Senin, 28 Oktober 2013

Cerpen


Apa Sih Enaknya Hari Jumat?

            “Woi…! Ngapaian ngelamun? Kayak orang bego aja.” Tepuk Mega sambil mencibirku.
            “Ah, kamu ini, ngagetin aja. Lagi mikir, tau.”
            “Hmmm…, mikir cewek nih pastinya?” Ledeknya.
            “Wew. Gak lah, Say. Cuma lagi bingung aja.”
            “Ya, bingung kenapa? Serius amat, kayak orang suseh, hehehe…”
            “Gini loh, aku cuma heran aja sekarang, kenapa ya orang lebih suka hari Minggu dibandingkan dengan hari-hari lain? Kenapa sih harus Minggu yang jadi hari favorit untuk bersantai? Coba hari senin disaat orang-orang lagi sibuknya, atau hari sabtu buat ngapalin pacarnya di malam minggu?” Ucapku.
            “Duh, Gusti…! Ampun deh, ngapain mikirin hari favorit? Jalanin aja kale…! Emang sih kalau menurutku, hari yang enak, ya emang hari minggu. Bisa males-malesan, tiduran, istirahat penuh, nonton film kartun dari pagi sampe sore, atau jalan-jalan ke mall, shoping, turing, eating, sampe terkencing-kencing. Ha… ha..!”
            “Itu sih maunya kamu tuh. Itu yang sulitnya kalau hari minggu udah seneng-seneng, eh taunya besok senin lagi, langsung sibuk deh. Sibuk dengan aktivitas awal. Tuh kan jadinya tambah pusing, bukan refreshing.” Jelasku sambil minum es teh.
            “Ya, kalau begitu, menurutmu memang hari apa yang kamu suka?” Tanya Mega sambil menggaruk kepalanya yang tampak seperti kebingungan.
            “Ya, kalau aku, sih, sukanya hari Jumat.”
            “Wah Jumat! Ngapain difavoritin? Perasaan Jumat itu identik dengan serem, terlalu mistis. Hiii….hi…, apalagi malemnya, atut…!” Menggeliat bagai ulat.
            “Itu sih, menurutmu. Tapi bagiku di hari Jumat itu ada sesuatu yang spesial. Saat semua orang sibuk dengan aktivitasnya, tapi masih ingat dengan yang namanya shalat Jumat. Menghentikan waktu sejenak, baik itu nonton tv, jual-beli, makan, atau apalah. Semuanya adem, tenang, dan damai. Rasanya hari Jumat bisa memberikan ketenangan yang sacral terhadap Allah.”
            “Ya, beda bener yang Pak Ustadz. Terus apa lagi tuh yang menarik dari hari Jumat? Perasaan hari Jumat adalah hari yang singkat deh?”
            “Ini, nih yang nggak pernah dengerin para ustadz kalau lagi ceramah. Hari Jumat itu adalah hari liburnya orang yang beragama Islam, loh!” Tegasku sambil mencul kepalanya.
            “Ih, apa sih? Ngeledekin mulu. Maklum deh, kita kan kurang tau ama yang begituan.”
            “Memang sih, bagi sebagian orang yang tau tentang hari Jumat, ada sesuatu yang magic, loh. Tapi dapat dilakukan di malam hari.”
            “Wuih…! Itu, tuh, yang nggak demen, yang buat atut! Serem…!”
“Tapi itu kan bagi mereka yang salah menafsirkan hari Jumat. Seperti kata si T.B., ada rahasia di balik rahasia. Sama tuh ada rahasia di balik hari Jumat.”
“Dukun kale… Berrrr….!” Ledeknya sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya layaknya seorang dukun.
“Ha…ha…ha…!”
“Terus, nih, kalau kamu bandingin hari Jumat dengan hari Sabtu sama Minggu, gimana?”
“Tadi kan dibilangin, hari Jumat adalah hari liburnya untuk umat Muslim. Kalau hari Sabtu, dan Minggu adalah hari liburnya untuk umat Yahudi, dan Nasrani. Satu hal lagi, saat kita santai di hari Jumat, hari Sabtu aktivitas yang kita lakukan tidak terlalu sibuk. Nah, di hari Minggu kita bisa menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan di hari Senin biar nanti nggak kocar-kacir. Kan asik tuh. Semua bisa tertata dengan rapi.”
“Hmmm…, bener juga sih. Ah, sudah. Mega mau masuk kelas dulu, ada mata kulia Pendidikan Kewarganegaraan. Diskusi nih. Duh pusing! Udah ya, Say. Bye-bye! Nikmati aja tuh hari Jumatnya, yah. Jangan lupa Shalat!”
“Ha… ha.. ha.., ya, hati-hati dengan diskusi kelasnya, ya!”



XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra

Cerpen


WEST



D
ia cantik, halus, dan berbulu. Berwarna putih keabu-abuan, memiliki telinga yang panjang, dan pendengaran yang tajam. Serta pandangan mata yang menusuk, dan memiliki taring yang begitu manis. Ekornya yang bergoyang-goyang saat menyambut aku pulang kerja. Dia selalu menggonggong selayaknya anjing, tapi dia bukan anjing. Dia seekor serigala salju yang begitu menggemaskan. Namanya adalah West. West adalah serigala salju Eropa. Aku mendapatkannya secara tak sengaja.
Kala itu, disaat pinggiran kota sedang ditutupi oleh salju yang lebat, aku keluar penginapan untuk membeli susu, kopi, dan beberapa kudapan. Tak sengaja aku melihat seekor serigala kecil di pinggiran kota, di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi, di tengah kesunyian malam yang dingin. Serigala itu ada di dalam sebuah kotak kecil. Aku sama sekali tidak menyadari apa yang ada di dalam  kotak itu. Tiba-tiba kotak itu bergerak-gerak. Aku bingung, dan penasaran. Kudekati, dan,   
“Gukk..!” Aku terkejut. Kotak itu semakin bergerak-gerak. Lalu tiba-tiba, tuing! Kepala seekor anak serigala muncul dari dalam kotak itu. Tuing! Ekornya juga ikut keluar sambil bergoyang-goayang. Matanya biru… Begitu…lucu…! Imut…! Dan menggemaskan..! Langsung kuangkat, dan kugendong serigala kecil itu. Aku sempat berpikir, siapa yang menaruh dan membuangnya? Sungguh kejam! Apalagi dalam keadaan cuaca seperti ini. Karena cuaca semakin memburuk, aku semakin tak tega melihatnya. Lalu, kubawa pulang serigala kecil yang lucu itu.
Aku tahu di penginapan tidak diperbolehkan membawa hewan peliharaan masuk. Jadi, agar penjaga penginapan tidak mencurigainya, kumasukkan dia dalam kotak kardus yang kutenteng seperti tas. Kututup rapat layaknya baju-baju kotor. Aku bergegas masuk. Untunglah, serigala kecil itu tidak bersuara. Sepertinya dia tahu bahwa dia akan dibawa ke tempat yang layak. Dan untungnya si penjaga penginapan sedang sibuk menonton bola.
Sesampainya di dalam penginapan, langsung saja serigala kecil itu kukeluarkan. Dia mengibaskan tubuh, dan ekornya, lalu menjulurkan lidahnya. Aku langsung tahu apa yang ia inginkan. Aku langsung pergi ke dapur mengambil semangkuk susu hangat, dan sepotong roti isi daging. Syukurlah, ternyata ia menghabiskan semua yang aku berikan. Padahal aku tak tahu apakah ia menyukainya atau tidak. Tapi, tetap ia makan dengan lahap.
“Nah, mulai sekarang kamu akan tinggal bersamaku, Oke?” Sambil mengelus-elus kepalanya yang lucu.
“Gukk…!” Jawabnya.
“Hmmm.. Kalau begitu kau akan kuberi nama West..!”
“Gukk.. gukk!”
“Wah, sepertinya kau menyukai nama itu, ya? West… West…!”
“Gukk..!” mengibaskan ekornya.
Aku ingat ketika West masih sering menggigiti bantal tidur. Ia selalu melakukannya saat aku hendak ingin tidur. Aku heran, dan bertanya, apa yang sebenarnya ia mau? Ternyata ia mau aku tidur di dekatnya. Hah? Ada-ada saja. Hampir semua bantal habis digigitnya. Isinya semua berantakkan. Lalu, aku buatkan tempat  tidur khusus untuknya. Ia tidur tepat di sebelahku. Padahal aku selalu kesal dibuatnya ketika ia merusak semua bantal di kamar. Tapi, selalu saja West memperlihatkan wajah sedih ketika kumarahi. Akhirnya aku tak tega membentaknya. Aku sempat bengong seperti orang bodoh. Nih hewan kayak manusia aja, ngerepotin pula! Tapi, West sangat imut…! Kembali aku memeluknya. Ia terlihat begitu manis saat tidur di dalam tempat tidurnya yang dipenuhi dengan bulu-bulu angsa, dan selimut tebal yang telah aku buatkan.
Aku tahu, dan menyadari bahwa West adalah serigala cerdas, dan pandai. Tak pernah buang air di sembarang tempat. Apalagi buang hajat. Ha..ha..ha…! Ketika ia ingin melakukan hal itu, ia langsung pergi ke toilet. Benar-benar lucu kalau membayangkannya. Pernah ketika itu aku sedang mandi, tiba-tiba terdengar suara West yang melolong sambil menggedor pintu kamar mandi dengan menggunakan kepalanya. Aku pikir siapa? Waktu kubuka, dengan cepat West masuk kamar mandi, dan langsung pipis! Oh my God! Dasar, menggelikan.
Kini, West sudah semakin tumbuh, dan besar. Bulunya hangat, halus, lebat, dan tebal. Selalu kupeluk, kumandikan, dan kubersihkan. Matanya semakin tajam, kukunya tak pernah kubolehkan panjang. Soalnya, dia suka menggaruk tanah, dan bila pulang ke rumah selalu dalam keadaan kotor. Tapi West tidak pernah kuberi makan daging karena sejak kecildia memang kubiasakan makan tempe atau tahu, makanan kaleng, serta ikan Tuna yang selalu kumasak terlebih dahulu. Sebab bila seekor serigala dibiasakan memakan daging mentah, dia akan buas dan susah diatur. Jadi, sering tidak terkendali.
West, West, oh West…! Serigala yang lucu, dan engkau adalah peliharaan yang kusayangi. Aku akan membawamu pulang ke Indonesia, dan berharap kau mendapatkan jodoh di sana. Mari kita pulang ke rumah barumu.  

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra

Minggu, 27 Oktober 2013

Cerpen

SURAT 

Puisi:               Cinta Palsu
            “Engkau durhakai perintah Allah
            Padahal di lahir menyatakan cinta
            Di dalam alam ini mustahil
            Di dalam alam ini pun ganjil
                                                Kalau nian cintamu tulus
                                                Niscaya perintahNya engkau taati
                                                Sebab orang bercinta kepada kecintaan
                                                Patuh dan tunduk senantiasa.”

            Semua orang bertepuk tangan mendengar Fandy berpuisi, termasuk aku sahabat dekatnya yang selalu mendukungnya di setiap acara lomba baca puisi bertemakan Islam, karena Fandy adalah orang yang paling suka bila menggeluti soal Islam, dan memiliki bakat bila berpuisi seperti berorasi. Fandy pun turun dari atas panggung, semua orang menyalaminya wajar saja, karena Fandy sudah jelas menjadi juaranya. Fandy pun mendekat ke arahku sambil tersenyum.
            “Asslamualaikum, wahai sahabatku…” Sapa Fandy padaku.
            “Waalaikumsalaman, selamat ya Fan, kamu memang jago kalau masalah puisi Islam..”
            “Ah, nggak juga, hanya kebetulan. Ayo kita makan dulu, perutku sudah lapar.” Ajak Fandy.
            “Traktir nih…!” Cibirku.
            “Tenang aja.”
            Aku dan Fandy menuju kantin kampus untuk merayakan kemenangannya, ya meskipun tak sebesar perayaan yang diharapkan, tapi inilah pertemanan. Yang penting kan kebersamaannya.
            Pukul 13.05, di kantin setelah makan kami masih berbincang-bincang membicarakan kemenangan. Lalu tiba-tiba datang seorang lelaki yang tinggi jangkung agak berjanggut dengan kulit sawo mateng menghampiri kami.
            “Boleh saya gabung?” Tanya lelaki itu dengan senyumnya yang aneh.
            “Oh, silahkan..” Ujar Fandy sambil menggeser kursi dengan maksud memberi tempat.
            “Kamu, Fandy? Yang menang lomba tadi kan?” Tanya lelaki itu kembali.
            “Ya benar, memang ada apa ya? Kamu siapa?” Tanya Fandy penasaran.
            “Hmm, o..ya, kenalin saya Zaidil. Saya kagum dengan cara kamu berpuisi tadi ketika di atas panggung. Menyentuh hati saya terhadap Islam.” Ujarnya.
            “Oh, terima kasih, lalu?”
            “Sebetulnya saya ingin mengajak Fandy ke pertemuan acara saya di mall. Saya ingin memperkenalkan Fandy pada teman saya yang jago juga akan puisi Islam. Sepertinya itu akan menarik bila kita bisa membahas tentang itu…” Jelasnya
            “Ya, bolehlah, tapi… Hmm… Gimana kalau besok saja? Saat ini saya agak capek. Tinggalin nomor HP Zaidil aja, nanti saya hubungin.”
            “Wah, ide bagus tuh, ya udah ini kartu nama saya. Nanti hubungi saya besok jam 01.00 siang di mall restoran Kaniku.”
            “Hmm, oke…!”
            “Kalau begitu saya permisi dulu ya, ada urusan lain nih di organisasi. Assalam..”
            “Waalaikumsalam.”
            Lelaki itu pun akhirnya pergi dengan meninggalkan kartu namanya pada Fandy. Fandy segera memasukannya ke dalam dompetnya. Aku hanya diam mendengar percakapan mereka, karena aku tak begitu tertarik tentang itu.
            “Mau dibawa ke mana hubungan kita… Jika kau terus menunda-nunda.. dan…”
            “Halo, assalamualaikum?” Aku mengangkat handphoneku  yang berdering “Armada”.
            “Oh, ya, iya nanti aku segera ke sana, tunggu aja, waalaikumsalam…”
            “Siapa Win? Tanya Fandy.
            “Nuri, menyuruhku ke rumah sakit, mau pinjem duit. Dia lagi ada masalah, bapaknya sakit-sakitan, jadi aku tolong deh, sekalian amal gitu.”
            “Hmm, amal apa Nurinya?” Ledeknya .
            “Maksud loe? Udah ah aku mau pergi dulu ya. Assalam…!”
            “Waalaikumsalam, hari-hati ya..”
            “Ya…”
            Aku meninggalkan Fandy di kantin. Aku pun segera menuju rumah sakit untuk menemui Nuri yang sedang kerepotan menangani ayahnya yang sakit-sakitan.
            Rabu, 6 April 2011, pukul 11.30 menjelang siang
         Sudah seminggu ini aku tak melihat Fandy, sejak hari perlombaan itu dan aku meninggalkannya terakhir di kantin. Di kelas pun dia tak ada. Aku duduk di halaman kampus di antara pepohonan rindang dengan rerumputan hijau yang sedikit menguning. Sambil makan kudapan ditemani pop ice melon. Dengan cuaca yang sangat menyengat kulit dapat mengeringkan tenggorokanku, aku duduk termangu.
            “Ah… Alhamdulillah…,” pop ice menyegarkan tenggorokanku.
            Tiba-tiba, Fandy muncul berjalan membawa Alquran kecil yang biasanya tak pernah ia bawa.
            “Fandy…!” Teriakku dari kejauhan menyapanya. Fandy mendekat dan menyalami tanaganku.
            “Assalamualaikum!” Ucapnya.
            “Waalaikumsalam, Fan, darimana? Kenapa seminggu ini nggak ada kabarmu?” Tanyaku.
            “Baik, aku lagi ada kerjaan, jadi nggak bisa masuk kuliah belakangan ini..”
            “Oh…”
            Tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu saat dia duduk di sampingku.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ
 يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
          
          “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. [QS. Al-A’raf : 176].” Ucapnya.
            “Kenapa kamu ucapin ayat itu Fan?”
            “Win, aku mau hijrah.” Katanya.
            “Apa maksudmu?” Aku terbengong.
            “Kamu sadar nggak Negara Indonesia ini bener-bener nggak beres, Pancasila yang dituliskan tidak sesuai dengan apa yang dijalankan. Bukankah negara kita ini mayoritas adalah orang muslim? Seharusnya Indonesia menjadi Negara Islam.”
            “Ada apa sih? Aku nggak ngerti yang kamu omongin. Hijrah? Negara Islam? Buat apa?”
            “Pokoknya aku harus hijrah, aku sudah membayar uang sedekah seratus ribu buat awal aku hijrah.”
            “Lalu?”
            “Kamu mau ikut?” Tanya Fandy.
            “Ah, aku nggak ngerti.” Ucapku.
            “Win, aku cuma mau titip surat, tolong kamu serahin surat ini ke ibuku ya, aku bakal nggak pulang, aku mau pergi hijrah…” Sambil menggenggam tanganku memberikan sepucuk surat.           
            “Buat apa sih?” Aku semakin bingung.
            “Aku sekarang mau berangkat, tolong ya sampaikan pada ibu, asslamualaikum…!”
            “Waalaikumsalam…”
            Aku terbengong, Fandy pergi meninggalkanku tanpa memberikan sesuatu hal yang jelas. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi padanya? Apa yang ia lakukan selama seminggu ini? Aku pun meninggalkan kampus menuju rumah Fandy untuk memberikan surat yang dititipkannya padaku.
            Pukul 14.30, tepat di depan rumah Fandy.
            “Assalamulaikum..”
            “Waalikumsalam..” Ucap ibu Fandy yang keluar dari pintu rumah.
            “Eh, nak Erwin, ada apa? Mana Fandy?”
            “Fandy katanya mau pergi, dia cuma titip surat ini tante sama Erwin.”
            “Surat?”
            “Iya, ini suratnya…”
            Dibukanya surat itu, dan aku juga melihatnya yang isinya,
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                                                                                                            Bandung, 05 Mei 2011
                                                                                                              Yth. Ibunda tercinta
                                                                                                                        Di rumah

            Asslamualaikum.
            Bunda yang Fandy sayangi, maaf ya bun, Fandy nggak bisa pamitan langsung sama bunda. Ini sudah Fandy pikirin matang-matang, Fandy mau pergi dari kota ini. Fandy ikut temen, soal kuliah Fandy sudah urus semuanya. Bunda jangan khawatir, Fandy bisa jaga diri.
            Fandy mau mencari arti Islam sejati, jangan cemaskan Fandy ya Bun, jangan cari Fandy, karena Fandy sudah menemukan tempat yang benar-benar seharusnya Fandy tempati, yaitu di sebuah organisasi yang Fandy geluti saat ini. Di sana Fandy bakal tenang dalam hal Islam.
            Tolong titip salam ya Bun sama adek, paman dan bibi. Fandy pamit. Fandy sayang kalian semua, terimakasih atas didikan Bunda selama ini.
            Wasslamulaikum.

                                                                                                            Anakmu tersayang


                                                                                                Muhammad Fandy Al-Rasyid
            “Tante, ada apa?” Tanyaku.
            “Fandy ke mana Win?”
            “Erwin cuma sebentar ketemu Fandy, terus Fandy langsung pamit sama Erwin, tante..!”
            “Oh…. Ya Allah…!”
             Ibunya pingsan, aku kebingungan. Kupanggil warga untuk meminta bantuan. Terdengar suara televisi dari dalam rumah memberitakan,
            “AWAS!!! NII…! CUCI OTAK!!”
            “Mungkinkah Fandy?” aku terlemas kaku.


XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra

Cerpen

NGORKK



     Hujan yang mengguyur ke bumi tak kunjung reda. Tangisannya membuatku bising, apa lagi dentuman-dentuman petir yang mengamuk, dan menggelegar membuat sekujur tubuhku lemas dan ikut merasakan ketakutan. Bahkan si Meong berlari mendengarnya, sampai kaget gitu anehnya. Mau bagaimana lagi dari pukul 04.00 pagi hujan terus turun sampai sekarang pukul 09.00 pagi. Tapi bukan itu saja, aliran listrik di rumahku padam!
       Mati lampu! Belum juga nyala tuh listrik, kalau terus dipikir-pikir mungkin ada tiang listrik yang roboh kali, ya? Atau mungkin ada gardu listrik yang rusak? Kesambar petir tuh! Wah gawat deh kalo sampe seharian, film kesayangan, masak nasi, dan terutama handphoneku!! Tidak…!
   Gawat..gawat…! baru sadar diriku, ya Allah jangan deh lama-lama mati lampunya, please..please… Allahkan Maha Keren, please ya, hidupin listriknya! Amin..amin…!
      Inilah yang tak kusuka kalo lagi libur kulia, mati lampu pula, tak bias melakukan apa pun,baterai handphone sudah sekarat, mau update status facebook nggak bakal cukup deh. Ampun.. ampun! PLN kenapa kau matikan listrik ini? apa daya diriku tanpa listrik hari ini? Seperti orang purba, semua serba manual, kembali ke desa deh kalo kayak gini.
     Pasrah? Oh, tidak bisa! Harus ada yang kulakukan. Ini hari liburku, meskipun mati lampu tak ada kata bermalas-malasan. Harus melakukan sesuatu. Apa ya? Mikir dulu, hmm… Oke yang pertama masak nasi aja, tapi gimana caranya? Masak air aja gosong, mau masak nasi? Hancurlah nasiku kalo cara manual. Gimana kalo cuci baju? Ah, ogah deh, nanti tanganku yang halus,dan kukuku yang cantik ini bisa rusak. Apa lagi cuci piring, males banget deh. Ya udah deh, nyapu rumah aja dulu, tapi ntar capek…! Nah, aku tahu apa yang tepat! Nggak capek, tangan nggak rusak, bisa nyantai, nggak pusing-pusing mikirin lampu, makan atau apa pun deh, lagian ini juga hari libur. Yang pertama kulakukan adalah tidur seharian sampe puas. Udah ah… tidur dulu… NGOO..oorkkk…! Zzz….tt…!

Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis  Karya Sastra

Cerpen

MAWAR LIAR


            Aku ini indah, cantik dan selalu berseri. Wangi apalagi, siapa yang tak suka diriku yang baru mekar berseri. Tak ada manusia yang berani menyentuhku, bila ada yang menyentuhku pasti terluka, karena Aku berduri. Tak ada yang mudah mendapatkan Aku. Akulah mawar liar. Aku berseri di kedalaman hutan yang jarang dikunjungi orang. Tapi hingga suatu ketika ada sesuatu yang tak pernah kuduga.
            “Win, kemari deh, coba deh lihat, ada mawar cantik di sini.”
            “Mana?”
            “Ini loh, sini buruan. Cantik banget mawarnya.”
            “Ririn, di hutan kayak gini ada mawar? Eh iya, ya kok  bisa ya? (terbengong dan tercengang) Iya cantik…. Ambil deh bawa pulang!”
            “Gimana? Aku nggak bawa sekop kecil, tuh ada durinya gede-gede, sakit lah.. luka nanti tanganku.”         
            “Tunggu, aku kayaknya bawa deh, nih ada pisau kecil.”
            “Wah beruntungnya diriku, he..he…he…!”
            “Inget sampe akarnya, dan bawa tanahnya juga, ntar biar nggak mati di tengah jalan.”
            Aku dicabut!!! Oh tidak!!! Sakit rasanya! Ada manusia yang mengambilku. Apakah aku dapat hidup nantinya? Aku takut. Aku dibawa dua orang gadis kecil, apakah mereka dapat merawatku dengan benar? Aku dimasukan ke dalam kantung plastik berukuran sedang dengan segumpal tanah. Rasanya Aku mulai merasa panas. Karena hari begitu terik menyengat semua partikel pembuluh xylem dan floemku. Aku haus…! Air..air… Aku minta air… inikah akhir hidupku? Selamatkan aku…! Help me… help me… please…!
            Aku dibawa keluar hutan, melewati pasar dan perkotaan dengan kendaraan yang merusak polusi udara membuat aku sesak menyerap Co2 di perkotaan ini. Hingga Aku tiba di sebuah rumah sederhana dengan taman yang sedikit luas. Kulihat banyak tanaman bunga. Ya, pastinya Aku tidak kesepian di sini. Tapi mereka tidak secantik diriku. Ho…ho… sombongnya diriku.
            Aku di letakkan dalam sebuah pot yang berukuran sedang. Pemindahan dalam penanamanku berlangsung baik, tapi Aku masih harus beradaptasi dengan tempat baruku ini yang masih belum terasa nyaman karena Aku masih biasa hidup di hutan.
            Wina, gadis cilik yang membawaku kemari, langsung menyiramiku dengan air segar. Oh… nikmatnya…! Lalu dituangkannya pupuk kandang ke dalam tempat baruku, dan diletakkannya Aku di tempat yang teduh tak panas tanpa cahaya matahari yang terlalu menyengat. Gadis yang pintar.
            Empat hari telah berlalu, Aku masih terlihat segar. Gadis kecil itu merawatku dengan rutin. Dua kali penyiraman dalam satu hari. Tiap pagi dan petang ditambah pupuk kandang yang membuatku merasa segar dan tumbuh subur.
            Hari ke lima, hari minggu pagi. Dari jendela rumah kulihat gadis itu tampak sibuk dan ceria dengan dandanan rapi. Ternyata ia ingin pergi ke rumah paman dan bibinya di salah satu wisma, karena anak gadis bibinya menikah. Tapi sepertinya ia melupakan Aku pagi ini. Ia tak menyiramiku dan memberikanku pupuk seperti biasanya. Memang Aku bisa bertahan, tapi apakah Aku bisa tahan di siang hari nanti?
            Matahari begitu terik, menyengat, dan udara panas membuat Aku kewalahan. Daun-daunku tiba-tiba menguning. Tiada orang di rumah ini, semua pergi, hanya terdengar anak-anak kecil di samping rumah Wina yang sepertinya sibuk bermain bola. Lalu,
            “Suiiii……….nnng…!” sebuah bola meluncur ke arahku.
           “Praakk…!” Pot tempat tinggalku hancur dan Aku membuyar…! Tanah hitam berserakan, Aku terkapar kaku di teras rumah yang begitu teriknya terkena sinar matahari di siang bolong.
            “Wah Don, mabil tuh bola, payah loe..!”
            “Iya.”
            Datanglah seorang bocah yang tanpa dosa berlari mengambil bolanya, dan langsung kabur tanpa rasa iba terhadapku.
            “Tok, gawat, pot mbak Wina pecah! Gimana?”
            “Ah biarin aja, pot juga kan? Ntar ganti aja kenapa? Rumit amat.”
            “Oke deh!”
            Aku berantakan, Aku mengering, layu, tanpa air, tanpa ada yang memperbaikiku, dan iba terhadapku. Aku tak kuat lagi. Hari semakin panas, Wina juga belum kembali. Andai Aku masih di hutan pasti Aku tak akan seperti ini.
            Sore, pukul 04.30, semua keluarga Wina pulang. Wina langsung membawakan air segar dan menuju teras rumahnya untuk menyiram mawarnya.
            “Mawar…mawar… aku akan menyirammu, maaf ya tadi pagi lupa…he..he…”
            Lalu, “Mama….!!! Mawarku…!!!” Teriak Wina penuh histeris.
            “Apa sayang?” Langsung ibunya bergegas melihat putrinya.
            “Mawarku ma, kenapa kayak gini? Siapa yang ngancurinnya?”
            “Ya udah, jangan nangis, besok kita beli mawar yang bagus.” Hiburnya.
            “Tapi ma… hiks…!” tangisnya.
            “Iya udah, nanti mama diganti.”

Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra

Kamis, 24 Oktober 2013

Cerpen


Tak Seindah Kenyataannya

Orang-orang bilang bahwa aku ini ganteng, cakep, kaya, hidup nyaman aman tentram dan damai. Mereka selalu memujiku dan mengeluhkan hidupnya kenapa tak seperti diriku. Memang benar itu kenyataan, aku kaya, tampan, rumah mewah, uang berlimpah, mobil gonta-ganti, villa di sana-sini. Siapa yang tak mengenalku? Pengusaha muda yang tampan gagah bagai pangeran, siapa wanita tak bakal tertarik denganku? Hah… hanya orang bodoh yang tak mau denganku.

            Benarkah seperti itu? Apakah aku benar-benar sempurna? Apakah aku bahagia dengan keadaanku yang kaya? Tentu saja, tapi itu dulu. Ketika aku masih belum mengenal pahitnya hidup.

            Aku memang dilahirkan dalam keadaan yang serba mewah. Dari kecil hingga aku dewasa dan menjadi pengusaha sukses yang mewarisi semua harta kekayaan ayahku. Harta kami memang tak akan pernah habis sampai tujuh turunan, bahkan ibuku pernah berkata, “Kita ditakdirkan Tuhan untuk menjadi orang kaya selamanya.” Semua orang iri pada kami, karena kami orang yang serba mewah. Ketika aku mewarisi semuanya, maka keserakahan muncul dari dalam hatiku untuk memiliki segalanya. Aku tidak pernah merasa puas apa yang telah aku miliki semuanya, dari tanah, rumah, villa, mobl, serta wanita dengan mudah aku beli lalu kucampakan sesuka hatiku. Padahal baru dengan wajahku ini saja mereka sudah kelepek-kelepek­ apalagi kalau mereka meliaht isi dompetku yang semuanya dollar, dan kartu kredit, mata mereka berubah derastis.

            Tapi sayangnya, ketika aku  menikah dengan seorang gadis yang telah menjadi pilihan hatiku, malah hidupku berubah. Kupikir setelah aku menikah, aku akan mendapatkan kebahagian sesungguhnya dalam hidup. Menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, tapi nyatanya aku tak mendapatkan kebahagian seperti yang kuharapkan. Tiap harinya selalu ada tangisan. Tak pernah ada senyuman. Karena anak-anak yang kulahirkan semuanya cacat. Dari tiga anak, satu anak lelaki dan dua anak perempuan tak ada yang normal, mereka semua serba kekurangan anggota tubuhnya sejak lahir.
            Awalnya kami bisa menerima kelahiran anak pertama kami yang cacat  lumpuh layu, dan memutuskan untuk menghasilkan benih yang lain yang diharapkan terlahir dengan keadaan fisik yang sempurna. Tapi anak yang kedua juga sama, dia buta, dan tuli. Istriku menangis sejadi-jadinya saat itu. Aku menasehatinya untuk bersabar. Dua tahun berselang, aku dan istriku memutuskan untuk menghasilkan anak lagi. Hasilnya malah bertambah parah. Anak ketiga kami tak memiliki lengan. Istriku menangis kembali. Aku terdiam dan terduduk pasrah. Aku malah bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya apa salahku? Kenapa terjadi seperti ini? Lalu aku tersadar, dulu sewaktu masih muda aku memang sering menyakiti hati wanita dan tak pernah mensyukuri nikmat Tuhan. Inikah hukum karma untukku?
            Akhirnya aku putuskan untuk mencari semua mantan-mantan pacarku, dan meminta maaf kepada semuanya. Tapi itu semua tak semudah membalikan telapak tangan. Aku malah dihina, dicaci, dan dimaki, malah diludahi, hingga aku harus bersujud di depan mereka untuk memohon maaf atas segala perbuatanku. Malah ada salah satu mantanku yang sampai hamil, dan memiliki anak dariku tapi tak pernah kuketahui. Ketika itu aku malah mencampakkannya saat ia tengah hamil muda. Dia malah tak ingin mengenalku lagi karena terlalu sakit hati, dan tak mau memaafkanku.
            Tiga hari setelahnya, aku kembali kerumahnya dengan membawa istri dan ketiga anakku yang cacat. Aku kembali memohon maaf padanya dan menangis dihadapannya. Aku dan isttriku menangis di depan keluarganya. Hingga akhirnya ia pun merasa iba melihat keadaan ketiga anakku yang lahir dalam keadaan cacat dan ia pun mau memaafkanku dengan catatan aku harus membesarkan anaknya, dan menjadikan anaknya orang yang berhasil kelak. Meskipun awalnya istriku tidak menerima, tapi ia putuskan untuk menerimanya juga demi kebaikkan bersama.
            Hingga kini kami akhirnya menemukan kebahagian kecil dengan  rasa syukur yang besar meski hidupku tak sempurna seperti aku masih muda, tapi kini tak masalah lagi bagiku meski dengan tiga anakku yang tak sempurna dengan nak satu anak yang kuciptakan tanpa kuketahui. Itu semua adalah kesalahan dan cobaan yang harus kuperbaiki. Akan kuterima hingga akhir hayatku.
Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra