DI BALIK KEBAYA PUTIH
Ya
ampun.......aku menjerit di sore itu, hari ini aku ada janji dengan teman
lamaku untuk bertemu di Museum Sultan Mahmud Badarudin II Palembang. Pasti dia
sudah lama menunggu, kemudian aku bergegas melihat jam tanganku yang jelek
berwarna hitam, ternyata sudah pukul 5 sore. Lalu aku mandi dan berganti
pakaian sesuai dengan keinginanku, aku berpikir sejenak, “apakah aku harus
datang dengan terlambat atau tidak sama sekali.” Tapi rasanya aku kasihan
dengan temanku, mungkin ia sudah lama menunggu kedatanganku di sana. Akhirnya
aku berniat untuk datang meskipun telah mengecewakannya terlalu lama menunggu.
Ketika
aku ingin berangkat keluar rumah, tiba-tiba HP kesayanganku bergetar,
kring...kring...kring... ibuku menelpon agar aku menjeput adikku di sekolah,
aku menjadi delima, aku ingin membangkang orang tuaku aku tidak sanggup. Kalau
dituruti temanku pasti marah dan kecewa kepadaku, lagipula ini kesempatan
pertama kali temanku mengajak bertemu setelah berapa tahun kami tidak bertemu.
Aku
terdiam tidak bisa berbuat apa-apa, waktu terus berjalan, detik berlalu berubah
menjadi menit. Sore ini tidak seindah yang aku bayangkan pagi tadi, ternyata
aku bertemu dengannya hanya di dalam mimpi, aku terlena dengan keindahan bunga
tidur sehingga aku semakin terlelap dibawa oleh mimpi tersebut, ketika bangun
waktu sudah hampir habis dan kesempatanku terbatas.
Tok...tok...toook...
Assalamuallaikum
Wr. Wb
Adikku
pulang dari sekolah!!!
Aku
kembali semangat untuk pergi menemui temanku, tanpa berkata apa-apa aku
langsung pergi menemui dengan gembira, adikku bertanya “mau pergi ke mana” aku
hanya tersenyum dan bilang “jangan banyak tanya”. Tidak berapa lama kemudian
aku tiba di museum tempat kami janjian, ku lihat dari kejauhan sekitar halaman
museum, tampak sepi tidak ada lagi orang yang duduk di sekitar halaman museum.
Aku
berputus asa dan menyesali semua keteledoran waktu, secara tidak sengaja aku
melihat di bawah pohon palem dekat patung arca ada seorang wanita cantik yang
duduk menghadap ke arah Jembatan Ampera dengan wajah yang tegang melihat
gemerlip lampu penerangan jembatan. Ternyata dia adalah Raisyah temanku, dia
tersenyum melihat kedatanganku dan memandangku dengan tatapan mata yang tajam
seperti sinar batu kristal yang cemerlang. Tanpa mengulur waktu aku langsung
mendekatinya, dan menintah maaf atas keterlambatanku, “aku tadi ketiduran, jadi
lupa akan janji kita di sini untuk bertemu”. Dia pun menjawab dengan tersenyum
“tidak apa, aku juga maklum dari kamu tidak datang sama sekali”.
Aku
tahu ia sudah lama menunggu, tapi ia tidak sedikitpun merasa bosan untuk
menanti kedatanganku yang dianggapnya sebagai teman baik saat masih di bangku
sekolah SMP dulu, kenangan beberapa tahun yang lalu ketika itu kami berdua
masih sama-sama di suatu sekolah yang penuh sejarah perjalan hidup
pendidikanku. Setelah lama tidak bertemu Raisyah 100% berubah begitu cantik,
putih, dan anggun, mungkin karena ia tinggal di Jakarta bersama orang tuanya
sedangkan aku berubah menjadi hitam dan jelek.
Adzan
Maghrib pun bergemah di masjid tercinta, tanda hari sudah mulai malam dan
matahari telah menyembunyikan sinarnya yang begitu cerah menerangi kota
Palembang. Kami berdua belum mau untuk pulang ke rumah masing-masing, karena
masih ingin menghabiskan waktu bersama-sama, berdua dan mengingat masa kecil
dulu selalu bermain bersama. Sambil duduk di bawah pohon, ia menceritakan
kehidupannya selama di Jakarta, kami sudah lama tidak bertemu terakhir saat
sekolah mengadakan perpisahaan dan pembagian raport tanda kelulusan peserta
didik.
Raisyah
adalah salah satu teman yang paling baik di kelas, kemanapun aku pergi dia ada
di sampingku waktu di SMP dulu. Kini kami dipertemukan kembali dengan usia yang
sudah remaja dewasa, bercanda dan tertawa terbahak-bahak ketika mengingat
cerita waktu masih kanak-kanak. Tidak terasa waktu sudah mulai malam,
burrung-burung di sekitar museum mulai bernyanyi di dalam sangkarnya.
Aku
memandang ke depan ada seorang nenek yang sedang menagis, ketika melihat kami
duduk berdua dengan mesra dan selalu tersenyum saling memandangi dan beratatap
mata. Kami berdua berinisiatif untuk menemui nenek tersebut dan ternyata
setelah kami temui, nenek tersebut merasa sedih ketika ia mengingat masa
mudanya bersama seorang remaja. Mereka sering duduk dan bertemu di sini, hal
itulah membuat sang nenek merasa sedih ketika nenek melihat dua remaja yang
sedang duduk berpasang-pasanagan.
Nenek
yang umurnya sekitar 65 tahun ini bercerita betapa kuatnya rasa cinta yang
bertemu di sini, pada waktu itu usia nenek sedang memasuki usia puber 17 tahun,
ia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah dan berani, pangeran yang datang
dari langit diciptakan untuk nenek. Kemudian di tempat inilah pangeran itu
mengucapkan rasa cintanya kepada nenek yang tidak kalah cantik, mereka menjalin
hubungan dengan diam-diam, karena orang tua nenek tidak menyetujui hubungan
mereka.
Karena
perbedaan derajat keluarga, nenek berasal dari golongan bangsawan sedangkan
kakek dari golongan keluarga yang tidak punya apa-apa, untuk mencukupi makan
sehari-hari kakek harus berjuang dengan sekuat tenaga. Dari perbedaan itulah
nenek dan kakek tidak direstui untuk menjalin hubungan, restu orang tua tidak membuat
keduanya patah semangat dalam menjalani rasa cinta dan kasih sayang. Tanpa
restu itu membuat mereka semakin hebat dan erat tidak dapat dipisahkan oleh
siapa pun termasuk kedua orang tua mereka.
Karena
merasa sudah menemukan cintah sejati, akhirnya mereka berdua ingin melanjutkan
hubungan mereka ke yang lebih serius yaitu pernikahan meskipun tanpa restu dari
orang tua nenek. Di acarah pernikahannya nenek menangis karena tidak satupun
keluarganya yang datang ke acarah pernikahannya. Setelah menikah dengan kakek,
nenek pun dikucilkan dari keluarga besarnya. Akan tetapi mereka hidup dengan
sederhana dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tetapi tekanan batin nenek
masih membekas di hatinya. Meskipun nenek juga merasa nyaman bisa hidup dengan
seorang lelaki idamannya, baik, dan bahkan di dalam rumah tangganya tidak ada
sedikitpun pertengkaran yang terjadi, mereka hidup damai, nyaman, dan tentram
walaupun hidup seadanya.
Kehidupan
rumah tangga mereka terganggu dengan serakahnya keluarga nenek yang tidak ikhlas
jika nenek hidup dengan kekurangan, sedangkan mereka tahu keseharian nenek mau
mintah apa pun di kasih oleh orang tuanya. Ada salah-satu kakak dari nenek yang
ingin mengajak nenek untuk pergi meninggalkan kakek dan pulang ke rumahnya
tinggal bersama keluarganya lagi dan berniat untuk menceraikan nenek, tanpa
rasa takut nenek membantah kakaknya untuk tidak menuruti semua keinginan
kakaknya itu. Kakaknya langsung marah dan mengancam akan selalu mengganggu
kehidupan rumah tangga mereka.
Setiap hari nenek merasa sedih
apabila mengenang nasibnya yang tidak direstui oleh keluarganya, tapi semua itu
tanpa pengetahuan kakek. Karena ia tidak ingin kakek tahu bahwa ia merasa
terbebani, dan ia tidak ingin mengingkari janji mereka berdua apapun yang
terjadi mereka akan selalu tetap bersama sekalipun badai menghantam keluarga
mereka yangs sederhana ini, mereka akan tetap bersama. Itu semua terbukti
dengan keadaan rumah tangga mereka yang masih terjaga dengan baik, meskipun
tanpa dukungan dari keluarga nenek, mereka masih bisa hidup di dunia ini.
Sebagai anak yang berbakti nenek
merasa bersalah dengan keputusannya telah pergi meninggalkan keluarganya, tapi
apalah daya nenek sudah berapa kali datang menghadap ayah dan ibunya untuk
memintah maaf sekaligus memohon restu agar mereka berdua bisa dijadikan bagian
dari keluarga besar ayahnya. Namun usaha itu sia-sia, ayahnya masih tetap tegar
dengan keputusannya, bahkan berniat akan membunuh suami nenek dengan tujuan
agar nenek tidak bisa bertemu lagi dengan kakek. Ayahnya berkata seperti itu
tidak main-main, nenek semakin bersujud di kaki ayahnya untuk memohon agar
tidak melakukan perbuatan jahat itu kepada suaminya tercinta.
Kesesokan harinya ayahnya murkah
kepada nenek, ayahnya datang ke rumah nenek yang sederhana itu untuk menjemput
nenek agar tinggal bersama mereka. Akan tetapi kakek tidak diizinkan untuk ikut
tinggal bersama mereka, perlawanan sudah dilakukan nenek tapi ia tidak bisa
berbuat apa-apa. Nenek pun dibawa ke rumah orang tuanya, dan kakek terpaksa
harus membiarkan nenek pergi meninggalkannya sendirian. Berbulan-bulan kakek
menungguh kabar dari nenek, begitu juga dengan nenek yang menangis setiap
malamnya memikirkan keadaan kakek dari kejauhan.
Setelah berepa bulan kemudian ayah
nenek berniat untuk membunuh suami nenek, dengan alasan mengirimkan surat
kepada kakek bahwa nenek ingin bertemu dengan kakek di sebuah tempat yaitu di
Museum Mahmud Badarudin II, dengan senang hati kakek datang tanpa rasa ragu
sedikitpun dan kakek juga tidak mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh oleh sang
mertuanya sendiri. Begitu juga dengan nenek tidak mengetahui rencana ayahnya
untuk membunuh suami tercintanya itu.
Kakek berangkat dengan rasa gembira
bahwa ia ingin bertemu dengan istrinya yang terpisah beberapa bulan lalu. Tiba di
sana kakek langsung diserang oleh anak buah suruhan ayah nenek, akhirya kakek
tidak bisa tertolong dan langsung meninggal di bawah pohon tempat mereka
pertama kali bertemu dengan nenek, kakek meninggal pada hari itu. Anak buah
ayahnya langsung melaporkan hasil kerja mereka. Nenek pun menguping pembicaraan
mereka dan nenek langsung menangis dan memukul ayahnya dan berkata “Ayah kejam,
biadad...sungguh teganya ayah menghancurkan kebahagianku”. Nenek langsung pergi
menemui jasad suaminya itu.
Dari kejadian itulah nenek setahun
sekali datang ke tempat ini untuk mengenang peristiwa kematian suaminya
tercinta dan nenek akan selalu menangis apabila melihat ada anak muda yang
sedang duduk berdua di sini. Nenek takut nanti kebahagian mereka akan berakhir
seperti nenek dahulu, “Nenek berpesan kepada kalian jangan samapai kalian
berdua mengalami seperti kejadian yang pernah nenek alami beberapa puluh tahun
yang lalu”. Begitu sedihnya aku mendengar cerita nenek, sampai-sampai kami
berdua juga ikut meneteskan air mata.
Sungguh ini kejadian yang tragis,
kisah cinta yang tidak direstui. Memang masih banyak peristiwa itu terjadi
sampai saat ini. Aku juga mengatakan kepada Raisyah bahwa “Apabila kita nanti
menjalin hubungan jangan sampai kita mengalami hal seperti itu”. Dengan
terbahak-bahak Raisyah tertawa dengan perkataanku tadi, “aku langsung menyapa
mengapa engkau tertawa”? “Apakah engkau tidak ingin menjalin hubungan
denganku”? tanyaku sambil menundukan kepala. Raisyah menjawab “Bukan begitu,
aku cuma tidak ingin kalau kita menjadi seperti kisah nenek itu tadi”.
“Oh...aku kira kamu tidak mau suka dengan perkataanku tadi” jawabku dengan
lantang dan percaya diri, bahwa ada harapan Raisrah akan mau menjadi pacarku
setelah kami sudah lama berteman.
Karya: Antedi
Kabut
Masa Lalu
Matahari belum tinggi. Namun
sinar itu sudah menyilaukan mata. Cahaya redup yang menembus dari celah
langit-langit rumah, mau tak mau membuat penghuni di dalamnya terjaga. Kokok
ayam itupun menadakan pagi telah datang.
Ambran bergegas bangun dari
tempat tidurnya. Menuju keran yang ada di belakang, berwudhu, lalu khusyuk
dalam solat dua rakaat itu.
Jarum jam menunjukan pukul
lima lewat lima belas menit. Traning hitam telah terpakai, kaos oblong pun
sudah melekat di badan. Dengan sebuah tas ransel kecil, Mbran memasukan kamera
ke dalamnya. Mengikat tali sepatu dan berlari kecil menuju Benteng.
Langkahnya terhenti, keringat
yang mulai menetes dari pelipisnya, diusap seketika. Ambran melonggo. Secepat
kilat ia membalikan badan. Berjalan setengah berlari, lebih cepat dari
sebelumnya.
Astaga! Pintu rumahku belum
terkunci!
*****
Ambarn berjalan berlari kecil
melintasi belakang gedung kantor walikota Palembang. Menembus jalan melewati
lorong Sekanak. “Jalan tikus juga masih
ada di tempat seperti ini”. Ambran menggumam.
Pagi yang segar mengantar
langkah kaki Ambran ke arah Museum di B Benteng Kuto Besak. Salah satu tempat
wisata yang terletak di tengah kota Palembang. Ambran mengamati sekeliling,
sambil sesekali melakukan pemanasan badan.
Kreeekk!!
Bunyi derit pintu itu
terdengar pilu di telinga.
Reflek, Ambran menoleh ke
arah suara.
Ya, begitulah bila tempat bersejarah
yang kurang terawat. Padahal tempat ini begitu banyak menyimpan aset sejarah
puluhan tahun lalu, tapi entah mengapa pemerintah seolah enggan, untuk terus
memperhatikannya.
Seorang lelaki paruh baya
masuk kedalam ruangan itu. Menggambil sapulidi dan keluar kembali.
Srekk.. srekkk.. srekkk.
Gerakannya lamban, namun
suaranya terdengar jelas. Sedikit demi sedikit tumpukan daun kering itu
terkumpul pada satu tempat. Halaman ini,meski bersih, besar, dan rapi, tetapi
tak banyak menarik perhatian pengunjung untuk datang.
Seharusnya tempat ini ramai
akan penduduk lokal. Biaya ongkos masuknya pun tak mahal, hanya dua ribu
rupiah. Tak bisa dipastikan dengan jelas pula, mengapa museum yang terletak di
tengah kota ini menjadi tidak begitu diminati masyarakat lokal.
Pak Rahmadi, yang biasa
disapa pak Adi ini, merupakan seorang petugas kebersihan museum Sultan Mahmud
Badarudin, yang ada di kota Palembang. Usianya yang telah lebih dari separuh
abad menandakan bahwa bangunan itu juga sudah lebih tu dari usianya sendiri.
Lima belas menit kemudian
aktivitasnya berhenti. Ia kemuadian berjalan mnuju sebuah jalan stapak dari
samping kanan banguna. Duduk di sebuah meja bawah pohon akasia, menunggu
pesanan lontong sayur, menu sarapannya pagi ini.
Amran menghentikan jepretan
kameranya setelah aktivitas orang itu pun berakhir. Meletakan benda itu kembali
ke dalam ransel, Kemudian lahap dalam menu makannya pagi ini.
*****
Semangkuk bubur ayam itu
telah lama kosong. Air teh hangat itu juga telah mencapai pada tegukan
terakhir. Namun Amran masih duduk di sudut meja sebelah kiri warung. Matanya liar
menjelajah setiap yang tertagkap oleh pengelihatannya. Lalu berhenti pada satu
tempat.
Ia bangkit berdiri, membayar
makanan itu dengan beberapa lembar uang ribuan.
Langkahnya yang pelan dan
tegas itu diirigi derai suara burung-burung kecil yang beterbangan dari sebelah
utara.
Kicau burung yang saling
bersahutanmenambah segar suasana di pukul delapan pagi ini. Arloji bermerk itu
tampak berkilau terkena sinar yang menyusup tipis dari cela pepohonan.
Sambil bersiul santai, ia
masih berjalan. Amran memasukan kedua telapak tangannya pada saku celananya.
Langkahnya pelan. Sungguh menawan.
Sesaat langkahnya terhenti. Kembali
kamera kesayangannya bekerja. Sayang bila momen seindah pagi ini dilewatkan.
Puncak jembatan Ampera yang muncul dari balik rimbunan pohon-pohon besar
menambah nilai estetik tersendiri bagi orang-orang pencinta seni seperti
dirinya.
Satu dua kali, Amran
mengakhiri kegiatannya.
Menit berikutnya, Amran kembali
menikmati pemandangan dengan menghabiskan segelas es kelapa muda. Waktu memang
belum tepat pukulsembilan, tapi keringat sudah lumayan membanjir di sekujur
tubuh.
Hanya berjalan berkeliling
luar bangunan ini saja, sudah membuat lelah. Gumamnya dalam hati. Amran
tersenyum, membayangkan perkataannya sendiri.
*****
Potret kehidupan kota
Palembang telah berubah dalam kurun waktu yang singkat. Yah, kurang lebih hanya
satu tahun yang lalu. Ketika Amran memutuskan untuk pergi merantau ke
Yogyakarta. Melanjutkan studinya di kota pelajar itu.
Museum ini, langkah awalnya
kembali untuk meneruskan budaya daerahnya yang telah lama tertinggal. Tempat
ini asri, bersih, namun jarang terjamah oleh orang-orang.
Lari kecil lagi. Joging
kembali ia tekuni.
Tiiiiiinnn......!!!!
Klakson panjang terdengar
nyaring. Seluruh orang yang berlalu lalang, serentak menoleh ke arah yang sama.
Amran pucat. Peluhnya membanjir. Ya tuhan, nyaris saja nyawanya melayang.
Mulut mobil itu sangat tipis
menyentuh kaki Amran. Kalau saja derit rem supir itu tidak ahli, bisa
dipastikan, detik ini ia sudah tidak bernyawa lagi.
Heiii...!! punya mata tidak?!
Kau pikir ini jalan nenek moyangmu apa? Kalau mau nyebrang itu liat-liat. Dasar
tidak punya otak!
Sopir angkot itu mamaki
dengan sumpah serapahnya. Amran hanya diam di tempat, membayangkan peristiwa
yang baru saja terjadi. Mukanya jelas masih memucat.
*****
Air mineral dalam botol itu
sudah habis setengahnya. Jantung Amran masih cepat berpacu. Irama dan detaknya
tak beraturan. Kaos putih itu sudah kotor dimana-mana. Pulang rasanya jauh
lebih baik.
Sekali lagi berputar
menggelilingi serambi luar museum ini. Sayang Ambran tak masuk ke dalam. Ia
datang di hari libur nasional, bahkan penjaga museum itu pun tak mengizinkan
para wisatawan yang berkunjung untung masuk. Ya, hanya sebatas melihat-lihat di
luar pelataran.
Asyik dengan pemandangan
sekitarnya, sebuah suara datang tepat menuju kepadanya.
“Kau Ambran kan?” Ah, tak
salah lagi, kau pasti Amran.
Ambran mengeryitkan dahi.
Senyum kecil kembali ia pancarkan.
Tak ada yang ia katakan ia katakan. Ambran berpikir.
Siapa orang itu, ucapnya
dalam hati.
Ayolah kawan, secepat itukah
kau lupa padaku? Orang itu berseru kembali, membuyarkan lamunan Ambran.
Kerut di dahinya semakin
banyak. Semakin keras ia berpikir. Seseorang yang menarik perhatiannya. Orang
itu seolah tak asing.
Amran lupa orang itu, tapi ia
tau, orang itu juga mengenalnya.
Aku Sardi. Teman SMA-mu dulu.
Sardi, teman sekolahku dulu?
Apa iya. Ambran berkecamuk lagi dalam pikirannya.
Apa kabarmu kawan? Orang yang
mengaku bernama Sardi itu menjabat tangan Ambran. Bagaimana studimu di kota
pelajar. Kudengar kau semakin sukses sekarang. Sardi terus bercakap sambil
mengajak Ambran duduk di pinggiran sungai musi.
Kau tau Am, beginilah hidupku
sekarang. Selepas masa sekolah kita tahun lalu, aku bekerja sebagai pengemudi
kapal ketek ini. Kerjaku mengantar para wisatawan keliling sunagi musi, hingga
sampai ke pulau kemarau. Begitulah setiap harinya. Bila sedang ramai pengunjung
di hari libur, omset yang aku terima bisa melebihi target. Tapi, bila sedang
sepi, seharipun pernah tak kudapatkan.
Ambran diam mendengarkan
dengan cermat cerita kawan lamanya itu.
Oh ya, aku lupa, kau sudah
terlalu banyak mendengar ceritaku. Namun tentu kau masih belumingat padaku. Tak
apalah. Wajar jika teman lama yang sudah sekian bulan merantau, akhirnya lupa
pada teman sejawat.
Sardi tertawa getir. Entah
apa yang ia tertawakan.
Kau beruntung kawan. Hidupmu
bisa sukses sekarang. Memang belum lama kau merantau, namun laju kehidupanmu
sudah bisa ditebak. Sedangkan aku, hanya meneruskan pekerjaan orang tua. Sardi
tersenyum pahit.
Jikalau ada yang bisa aku
lakukan, aku sangat ingin membantumu teman, akhirnya Ambran buka suara.
Tak perlulah. Begini juga
hidupku sudah cukup. Aku hanya tak ingin menjadi beban orang lain. Tapi ingat,
kalau ada “lokak, bebagilah dengan kawan[1]”
Sardi tertawa lagi. Ambaran pun ikut tersenyum.
Lalu, apa aku tidak
mengganggu waktu kerjamu hari ini Sar. Maaf
mungkin aku butuh waktu lebih lama lagi
untuk mengingatmu. Namun aku tau, dulu aku memang pernah mengenalmu.
*****
Arloji Ambran bergerak
menunjukan pukul sepuluh pagi. Terik matahari menyengat ke pori-pori kulit.
Kulitnya yang putih, nampak kemerahan. Setelah pertemuannya dengan sardi tadi,
membuatnya mengenang kisah lama. Sehelai kisah klasik di tahun sebelumnya.
Di sudut taman museum itu,
dua orang muda-mudi saling diam. Terpekur dalam pikiran masing-masing. Masih
terekam jelas diingatan Ambran, masa lalunya bersama Viona.
Saat itu, tiga hari sebelum
kepergian ke kota Yogya, Ambran menemui gadis manis itu. Hanya sekedar
mengucapkan kata perpisahan.
Kau serius Am, apa tidak ada
pilihan lain. Beasiswa itu benar-benar ingin kau ambil. Ambran melihat setitik
butir yang mengalir dari sudut mata gadis itu.
Aku yakinVi, keputusanku
sudah bulat, orang tuaku sangat mengaharapkan keberhasilanku dikota itu.
Kuharapkau mau mengerti.
Viona terisak, diam dengan
butiran kristal yang terus mngalir.
Ambran tersenyum mengenang cinta
lamanya. Begitu banyak yang dia temui. Satu tahun membuatnya meninggalkan
kenangan begitu banyak di sekitar museum dan pesisir sungai ini.
Larut dalam lamunan,
tiba-tiba tubuhnya limbung.
“Aduh!” Ambran meringis
kesakitan. Tangannya mengusap-usap pergelangan kakinya. Sedikit darah segar
terlihat mengalir keluar dari celah lukanya.
Sial! Ambran mengerutu.
*****
Belum satu hari di tempat
ini, banyak sekali kejadian yang aku alami. Dasar nasib.
Ambran berjalan
terpincang-pincang menuju tepi pinggiran jalan.
Setelah bertemu teman lama, tersandung
batu karena lamunan tentang gadis masa lalu, terus apa lagi yang akan menimpaku
saat ini? Ah! Persetan! Ambran menyumpah.
Ujung jarinya masih berdarah.
Warnanya merah nyaris mebiru. Oh tuhan.
Hei, bisa rapi kah kau
berkerja! Seru seorang kuli bangunan dari atas itu.
Hah! Kesialan apa lagi yang
akan aku dapatkan di sini. Bisa mati kali ini kalu sampai tertimpa batako
bangunan ini.
Ambran berdiri lagi. Berjalan
perlahan. Mencari tempat yang lebih aman.
Ia berjalan memutar arah,
menuju terminal angkutan umum.
Kurasa, jam sepuluh sudah
waktunya untuk pulang.
*****
Sebuah angkot berhenti di
depan Ambran. Ia masuk ke dalam dan mencari tempat paling pas untuk menyendiri.
Ambran terkekeh dalam hati.
Seorang pemuda yang pergi joging sendirian di
kota Palembang. Yang awalnya berniat untuk kesehatan badan. Akhirnya
pulang naik sebuah angkot dengan membawa luka di pergelangan kaki dengan seribu
peristiwa aneh yang terjadi.
Hah, lucu sekali!
Satu tahun itu hanaya
hitungan hari. Sudah begini banyakkah perubahan yang terjadi. Ambran mendumal.
Mungkin palembang memang
bukan tempatku lagi. Hidupku sudah jauh di kota orang. Di daerah perlajar di
pulau seberang.
Memang benar, mana mungkin
aset budaya daerah sendiri bisa berkembang, jika anak-anak muda d dari daerah
asalnya sendiri lebih memilih hidup merantau ke tempat lain.
*****
Antrian angkot itu telah
penuh. Mobil itu mulai bergerak perlahan. Meninggalkan daerah sekitar museum Benteng
Kuto Besak dan pinggiran sungai musi dibawah jemabatan Ampera. Entah kapan lagi
ia akan kembali ke tempat ini.
Yang pasti, sore nanti
merupakan jadwal keberangkatannya kembali keYogya.
Kabut menghilang. Matahari
sudah di atas kepala. Perjalanan berakhir. Ambran dan kota Palembang hanya
sekilas kisah masa lalu. Tentang Sardi teman masa sekolahnya. Tentang Viona,
seorang gadis cinta pertamanya. Dan tentang dirinya dengan semua kesialannya.
*****
Karya: Retno :Larasati P.
“Selamat
Jalan Kekasih Terindahku”
Hari “Ulang Tahun” biasanya memang
menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Karena di hari itulah biasanya terlontar
limpahan ucapan selamat dan doa-doa yang turut serta dipanjatkan. Doa-doa dan
ucapan selamat dari orang terdekatlah yang biasanya menjadi pelengkap sekaligus
spesial dihari ulang tahun. Dihari ulang tahun pula biasanya menjadi moment
atau saat-saat yang tepat untuk seseorang menjahili orang yang berulang tahun,
bahkan menjadi moment yang sangat tepat untuk seseorang memberi kejutan indah
yang berkesan yang nantinya mungkin tak akan terlupakan.
Tepat pada pukul 00.00 WIB, tepat
pada tanggal 17 Mei. Suasana tengah malam itu nampak terasa biasa saja di usiaku
yang sudah terhitung 21 tahun. Tak ada ucapan dari orang-orang terkasih dalam
kehidupanku, termasuk pacarku sendiri. Sedih, marah, kesal, atau sesuatu rasa
seperti nano-nano yang aku rasakan. Aku pun masih merasa aku hanyalah seorang
gadis kecil yang masih sangat butuh bantuan dari banyak orang, yang hidup masih
mengandalkan orang tua, yang masih menumpang tinggal di rumah orang tua dan
masih meminta uang jajan setiap harinya dari orang tua pula. Aku masih merasa
menjadi gadis manja yang sedang mencoba bermetamorfosis menjadi sosok yang
lebih dewasa. Ahhh! Lebih baik aku tidur, memejamkan mata yang sudah sangat
lelah ini, daripada aku harus menunggu dan menunggu ucapan ”Selamat Ulang Tahun”
yang tak kunjung ku dapatkan dari mereka yang terkasih.
Malam telah berganti pagi. Aku pun
terbangun dari tidurku dan melihat handphoneku.
“Ahhhh sangat cepat sekali waktu ini
bergulir,”kataku sambil mematikan alarm dihandhoneku.
Sejenak aku terdiam, melamun dan
terpintas di pikiranku, bahwa aku tidak mau menjadi orang dewasa, aku ingin
terus bermain semasa remajaku. Karena saat remaja hal apapun terasa sangat
menyenangkan. Namun hal itu tak mungkin terjadi. Waktu akan terus berjalan dan
tidak akan pernah mungkin kembali lagi.
Aku pun langsung bergegas menuju
kamar mandi ketika mengguyur tubuhku dengan air, aku teringat hari apa hari
ini. Yaa ternyata hari ini adalah hari Jumat, hari ulang tahunku yang ke-21.
Aku pun langsung semangat untuk mengguyur tubuhku dengan air.
“Semangat ,”kataku dengan mendengarkan lagu Bollywood
Tapi sekejap aku berpikir,, kenapa
hari ini tidak ada yang mengucapkan “Selamat Ulang Tahun kepadaku”, pikirku
dalam hati.
Setelah selesai mandi, aku pun
bergegas untuk memakai pakaian dan langsung membuka lagi handphoneku, berharap
akan ada yang mengirimkan pesan singkat. Ternyata sahabatku Ayu, mengirimkan
pesan kepadaku.
Khe,
jadi kan kita hari ini ke kampus untuk mengerjakan tugas
Diterima:
07:00
WIB
08127886xxxx
Iya
Des, jadi.
Terkirim:
07:05
WIB
08125667xxxx
Haa ternyata pesan singkat itu
bukan ucapan “Selamat Ulang Tahun” dari sahabatku, melainkan membahas tentang
mengerjakan tugas. Aku sangat sedih sekali. Hari ini adalah hari yang begitu
berat untukku melangkah.
Aku langsung bersiap untuk pergi ke
kampus, karena semua sahabatku telah menunggu.
Khe,
kamu sudah dimana?
Diterima:
09:00
WIB
08127886xxxx
Iya Des, aku sudah di bus
Terkirim:
09:05
WIB
08125667xxxx
Oke,
kalau sudah di kampus. Tunggu aku di halte PGRI aja ya, Khe
Diterima:
09:10
WIB
08127886xxxx
Siap
bro :)
Terkirim:
09:15
WIB
08125667xxxx
Sesampai di halte PGRI. Aku menelpon Desi untuk
memberitahukannya kalau aku sudah di halte.
“Halo
Des, aku sudah di halte nih. Buruan ke sini.
“Iya
Khe, ini aku sudah di jalan, sudah hampir sampai.
Aku
pun langsung mematikan telepon.
Tak lama kemudian, Desi datang. Desi
bukan mengajakku untuk masuk ke kampus. Melainkan mengajak ke pasar 16 untuk
menemani Riri membeli sesuatu.
Sahabatku yang lainnya sudah ada di
pasar, tinggal aku dan Desi yang belum sampai di sana.
Setelah sampai di sana, ku lihat
yang ada disitu hanya ada Mentari saja, sedangkan Riri masih di perjalanan.
Aku dan yang lainnya menunggu Riri
di depan sebuah patung Archa Budha dekat Museum Sultan Mahmud Badaruddin. Kami
semua bercengkrama di bawah pohon yang rindang. Menikmati udara pagi hari yang
menusuk sampai ke tulang, menikmati desiran angin dari arah Sungai Musi serta
mendengarkan kicauan burung dan indahnya si kupu-kupu berhamburan di langit.
Membuat aku merasakan damai yang luar biasa.
Aku melamun. Lamunan ku tertuju
pada kaca-kaca museum yang telah rusak, debu yang kian tebal di sisi
ventilasinya, namun museum ini tetap kokoh berdiri dan masih banyak pengunjung
dari luar Palembang maupun turis dari luar negeri dari penjuru dunia. Hanya
untuk melihat dan ingin tau sejarah tentang Palembang. Luar biasa, inilah kota
kelahiranku!
Tiba-tiba, aku dikejutkan dari belakang patung Archa
Budha, dekat kantin. Ada nyanyian Selamat Ulang Tahun.
Happy
Birthday To You
Happy
Birthday To You
Happy
Birthday Happy Birthday Happy Birthday To Khekhe sayang…
Aku menoleh ke belakang. Aku
melihat kerlipan lilin-lilin kecil membentuk angka 21 diatas kue tart dan
untaian nada oleh orang-orang yang istimewa dikehidupanku. Mereka saat itu ada
tepat disaat hari ulang tahunku. Kejutan manis yang ternyata telah mereka
rencanakan dan tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Kejutan itu membuat
aku merasa semua itu hanyalah sebatas mimpi dari buah tidurku malam itu. Namun,
beberapa kali aku tersadar dan menyadari bahwa semua itu nyata.
“Happy Birthday, sayang.”kata Nunu
“Makasih sayang atas surprisenya”jawabku terharu
“Iya sama-sama sayang..
Dalam hati, semua yang ku inginkan
ku ucapkan. Lalu kerlipan lilin-lilin kecil itu ku tiup. Potongan kue pertama,
akan ku suapi pada pacarku tersayang, Nunu. Dan tak lupa sahabat-sahabatku yang
lain juga.
Setelah selesai, Nunu meminta ijin
kepadaku. Karena ada sesuatu hal yang harus diselesaikan. Tak lama dari Nunu,
aku dan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing.
Saat sampai di rumah, aku langsung
merebahkan tubuhku di kasur. Dan tertidur pulas. Sampai terbangun malam hari
sekitar jam 19:00 WIB
Tiba-tiba dari luar sana terdengar
suara motor. Ketika ku lihat, ternyata motor itu adalah motornya kak Iponk,
kakaknya Nunu dan kak Iponk buru-buru mengajakku ke suatu tempat.
“Cepat minta ijin ke mama, papa kamu Khe dan naik
motor kakak!”perintahnya.
Aku tak berani bertanya apa-apa
padanya. Matanya nampak berkaca-kaca. Aku bergegas naik motor kak Iponk.
Aku sangat bingung sekali, kenapa
kak Iponk membawaku ke rumah sakit Charitas?”tanyaku dalam hati.
“Kamu tunggu disini, kakak mau ke resepsionis
sebentar.”
Kami berjalan menuju ruang ICU. Ku
lihat dari kaca pintu. Ku ingin tau siapa yang ada disana. Bagai disengat
listrik ratusan volt. Aku melihat Nunu, pacarku terbaring disana. Aku tak
menyangka, padahal baru tadi pagi aku merayakan hari ulang tahunku bersamanya. Air
mataku pun menetes. Aku melihat ibu dan ayahya sedang duduk melamun. Aku
menghampiri mereka.
“Nunu kenapa. Om, tante?”tanyaku histeris. Kak Iponk
berusaha memeluk dan menenangkanku yang sedang kalut itu.
“Kamu sabar dulu, Khe. Jangan ikut nangis. Nanti
Nunu tambah sedih! Sahut ayahnya Nunu yang ikut menenangkanku
“Iya, tapi Nunu kenapa om, tante? Kenapa tiba-tiba
Nunu ada di ICU?”tanyaku lagi.
“Nunu mengidap kanker otak stadium akhir, Khe.
Maaf, kami semua tak memberitahumu.
Ini keinginan Nunu sendiri. Dia nggak mau kamu sedih di hari ulang tahunmu
ini.”kata ibunya Nunu yang ikut menangis. Kak Iponk yang memelukku pun tak kuasa menahan
tangisnya.
Seorang perawat keluar dan
mempersilahkan 2 orang untuk menjenguk Nunu. Aku dan kak Iponk lah yang masuk
ke dalam ruangan itu. Kami memakai busana yang steril yang telah disediakan
oleh rumah sakit.
“Sayang? Kamu kenapa nggak pernah cerita ke aku
sih?”tanyaku terisak-isak
“akkk…kkkkuu ngg….ggggaak pap….aah kok sa...yyyyang.”jawabnya
sambil tersenyum.
“Cepet sembuh sayang. Masih banyak yang ingin aku
ceritakan kepadamu.”kataku menahan ribuan tetes air mata yang hendak meledak
diujung mataku.
“Lalu, aku mencium kening Nunu.
Kak Iponk yang melihat kami berdua
pun ikut merasakan kesedihan, memecahkan segala suasana dalam ruangan itu.
Tak terasa waktu yang kami miliki
untuk menjenguk telah habis. Terpaksa kami harus meninggalkan kamar Nunu.
Bulan menampakkan wujudnya. Dan
bintang ikut menemaninya. Aku yang sedang duduk melamun di sebuah pinggiran
Sungai Musi bersama kak Iponk menikmati indahnya tanpa seorang Nunu
disampingku. Kami sering menikmati malam bertiga sambil menikmati lezatnya mie
tek-tek pak Karim. Dan akulah yang selalu makan paling banyak, hal itu yang
membuat Nunu mencubit hidungku.
Tiba-tiba suara handphone kak Iponk
berdering, memecahkan lamunan kami.
“Iya bu?” kata kak Iponk menjawab telepon dari
ibunya.
Wajah kak Iponk langsung pucat pasih,
matanya mulai berkaca-kaca. Firasatku mulai tak enak lagi.
“Iya bu. Aku ngerti!” jawab kak Iponk langsung
mematikan teleponnya.
“Ayo berangkat!” kata kak Iponk. Aku tak berani
bertanya apapun
Sesampai di rumah sakit Charitas,
aku melihat kamar ICU kekasihku, Nunu telah kosong. Aku sangat senang sekali,
karena ku kira kondisi Nunu telah membaik dan telah dipindahkan ke rawat inap
biasa. Namun kegembiraanku berhenti sampai disana. Aku melihat ibu, ayah, dan
kak Iponk menangis. Aku mendekati mereka semua.
“Khe, kamu bareng kak Ipon aja ya pulangnya?”tanya
ayahnya Nunu.
“Pulang?”jawabku kegirangan.
Karena ku kira, Nunu telah dibawa
pulang ke rumah. Aku lalu mengiyakan tawaran ayahnya Nunu tadi sembari
tersenyum.
Di perjalanan, aku merasa heran.
Kenapa motor kak Iponk dan mobil ayahnya Nunu mengikuti ambulance? Keherananku
semakin bertambah ketika ambulance itu berhenti didepan rumah Nunu. Begitu juga
dengan suasana di sekitar rumah Nunu yang sangat ramai sekali. Banyak orang
yang memakai baju hitam. Saat aku turun dari motor kak Iponk, aku melihat
bendera kuning yang ada dipagar rumah Nunu. Ada apa dengan semua ini, Tuhan?
Kerika pintu ambulance dibuka, betapa kagetnya aku.
Bagai tersambar petir disiang bolong.
“Nunu!”gumamku tak percaya. Nuunnnuuu!!!!!!”teriakku
semakin kencang.
Tangan kak Iponk mencoba meraih
tanganku dan memelukku. Aku menangis tak karuan.
“Nunu …sayang, kenapa kamu pergi? Kenapa kamu
ninggalin aku disaat aku berulang tahun? Kenapa sayang?”kataku sambil menangis
dipelukan kak Iponk.
“Khekhe, sudah ya? Jangan sedih. Ikhlaskan kepergian
Nunu. Dia juga nggak mau ngeliat kamu sedih dan menangis seperti ini!” kata kak
Iponk mengusap air mataku.
“Lalu siapa yang nemenin kita makan mie tek-tek?
Siapa yang akan menghiburku disaat aku sedih nanti? Siapa yang akan
memberikanku perhatian untuk makan, jangan tidur malam-malam? Siapa yang akan
menemaniku ke kolong langit dekat Museum Sultan Mahmud Badaruddin? Siapa kak
Iponk? Siapa!”tangisku memuncak.
“Tapi Nunu akan lebih sedih lagi jika lihat kamu
nangis!” ikhlaskan kepergian Nunu, Khe.
Kak Iponk mencoba menenangkanku dan memberikan
sebuah kado kedua dan sepucuk kartu ucapan untukku dari Nunu.
Isi ucapan kartunya seperti ini:
Saat nyala lilin membias di wajahmu
Ku satukan doa demi bahagiamu
Di hari ulang tahunmu aku berjanji
Akan terus menjaga hatimu
Tanpa henti untuk selalu mencintai
dan menyayangimu
Selamat ulang tahun, honey. I miss
you
Aku tak akan pernah berhenti untuk
mencintaimu
Aku tak akan pernah mencoba untuk
menduakan hatimu
Setiaku hanya untukmu sampai
kematian yang akan menjemputku
Kau akan selalu dihatiku selamanya
Sekali lagi “Selamat Ulang Tahun”
My Sweetheart :*
Semoga kau tenang di sisi-Nya, kekasihku …
Kau akan selalu ada dihatiku untuk selamanya :(
Karya: Inneke Sarastindi
Taman
Hitam
Matahari
rasanya ingin mencekik ku hari ini. Ini sduah leawat dari pukul 12:00 dan tidak
ada pergeseran apapun dari sang maha Angkasa. Aku sudah lelah menumpukan kaki
pada stiletto Prada yang sekalipun harganya selangit tapi tetap saja 12
sentinya membuat nyilu.Bunga yang harusnya berjaga setelah ku mengalami
kecelakaan ringan di Perumnas. Ia izin untuk tidak datang. Jadi mau tidak mau
aku harus menunggu Siti yang masih mengurus banyinya untuk datang menggantikan
Bunga.
“Han,
apa kamu tidak mau istirahat?? Aku bisa menjadi tempat ini sendirian.” Yuri
muncul dengan segelas air yang langsung ia sodorkan padaku. Tentu saja, seperti
melihat berlian dengan adanya air ini. Aku sangat berterima kasih terhadap
Yuri..!“tidak Yul, harusnya kamu yang mulai istirahat. Tanggal pernikahanmu
sudah semakin dekat. Banyak hal yang harus kamu persiapkan.”
Aku
bisa melihat dari cafe tidak jauh dari tempat ku dan Yuri bicara sekarang ada
pria yang menatap kami. Dia Jovan, atasan kami yang terdahulu yang sekarang di
pindah tugaskan ke Jakarta. Jovan itu, kekasih Yuri.“Ahh, tidak ini saat-saat
terakhirku bisa bekerja seperti ini sebelum ikut denagn Jovan ke Jakarta. Aku
hanya tidak ingin kau merindukanku setelah aku pindah selamanya ke sana.” Kami
tertawa, iri sekali melihat gadis yang tidak lajang lagi tertawa bersamaku.
Gadis yang empat tahun yang tidak Moving-on, karena selalu menunggu cinta yang
bukan miliknya lagi..!
“Maafkan
aku terlambat! Tadi Yongra menangis terus.” Siti muncul dengan nafas
terangah-engah. Sepertinya ia baru mengejar bis di pemberhentian paling
terakhir di dekat rumahnya. Dan harus berlari dari halte yang jaraknya lebih
dari 500 meter dari sini.
“alhamdulilah...
kakak, akhirnya kau datang juga. Aku sudah lelah berdiri menjaga pameran ini
seharian.” Kak Siti pun hanya menggosokkan tangannya meminta maaf dan langsung
berlari meninggalkan aku dan Yuri.Di sana, di balik meja marketing di bawah
tenda sudah ada mbak Dewi yang mengangkat baju sale tinggi-tingggi. Menyuruh
Siti untuk segera masuk dan berganti pakaian..!
“sudah
pulang sana. Aku sudah mau ganti shift dengan Dimas, kau bisa ikut dengan ku
jika kau mau.” Rumah kami memang searah, tapi tidak enak rasanya jika harus terus
menumpang pada Yuri dan Jovan.Aku tahu rasanya sebagai orang yang setidaknya
dulu pernah punya kekasih. Bagaiman jika ruang privasi berdua yang tidak begitu
lama, mengingat jarak rumah Yuri dari tempat ini tidak terlalu jauh..!!
Jadi
harus terganggu karena ada aku, rasanya akan menjadi kacang goreng ketika
pertunjukan sirkus tahunan di mulai. Hahahahaa......“Tidak perlu Yul, aku akan
pulang sendirian. Lagi pula aku masih harus membeli kebutuhanku di minimarket.”“aaa,
baiklah. Sampai berjumpa besok” Yuri langsung bergegas menuju Jovan. Pria itu
meraih Yuri dalam dekapannya yang aku yakini begitu besar mencintainya sambil
mengecup kening Yuri dengan hangatnya.
Aku
sangat iri. Sewaktu kuliah aku sering sekali mengejek Yuri yang selalu
dipermainkan pria. Tapi sekarang mungkin dalam hatinya dia lah yang balik
mengejek ku, si gadis kampus yang dapat memalingkan hati....!
***
Tangan
ku bergerak membereskan jejeran peralatan pembersih kosmetik yang ku pakai.
Rasanya lelah sekali menanggung bedak yang tebalnya tidak melebihi setengah
senti di wajahku....!
Satu
per satu ku tata dengan rapi di atas meja. Hingga tak terasa sebuah buku tebal
sudah berada di tangan. Agendaku. Salah satu yang harus aku belanjakan di
minimarket nanti. Sudah bertahun-tahun aku menggunakan agenda ini hingga tak
terasa sudah lembar terakhir yang ku tulis. Menggambarkan banyak sekali kisah
hidup ku yang ku tuliskan di sini...
Dengan
refleks aku membuka pengait agenda ini. Selembar kertas kusam jatuh di atas
meja. Sebuah kertas foto berumur tahunan yang ujung-ujungnya mulai menguning
dan menekuk-nekuk.
Di
balik rapuhnya kertas ini anehnya ada sepotong memori utuh yang enggan memudar.
Masih melekat dan terlalu malas bergerak dari kalbu ku...Foto bersamanya,
dipertemuan terakhir kami. Empat tahun yang lalu di taman yang tak jauh dari
lokasi pameran ini.Setiap menatap foto ini selalu memancing ku untuk melihat
sebuah lilitan emas putih di jemari manis kiri ku. Mengingat hatiku dengan
kekal abadi.
Hari
itu, dipertemuan terakhir kami sebelum dia mengikuti kemauan ayahnya untuk
meneruskan pekerjaan yang ayahnya rilis. Dia memberikan cincin dan janji, janji
untuk kembali dalam waktu 1 tahun dan menikahi ku dengan semua yang telah ia
bangun. Janji yang sampai nafas ku ini tak mampu ia genapi..!
***
Aku
melongok, tidak salah ini adalah rak peralatan tulis. Aku menunduk melihat
deretan buku agenda dengan harga tidak terlalu mahal tapi kurang nyaman untuk
digunakan. Letaknya yang agak berada di deretan bawah membuat ku kesulitan
mencarinya.
“Ahh..!!akhirnya
tangan ku berhasik mengambil salah satu buku yang kuanggap bagus. Buku tebal
dengan ukiran-ukiran hitam mengkilap di sampulnya. Harganya juga tak melampaui
gaji makan siangku.Dengan barang lain dalam troli ku aku segera menuju kasir.
Perutku terlalu lapar siang ini. Aku harus segera sampai ke kost-an ku dan
memasak untu makan siang dan malam nanti.
***
Aku
tiba di tikungan antara taman kota dan sebuah jalur bis di tepinya. Tong sampah
besar ada di pojoknya. Aku segera mengeluarkan agenda lama ku. Begitu aku
melewati tong sampah itu aku segera membuang agenda itu, termasuk sepotong
kusam di dalamnya..
Aku
pikir memang sudah saatnya untuk membuang agenda itu, berikut potongan memori
di dalamnya. Hanya menyimpan sakit hati saja. Walau aku masih bingung kapan harus
membuka agenda hidup yang baru...!
Mungkin
sudah belasan atau puluhan langkah aku meninggalkan benda besi berat itu. Namun
hati ku mengaum, menolak untuk kembali melangkah dan menolehkan kepalaku pada
tong sampah itu. Dengan tatapan putus asa aku kembali pada tong sampah itu.
Merogok-rogok ke dalamnya. Untung tidak seburuk yang aku pikirkan.
Tangan
ku yang cukup panjang berhasil menangkap buku lama itu. Membuka pengaitnya dan
mengambil foto yang aku tidak tahu mengapa masih berharga bagi ku dan kembali
membuang buku yang tak lagi bernilai itu ke tong sampah...!!Masih belum saatnya
untuk membeli agenda hidup yang baru apalagi membukanya. Hatiku masih terkurung
pada masa yang sama.
***
Dengan langkah yang entah kenapa
menjadi ringan aku melewati taman kota. Taman berjuta memori yang hari ini
lengang. Aku melirik jam ku, jam makan siang sudah sangat terlewati. Jadi taman
yang jelas-jelas berada di antara tingginya gedung-gedung perkantoran yang
menjulang pasti akan sepi..
Hanya
jalan mall yang berada nun jauh di ujung jalan yang ku lewati ini saja yang
ramai. Aku memain-mainkan cincin di jemariku. Memutarnya sesuka kehendak
hatiku. Sekalipun tidak akan pernah lepas, ku lepaskan tempatnya.Aku bingung
mengapa aku masih bersedia saja menunggunya bahkan aku tak tahu keberadaannya.
Kenapa aku masih saja mau memakai cincin yang mungkin tak ada artinya dengan
setumpuk emas di brankas bank nya.
Aku
melamun, membiarkan angin dengan lembut mengucapkan salamnya padaku. Membelai
ujung hidungku dengan lembut. Menerbangkan rambut kecoklatan yang tak ku ikat
dengan tenang....!!!
Sepasang
kekasih dengan dua tas kertas besar di sisi kiri dan kanannya berjalan ke
arahku. Melihat mereka dalam kilasan mata kembali membuatku iri. Iri seperti
melihan Jovan yang begitu mencintai Yuri. Seperti melihat kak Andre yang rela
mendorong mobil mogoknya ratusan meter hanya untuk mengantar Siti yang akan
melahirkan dan tak sanggup berjalan.
Ketika
jarak tak lagi mampu menepis pandangan,
aku tersadar. Berhenti di tempatku dengan memori yang menyeruak keluar dari
pandora dan mata yang ingin keluar dari kantungnya. Pria itu, dengan tangan
manis yang terkait di lengahnya sepasang kekasih yang membuatku iri hingga
membuatku membenci. Pria yang menyorotku dengan tatapan tajamnya itu menghujam
kembali hatiku dengan ribuan kenyataan yang sekarang berujung pahit.
***
“Ayolah Han, aku tidak lama. Hanya
satu tahun, setelah itu aku akan pulang dan kita akan menikah.” Aku masih diam.
Enggan berbicara padanya, enggan berujung kata padanya yang kini membuat resah.
“Han” dia tidak mau bersabar lagi.
Ia menarik paksa tanganku, mengeluarkan sesuatu cukup berkilau dari saku
celananya. Aku langsung menarik tangan ku. Enggan diberi sesuatu sebagai tanda
perpisahan, tapi ia kembali menariknya lagi. Beberapa detik kami habiskan untuk
saling tarik-ulur tagan. Sampai akhirnya aku pasrah, berusaha mempercayainya
setelah dengan lancang menatap matanya.
“Chaaa!!” Dia dengan bangga
mengangkat tanganku dan tangannya. Kedua jemari manis kiri kami telah berhias
lilitan yang sama. Sebuah cincin emas putih sederhana dengan mata berlian
mungil yang tak mau menyembul, mengangkuhkan kulaunya..!
“Sini lihat aku”, Aku menatapnya
lebih dari lancang malah. Sudah kubilang kan kalau matanya itu terlalu teduh
untuk tidak merapuhkan aku? Kedua tangan hangatnya saja sudah sulit ditolak.
“aku berjanji akan kembali
secepatnya. As soon as possible. Setelah menyelesaikan seluruh proyek di
Amerika setelah itu aku akan pulang. Aku akan pulang untuk melamar dan
menikahimu. Aku janji,” aku hanya mengangguk mengiyakan dan memandang tak acuh.
Sekali-kali aku meliriknya, melirik
takut kehilangan. Takut tiba-tiba ia hilang dalam sekejap pandangan. Namun,
nyatanya ia masih di sana. Masih bersandar di sampingku dengan tangan kokoh
yang terulur di belakang sanggahan kepala bangku taman ini. Rasanya sesak.
Sesak ketika tahu orang yang berada di dekatmu mungkin sebentar lagi akan
menjauh...!
Aku beralih menatapnya dengan raut
takut. Meraih ujung halus kemejanya dan meremasnya tanpa bisa mengucapkan apapun.
Matanya menatapku balik. Menyerukan apa yang ku takutkan. Ketika ujung diriku
bertemu dengan ujung dirinya yang hangat takut itu memuncak. Pada tingkat
tertinggi ketika bibir kami tertaut. Hangatnya lebih menjalar namun lebih
menakutkan, lebih penuh akan cinta namun lebih menjurang suatu saat nanti. Aku
belum pernah melibatkan emosi sedalam ini ketika sekedar menautkan bibir dengan
bibir.
“sudah, aku akan lebih sulit
berangkat jika kamu terus seperti ini, Hana.” Sayang, tidak bisakah kamu
menunda keberangkatanmu? Setidaknya hanya beberapa hari. Beberapa hari sampai
aku tidak takut kehilangan mu.”
“Bodoh itu artinya aku
tidak akan pergi. Kau pasti akan selalu takut kehilanganku.” Dua matanya
tersenyum dengan raut menggoda ia mengelus rambutku dengan penuh kasih. Tiba
saatnya aku pergi, dia lepaskan tanganku dan hanya menoleh satu kali tanpa
menggelngkan kepalanya. Tapi hatiku yang terdiam disini, masih enggan berteriak
mencegah kepergiannya..!!
Tanpa sengaja, Hana mengikutinya
ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum dia pergi ke Amerika. Sesampai di
bandara aku melihat Dimas menggandeng seorang perempuan. Di sana hati ku hancur
berkeping-keping, tak dapat membendung air mata lagi...!
Bodoh, otakmu dimana Hana?? Tentu
saja kekasih hatimu yang setia kau tunggu itu sudah memiliki gadis lain. Bukan
anak pegawai negeri yang sekarang hanya menjadi sales. Bukan anak seorang ibu
rumah tangga yang setiap harinya dulu bekerja di toko roti. Bukan, kamu tidak
akan ada apa-apanya dengan pemilik maskapai penerbangan paling besar se-Asia.
Dan gadis di sampingnya? Mungkin dia anak konglemerat negeri ini yang
mendapatkan jodoh dari kelasnya.....!!
Ia menatap jariku yang menembus.
Entah apa yang dia lihat. Yang aku tahu aku hanya berusaha menutupi fakta bahwa
pemberiannya masih kupakai. Bukan itu saja, janjinya pun masih ku pegang.
Stupid.
Ia berjalan melewatiku. Menunggu
angin kelabu yang kini seolah menampar hatiku membiarkan fakta berujar bahwa
aku memang gadis tidak tahu malu berontak udara. Masih saja mengharapkan bulan,
padahal pungguk tak bisa terbang
meraihnya..
Saat
undangan pernikahan antara Dimas dan tunangan barunya, hatiku hancur. Tetapi
masih berusaha datang dan enggan berbasa-basi lagi dengan segala kepalsuan
romantismefana ini. Karena pada dasarnya hanya dia, Hana-ku yang berhak meraih
lenganku memeluknya dengan sayang “ungkap Dimas”.
Ketika gadis itu, Dimas kembali
mengejarku dan kini duduk di samping kemudian bersamaku. Aku sadar, di ruang
tanpa batas dunia. Di angkasa yang tidak terlihat. Ada tembok besar yang telah
mengikat dengan utuh. Mengikat retaknya takdir yang aku impikan. Takdir yang
justru aku hancurkan dalam sekejap malam. Ketika Dimas kembali memamerkan
sederet senyumannya. Aku menusuk jantungku sendiri. Bagaimana kau bisa membuat
gadis yang tak pernah aku cintai bahagia di sampingku tapi menjatuhkan gadis
yang menungguku dalam sekali pukulan ke dasar bumi???
Pernikahan sontak di hentikan karena
tak adanya ikatan batin antara Dimas dan tunagannya. Tetapi Hana tidak
mengetahuinya, karena sudah terlalu sakit hati. Hana pun meninggalkan Kota dan
pergi meninggalkan semua kenangan yang ada. Kenangan tentang kami yang begitu
indah dan menyayat hati dengan sembilu..!!
Dua tahun sudah Dimas mencari ku,
tetapi tak pernah ia temukan. Hana, seandainya kau tahu sekarang. Seandainya
sosok dalam bayangan tadi benar dirimu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku
sangat merindukanmu. Aku sangat
mencintaimu dengan mengatasnamakan apapun di dunia ini. Aku hanya
terlalu pengecut untuk merubah takdir. Aku hanya terlalu brengsek untuk menjadi
takdirmu. Aku hanya terlalu pecundang, menumpahkan emosi kerinduan pada
botolan-botolan vodka yang menjebakku dalam takdir.
Ketika tanganku menempelkan foto itu
tepat di atas jantungku, di atas kalung yang membandul di sana. Dadaku
berdesir, seolah ada tangan gadis itu menyentuhnya. Membantu menyentuh kalbuku
yang entah kapan akan berhenti merindu..!!
Di sebuah kota terpencil ada Hana,
yang masih belum bisa melukan masalalunya yang kelam. Walau telah ada pria lain
yang ingin mengisi hatinya, tetapi masih tak mampu memecahkan dinding hitam
yang ada di hatinya. “It’s really the right time to moving on.” Hana sekali
lagi mengusap air matanya, ia menyesali mengulur keputusan membuang foto dalam
genggamannya tadi. Ia menyesali sakitnya sekarang. Tangan kanannya bergerak,
memutar cincin dari jemarinya menggerakkan dengan asal arah. Kertas foto kumal
di tangannya terlepas. Terbang bersama angin penghujung musim semi yang
mendadak bertambah kencang. Seolah ingin berlari bersamanya meninggalkan
keadaan...
END
KARYA: MARLIANTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar