sekali mengejek Yuri yang selalu dipermainkan pria. Tapi sekarang mungkin dalam hatinya dia lah yang balik mengejek ku, si gadis kampus yang dapat memalingkan hati....!
***
Tangan ku bergerak membereskan jejeran peralatan pembersih kosmetik yang ku pakai. Rasanya lelah sekali menanggung bedak yang tebalnya tidak melebihi setengah senti di wajahku....!
Satu per satu ku tata dengan rapi di atas meja. Hingga tak terasa sebuah buku tebal sudah berada di tangan. Agendaku. Salah satu yang harus aku belanjakan di minimarket nanti. Sudah bertahun-tahun aku menggunakan agenda ini hingga tak terasa sudah lembar terakhir yang ku tulis. Menggambarkan banyak sekali kisah hidup ku yang ku tuliskan di sini...
Dengan refleks aku membuka pengait agenda ini. Selembar kertas kusam jatuh di atas meja. Sebuah kertas foto berumur tahunan yang ujung-ujungnya mulai menguning dan menekuk-nekuk.
Di balik rapuhnya kertas ini anehnya ada sepotong memori utuh yang enggan memudar. Masih melekat dan terlalu malas bergerak dari kalbu ku...Foto bersamanya, dipertemuan terakhir kami. Empat tahun yang lalu di taman yang tak jauh dari lokasi pameran ini.Setiap menatap foto ini selalu memancing ku untuk melihat sebuah lilitan emas putih di jemari manis kiri ku. Mengingat hatiku dengan kekal abadi.
Hari itu, dipertemuan terakhir kami sebelum dia mengikuti kemauan ayahnya untuk meneruskan pekerjaan yang ayahnya rilis. Dia memberikan cincin dan janji, janji untuk kembali dalam waktu 1 tahun dan menikahi ku dengan semua yang telah ia bangun. Janji yang sampai nafas ku ini tak mampu ia genapi..!
***
Aku melongok, tidak salah ini adalah rak peralatan tulis. Aku menunduk melihat deretan buku agenda dengan harga tidak terlalu mahal tapi kurang nyaman untuk digunakan. Letaknya yang agak berada di deretan bawah membuat ku kesulitan mencarinya.
“Ahh..!!akhirnya tangan ku berhasik mengambil salah satu buku yang kuanggap bagus. Buku tebal dengan ukiran-ukiran hitam mengkilap di sampulnya. Harganya juga tak melampaui gaji makan siangku.Dengan barang lain dalam troli ku aku segera menuju kasir. Perutku terlalu lapar siang ini. Aku harus segera sampai ke kost-an ku dan memasak untu makan siang dan malam nanti.
***
Aku tiba di tikungan antara taman kota dan sebuah jalur bis di tepinya. Tong sampah besar ada di pojoknya. Aku segera mengeluarkan agenda lama ku. Begitu aku melewati tong sampah itu aku segera membuang agenda itu, termasuk sepotong kusam di dalamnya..
Aku pikir memang sudah saatnya untuk membuang agenda itu, berikut potongan memori di dalamnya. Hanya menyimpan sakit hati saja. Walau aku masih bingung kapan harus membuka agenda hidup yang baru...!
Mungkin sudah belasan atau puluhan langkah aku meninggalkan benda besi berat itu. Namun hati ku mengaum, menolak untuk kembali melangkah dan menolehkan kepalaku pada tong sampah itu. Dengan tatapan putus asa aku kembali pada tong sampah itu. Merogok-rogok ke dalamnya. Untung tidak seburuk yang aku pikirkan.
Tangan ku yang cukup panjang berhasil menangkap buku lama itu. Membuka pengaitnya dan mengambil foto yang aku tidak tahu mengapa masih berharga bagi ku dan kembali membuang buku yang tak lagi bernilai itu ke tong sampah...!!Masih belum saatnya untuk membeli agenda hidup yang baru apalagi membukanya. Hatiku masih terkurung pada masa yang sama.
***
            Dengan langkah yang entah kenapa menjadi ringan aku melewati taman kota. Taman berjuta memori yang hari ini lengang. Aku melirik jam ku, jam makan siang sudah sangat terlewati. Jadi taman yang jelas-jelas berada di antara tingginya gedung-gedung perkantoran yang menjulang pasti akan sepi..
Hanya jalan mall yang berada nun jauh di ujung jalan yang ku lewati ini saja yang ramai. Aku memain-mainkan cincin di jemariku. Memutarnya sesuka kehendak hatiku. Sekalipun tidak akan pernah lepas, ku lepaskan tempatnya.Aku bingung mengapa aku masih bersedia saja menunggunya bahkan aku tak tahu keberadaannya. Kenapa aku masih saja mau memakai cincin yang mungkin tak ada artinya dengan setumpuk emas di brankas bank nya.
Aku melamun, membiarkan angin dengan lembut mengucapkan salamnya padaku. Membelai ujung hidungku dengan lembut. Menerbangkan rambut kecoklatan yang tak ku ikat dengan tenang....!!!
Sepasang kekasih dengan dua tas kertas besar di sisi kiri dan kanannya berjalan ke arahku. Melihat mereka dalam kilasan mata kembali membuatku iri. Iri seperti melihan Jovan yang begitu mencintai Yuri. Seperti melihat kak Andre yang rela mendorong mobil mogoknya ratusan meter hanya untuk mengantar Siti yang akan melahirkan dan tak sanggup berjalan.
Ketika jarak tak lagi  mampu menepis pandangan, aku tersadar. Berhenti di tempatku dengan memori yang menyeruak keluar dari pandora dan mata yang ingin keluar dari kantungnya. Pria itu, dengan tangan manis yang terkait di lengahnya sepasang kekasih yang membuatku iri hingga membuatku membenci. Pria yang menyorotku dengan tatapan tajamnya itu menghujam kembali hatiku dengan ribuan kenyataan yang sekarang berujung pahit.
***
            “Ayolah Han, aku tidak lama. Hanya satu tahun, setelah itu aku akan pulang dan kita akan menikah.” Aku masih diam. Enggan berbicara padanya, enggan berujung kata padanya yang kini membuat resah.
            “Han” dia tidak mau bersabar lagi. Ia menarik paksa tanganku, mengeluarkan sesuatu cukup berkilau dari saku celananya. Aku langsung menarik tangan ku. Enggan diberi sesuatu sebagai tanda perpisahan, tapi ia kembali menariknya lagi. Beberapa detik kami habiskan untuk saling tarik-ulur tagan. Sampai akhirnya aku pasrah, berusaha mempercayainya setelah dengan lancang menatap matanya.
            “Chaaa!!” Dia dengan bangga mengangkat tanganku dan tangannya. Kedua jemari manis kiri kami telah berhias lilitan yang sama. Sebuah cincin emas putih sederhana dengan mata berlian mungil yang tak mau menyembul, mengangkuhkan kulaunya..!
            “Sini lihat aku”, Aku menatapnya lebih dari lancang malah. Sudah kubilang kan kalau matanya itu terlalu teduh untuk tidak merapuhkan aku? Kedua tangan hangatnya saja sudah sulit ditolak.
            “aku berjanji akan kembali secepatnya. As soon as possible. Setelah menyelesaikan seluruh proyek di Amerika setelah itu aku akan pulang. Aku akan pulang untuk melamar dan menikahimu. Aku janji,” aku hanya mengangguk mengiyakan dan memandang tak acuh.
            Sekali-kali aku meliriknya, melirik takut kehilangan. Takut tiba-tiba ia hilang dalam sekejap pandangan. Namun, nyatanya ia masih di sana. Masih bersandar di sampingku dengan tangan kokoh yang terulur di belakang sanggahan kepala bangku taman ini. Rasanya sesak. Sesak ketika tahu orang yang berada di dekatmu mungkin sebentar lagi akan menjauh...!
            Aku beralih menatapnya dengan raut takut. Meraih ujung halus kemejanya dan meremasnya tanpa bisa mengucapkan apapun. Matanya menatapku balik. Menyerukan apa yang ku takutkan. Ketika ujung diriku bertemu dengan ujung dirinya yang hangat takut itu memuncak. Pada tingkat tertinggi ketika bibir kami tertaut. Hangatnya lebih menjalar namun lebih menakutkan, lebih penuh akan cinta namun lebih menjurang suatu saat nanti. Aku belum pernah melibatkan emosi sedalam ini ketika sekedar menautkan bibir dengan bibir.
            “sudah, aku akan lebih sulit berangkat jika kamu terus seperti ini, Hana.” Sayang, tidak bisakah kamu menunda keberangkatanmu? Setidaknya hanya beberapa hari. Beberapa hari sampai aku tidak takut kehilangan mu.”
                        “Bodoh itu artinya aku tidak akan pergi. Kau pasti akan selalu takut kehilanganku.” Dua matanya tersenyum dengan raut menggoda ia mengelus rambutku dengan penuh kasih. Tiba saatnya aku pergi, dia lepaskan tanganku dan hanya menoleh satu kali tanpa menggelngkan kepalanya. Tapi hatiku yang terdiam disini, masih enggan berteriak mencegah kepergiannya..!!
            Tanpa sengaja, Hana mengikutinya ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum dia pergi ke Amerika. Sesampai di bandara aku melihat Dimas menggandeng seorang perempuan. Di sana hati ku hancur berkeping-keping, tak dapat membendung air mata lagi...!
            Bodoh, otakmu dimana Hana?? Tentu saja kekasih hatimu yang setia kau tunggu itu sudah memiliki gadis lain. Bukan anak pegawai negeri yang sekarang hanya menjadi sales. Bukan anak seorang ibu rumah tangga yang setiap harinya dulu bekerja di toko roti. Bukan, kamu tidak akan ada apa-apanya dengan pemilik maskapai penerbangan paling besar se-Asia. Dan gadis di sampingnya? Mungkin dia anak konglemerat negeri ini yang mendapatkan jodoh dari kelasnya.....!!
            Ia menatap jariku yang menembus. Entah apa yang dia lihat. Yang aku tahu aku hanya berusaha menutupi fakta bahwa pemberiannya masih kupakai. Bukan itu saja, janjinya pun masih ku pegang. Stupid.
            Ia berjalan melewatiku. Menunggu angin kelabu yang kini seolah menampar hatiku membiarkan fakta berujar bahwa aku memang gadis tidak tahu malu berontak udara. Masih saja mengharapkan bulan, padahal pungguk tak bisa terbang meraihnya..
            Saat undangan pernikahan antara Dimas dan tunangan barunya, hatiku hancur. Tetapi masih berusaha datang dan enggan berbasa-basi lagi dengan segala kepalsuan romantismefana ini. Karena pada dasarnya hanya dia, Hana-ku yang berhak meraih lenganku memeluknya dengan sayang “ungkap Dimas”.
            Ketika gadis itu, Dimas kembali mengejarku dan kini duduk di samping kemudian bersamaku. Aku sadar, di ruang tanpa batas dunia. Di angkasa yang tidak terlihat. Ada tembok besar yang telah mengikat dengan utuh. Mengikat retaknya takdir yang aku impikan. Takdir yang justru aku hancurkan dalam sekejap malam. Ketika Dimas kembali memamerkan sederet senyumannya. Aku menusuk jantungku sendiri. Bagaimana kau bisa membuat gadis yang tak pernah aku cintai bahagia di sampingku tapi menjatuhkan gadis yang menungguku dalam sekali pukulan ke dasar bumi???
            Pernikahan sontak di hentikan karena tak adanya ikatan batin antara Dimas dan tunagannya. Tetapi Hana tidak mengetahuinya, karena sudah terlalu sakit hati. Hana pun meninggalkan Kota dan pergi meninggalkan semua kenangan yang ada. Kenangan tentang kami yang begitu indah dan menyayat hati dengan sembilu..!!
            Dua tahun sudah Dimas mencari ku, tetapi tak pernah ia temukan. Hana, seandainya kau tahu sekarang. Seandainya sosok dalam bayangan tadi benar dirimu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat merindukanmu. Aku sangat  mencintaimu dengan mengatasnamakan apapun di dunia ini. Aku hanya terlalu pengecut untuk merubah takdir. Aku hanya terlalu brengsek untuk menjadi takdirmu. Aku hanya terlalu pecundang, menumpahkan emosi kerinduan pada botolan-botolan vodka yang menjebakku dalam takdir.
            Ketika tanganku menempelkan foto itu tepat di atas jantungku, di atas kalung yang membandul di sana. Dadaku berdesir, seolah ada tangan gadis itu menyentuhnya. Membantu menyentuh kalbuku yang entah kapan akan berhenti merindu..!!
            Di sebuah kota terpencil ada Hana, yang masih belum bisa melukan masalalunya yang kelam. Walau telah ada pria lain yang ingin mengisi hatinya, tetapi masih tak mampu memecahkan dinding hitam yang ada di hatinya. “It’s really the right time to moving on.” Hana sekali lagi mengusap air matanya, ia menyesali mengulur keputusan membuang foto dalam genggamannya tadi. Ia menyesali sakitnya sekarang. Tangan kanannya bergerak, memutar cincin dari jemarinya menggerakkan dengan asal arah. Kertas foto kumal di tangannya terlepas. Terbang bersama angin penghujung musim semi yang mendadak bertambah kencang. Seolah ingin berlari bersamanya meninggalkan keadaan...

END
KARYA: MARLIANTI