Kamis, 24 Oktober 2013

Cerpen

Gila

               “Kitty, malam ini kita makan apa, ya?” Tanya Gina pada kucing kesayangannya.
              “Lagi pula kita kan cuma berdua, mama sama papa pergi, aku suntuk di rumah. Cuma kamu yang nemenin aku.”
               Hari semakin sore, terlihat diperaduan awan yang menghitam mendung tampak menggelegar petir menyambar sore itu, tapi Gina masih memeluk kucing kesayangannya sambil menonton televisi.
              “Selamat sore, dua hari yang lalu di Rumah Sakit Jiwa Nusantara telah terjadi pelepasan pasien, banyak pasien yang telah kabur, sampai saat ini polisi, dan satpam rumah sakit masih mengejar para pasien. Diharapkan para masyarakat selalu di rumah, dan mengunci pintu, karena terdapat pasien gila yang suka membunuh. Diperkirakan salah satu pasien menuju Jl. Kapuas. Harap berhati-hati. Sekian berita Headline News.”
            Gina terkejut, dan takut mendengar berita itu karena Jl. Kapuas adalah jalan rumahnya.   Tiba-tiba!
            “Ting-tong….!”
            Terkejut Gina mendengar bel rumah berbunyi. Ia melihat ke kaca pintu rumah. Dan Gina pun bertanya.
            “Siapa itu?” Dengan perasaan cemas ia bertanya.
            “Apakah ini rumah Bapak Ryntoro?” Balik bertanya sang pemencet bel.
            “Bukan, ini rumah Bapak Darno, anda siapa?” jawab Gina dan bertanya ulang .
            “Saya Ridwan, saya anak buah dari Pak Ryntoro, saya kira ini rumahnya. Karena saya ditugaskan mengantar berkas-berkas penting kerumahnya. Karena sudah dua hari Beliau tidak masuk kantor.” Jawab lelaki itu.
“Oh… tapi maaf ini bukan rumah yang Anda maksud. Mungkin Anda salah rumah ? Mungkin rumahnya ada di sebelah?” Diam sejenak lelaki itu.
“Kalau begitu terima kasih nona, mungkin benar saya salah rumah. Maaf sudah mengganggu”
“Sama-sama”
Lelaki itu pun pergi sejenak, melihat dan menoleh samping kiri, dan kanan rumah, tapi tidak ada satu pun rumah yang ada di sana. Hanya perkebunan, dan hutan.
“Lah! tidak ada rumah lagi di sini…? Ah aneh juga wanita itu, tadi bilangnya ada rumah di samping, tapi hanya hutan dan kebun ubi?” Heran lelaki itu.
Lalu lelaki itu pun kembali kerumah Gina dan menekan bel rumah itu kembali.
“Ting-tong ….Ting-tong!!!”
“Aduh siapa lagi sih, mengganggu saja.” Gina pun kembali melihat, dan mengintip kaca jendela.
“Kenapa dia kembali lagi?” pikirnya dalam hati dan ia pun berkata padanya.
“Hei kenapa kau kembali lagi?” Dengan meninggikan suaranya yang agak kesal.
“Oh maaf Nona saya sudah mengganggu lagi. Tapi saya hanya ingin bertanya, kenapa tak ada rumah di sekitar sini? Kata Nona tadi rumahnya ada di sebelah? Tanya lelaki itu.
“Memang tak ada rumah di sekitar sini , tapi mungkin kau salah alamat!!” Jawab Gina dengan kasar.
“Hmm..ya mungkin Nona benar... aduh kenapa bodohnya aku ya, maafkan aku Nona sudah mengganggumu.”
“ Ada-ada saja lelaki itu, dasar aneh”
Lelaki itu pun pergi menuju mobilnya. Gina kembali melanjutkan menonton televisi bersama Kitty kucing manisnya.
Awan pun terlihat semakin menghitam, dan langit memancarkan cahaya yang diiringgi seruan petir yang menggelegar. Hujan pun turun dengan deras, tapi lelaki itu masih sibuk di luar mobilnya karena mencari kunci mobilnya.
“Aduh di mana kunci mobilku?” Sibuk ia mencari. Dan …
“Wah! payah! masih tersangkut di dalam mobil… dasar bodoh, bagaimana ini? Aku harus berteduh dulu, terpaksa aku harus kembali kerumah itu lagi.” Dengan cepat lelaki itu berlari menuju rumah gadis itu dan menekan bel kembali.
“Ting-tong!!”
Berlari Gina menuju pintu depan rumah sambil berkata, “Siapa lagi sih? Benar-benar mengganggu?”
“Maaf Nona ini saya lagi, boleh kah saya masuk ? Saya tidak bisa pergi sekarang karena kunci mobil saya tertinggal di dalam mobil saya. Tolonglah Nona, saya di sini kehujanan,” memohon lelaki itu pada gina.
“Tidak! Anda tidak boleh masuk!” Tegas gina menjawab.
“Baiklah saya tidak akan masuk, tapi izinkan saya berteduh dan meminjam handuk karena saya bisa sakit bila basah begini.”
“Hmmm (berpikir sejenak). Baiklah, akan kuambilkan handuk, tunggu sebentar.” Gina pun ke belakang mengambilkan handuk untuk lelaki itu.
“Ini ambilah”
“Terima kasih nona.” Dengan segera Gina menutup pintu rumah, dan menguncinya. Ia pun menuju kedapur karena merasa lapar.
Tiba-tiba petir menggelegar, dan membuat lampu lisrik rumah itu padam, tapi hidup kembali. Tapi, terdengar teriakan Gina dari belakang rumah.
“Aaaaaghhhhh……!!!!!” Teriak gina secara histeris. Terkejut Gina melihat kucing kesayangannya tiba-tiba mati dengan darah yang mengalir deras dari tubuh kucing itu. Tiba-tiba lelaki itu muncul dari belakang rumah sambil melihat dari kaca rumah belakang. Gina pun berteriak lagi melihat lelaki itu muncul secara tiba-tiba
“ Aaaa….!!!”
“Pasti kau yang telah membunuh kucingku? Apa yang kau lakukan di sini? Kau pasti orang gila yang sedang dicari polisi di berita tadi?” Tuduh Gina pada lelaki itu.
“Hei… bukan! Bukan saya, Nona yang membunuh kucingmu. Saya saja berada di luar rumah, jadi mana mungkin saya yang membunuhnya!” Cemas lelaki itu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Gina secara mendadak.
“Lalu siapa? Siapa yang bisa membunuhnya? Ini kucing kesayanganku! Siapa lagi yang ada di rumah ini? Hanya kau, dan aku!”
“Ya tapi bukan saya, Nona! Sungguh!”
Menangis Gina melihat kucingnya mati. Dan lelaki itu pun memberikan saran yang tak terduga pada Gina.
“Nona biarkan saya masuk, agar saya bisa melindungimu dari pembunuh kucingmu itu!”
Gina pun menanggapi omongannya.
“Baiklah, tapi ingat! jangan dekat-dekat padaku,” ancam Gina dengan masih rasa tak percaya.
“Baik, tenang saja saya tidak akan berbuat yang macam-macam padamu.”
Lelaki itu pun masuk rumah. Duduk di depan televisi sambil memakan kudapan yang sudah ada di meja.
“Nona, bisakah saya meminta minum? Saya haus sekali,” minta lelaki itu sambil terbatuk-betuk karena memakan kudapan.
“Baiklah tapi ingat jangan sentuh apapun yang ada di rumah ini.”
Gina pun segera mengambilkan segelas air minum ke dapur. Dari kejauhan ia melihat dan mendengar lelaki itu menari-nari dan menyanyi di dalam rumahnya, semakin takut ia melihatnya dengan gemetar ia berikan air minum pada lelaki itu.
“Ini minumlah,” gugup memberikan.
“Terima kasih cantik…emmmm segarnya….!! Ngomong-ngomong kita belum berkenalan, siapa nama Nona?” Tanya lelaki itu.
“Namaku Gin… Gina....,” terbata-bata ia mengucapkan karena takut.
“Perkenalkan saya Ridwan,” jawabnya
“Ya saya sudah tahu tadi “
“Oh iya ya… tapi di rumah sebesar ini, di mana keluarga Nona yang lain? Kelihatannya sepi sekali di rumah ini?” Tanya lelaki itu
“Keluargaku saat ini sedang pergi ke Bandung ada acara di sana akan kembali satu bulan lagi,” jawabnya.
Mereka pun saling diam, detik demi detik berlalu, jam demi jam berlanjut, tapi hujan tak redah sedikit pun. Seolah kesunyian menghampiri dengan kesuraman panjang. Tiba-tiba !
“Ting-tong!”
Terdengar suara bel berbunyi, ketegangan kembali berlanjut. Mereka bersiap-siap di depan pintu sambil mengendap-endap dan bertanya,
“Siapa itu ?” Orang itu pun menjawab, “Maaf, bolehkah saya masuk? Saya seorang polisi! Mobil saya mogok di depan, jadi saya cari tempat berlindung, dan kebetulan ada rumah mu.”
Dilihat gina lelaki itu dari jendela kaca, dan ternyata seorang lelaki berambut gondrong menyeramkan, tanpa berpikir panjang karena takut yang mereka kira adalah seorang pembunuh gila, Gina menyuruhnya masuk tapi Ridwan sudah siap-siap akan memukulnya.
“Baiklah silahkan masuk.” Dengan cepat Ridwan memukul kepalanya, tapi lelaki itu sempat mengelak hanya mengenai tangan kanannya.
“Hey apa yang kalian lakukan? Saya ini seorang polisi!” Dengan marah ia katakana.
“Buktikan kalau kau benar seorang polisi,” bantah Ridwan
“Baiklah ini nomor identitas polisiku, dan kartu polisiku! Bila kalian masih tidak percaya silahkan telpon kantor polisi sekarang tanyakan nama Sultan Suryandi dan sebutkan nomor identitasku “
Dengan cepat Gina menelpon kantor polisi, “Hallo selamat sore pak, apakah ada polisi yang bernama sultan Suryandi dengan identitas *****(diam sejenak) Apa !!? Ya terima kasih, Pak.”
“Hey bagaimana? Apa kau sudah percaya?” Tanya lelaki yang mengaku sebagai polisi itu pada Gina. “Hei Gina apa katanya” Ridwan pun kembali bertanya.
“Katanya, tidak ada nama mu di sana, “ jawab Gina.
“Apa!!!?? Tidak mungkin ?? Coba telpon lagi ! Saya ini benar seorang polisi!!” Bantah lelaki itu.
“Ah diam kau! Tak usah mengelak lagi kau pasti pembunuh gila yang sedang dicari” langsung Ridwan memukul leher lelaki itu, Gina mundur ke belakang karena takut. lelaki itu pun pingsan tak bergerak.
“Nona, sekarang Anda tidak perlu khawatir lagi karena kita telah menangkap orang gila ini, sebaikknya kita ikat dia sebelum tersadar. Apakah ada tali untuk mengikatnya?” Tanya Ridwan dengan nafas yang terengah-engah karena cemas memukul lelaki itu.
“Ada.. dilantai dua ! Ayo cepat kita ke atas mengambil tali,” jawab Gina. Mereka pun menuju lantai dua untuk mengambil tali, tapi tiba-tiba lelaki itu terbangun. Kepalanya merasa pusing, tapi ia cepat langsung menelpon kantor polisi, tapi apa yang terjadi?? Berulang kali ia tekan tombol telpon itu tapi tak terdengar suara, karena merasa heran dan bingung, diperiksanya dan..
“Apa ? Kabelnya putus? Jadi dia menelpon tadi..??? Ternyata ada yang tidak beres di sini.”
Segera lelaki itu menuju lantai dua. Di lantai atas, di sebelah kiri tangga terlihat kamar, diceknya kamar tersebut. Tapi tak ada mereka hanya sebuah buntalan putih panjang tergeletak di ujung kamar. Karena penasaran dengan buntalan panjang tersebut, dibukanyalah buntalan itu. Dan tiba tiba! “Innalillahi… Siapa ini??” Terkejut ia melihat ternyata sesosok mayat yang hampir membusuk. Ternyata mayat tersebut adalah mayat Bapak Ryntoro sang pemilik rumah. Langsung saja lelaki itu mengejar dan mecari perempuan itu.
Di tempat lain di saat Ridwan dan Gina sedang sibuk mencari tali sambil mengobrol,
“Nona, benar-benar besar rumahmu, ya ? Saya sangat suka rumah Nona. Andai rumah saya seperti ini,” tapi Gina diam saja tidak mengeluarkan kata satu pun.
“Ridwan coba kau ambil tali di gudang itu, di sana ada banyak,” perintah Gina pada Ridwan. Ketika ridwan masuk ke ruangan itu, langsung muncul lelaki polisi itu meghantam Gina dengan besi panjang.
“Dasar gadis biadab!! Mati kau!!!” Tapi Gina mengelak, dan berteriak, Ridwan pun terkejut dan langsung berlari ke luar gudang.
“Hey !! apa yang kau lakukan ??” Tanya Ridwan pada lelaki itu.
“Kau tidak mengerti ya? Wanita itu yang gila?”
“Apa maksudmu? Kau lah yang gila!!!! Rasakan ini !!!” Ridwan pun langsung menyerang lelaki itu dengan mendorongnya ke luar jendela, dan terjatuhlah lelaki itu. Kaca jendela berhamburan langit membasahi darah yang mengalir dari tubuh lelaki itu yang tak bernyawa lagi karena terjatuh.
“Dasar lelaki gila aneh !!! Matilah kau!!” Teriak Ridwan.
“Tenanglah Nona sekarang kita aman, dan benar-benar aman. Kita tak perlu khawatir lagi.” Tapi Gina pun langsung mengambil besi yang dipegang sang lelaki tadi. Langsung dengan cepat Gina memukul tangan, dan kaki Ridwan sambil tertawa.
“Aa… aa! Apa yang Nona lakukan ??? Kenapa Nona memukul saya?” Merintih Ridwan dipukul. Ia mundur karena takut.
“Hahaha….haha…! Bukankah ini adalah hari yang indah??? Kenapa kau ini?? Hahaha sekarang aku akan membunuhmu, karena akulah pembunuh itu..!!! Tidak!! Aku bukan pembunuh !! Aku gadis cantik! Kaulah yang pembunuh !! Kaulah yang membunuh kucingku!! Padahal aku ingin memasak kucingku itu, tapi kau bunuh!!!” Terbahak-bahak ia berbicara dan tidak karuan. Ridwan semakin terpojok dan takut .
“Jadii… kau selama ini berpura-pura? Kau gila!! Siapa kau ini?”
“Ah sudahlah! Sekarang kau akan mati ! karena kau telah membunuh kucingku!! Hahahaha….!!! Matilah kau….!”
“Jangaaaaaaaa………..n..! Aaaaaaaaggggh….!!”
Deras air hujan mengguyur ke bumi membasahi tawa sang wanita dengan bau anyir yang bergabung dalam hujan. Tiada lagi teriakan rasa takut hanya terdengar bahakkan yang mengema di rumah berbau darah.
“Selamat malam, berita terbaru telah dikabarkan bahwa pasien yang kabur dari Rumah Sakit Jiwa Nusantara salah satu yang sangat berbahaya bernama Gina Noviyanti. Harap para penghuni rumah berhati-hati…..”
“Klik!!”
“Berisik sekali televisi ini mencari-cariku, aku ini bukan artis, tapi pejabat cantik,” tertawa Gina sendirian.
“Hallo, mama? Kapan mama pulang? Gina kangen mama papa! Gina bosen sendirian. Ia .. Gina baik kok.”
Senandung rindu terucap ditelpon tanpa sambungan, terdengar di telinga Gina sang wanita Gila yang berbau anyir ditubuhnya.

****************TAMAT**********************


Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar