Gila
“Kitty, malam ini kita makan apa, ya?”
Tanya Gina pada kucing kesayangannya.
“Lagi pula kita kan cuma berdua, mama sama papa pergi, aku suntuk di rumah.
Cuma kamu yang nemenin aku.”
Hari semakin sore, terlihat diperaduan awan yang menghitam mendung
tampak menggelegar petir menyambar sore itu, tapi Gina masih memeluk kucing
kesayangannya sambil menonton televisi.
“Selamat sore, dua hari yang lalu
di Rumah Sakit Jiwa Nusantara telah terjadi pelepasan pasien, banyak pasien
yang telah kabur, sampai saat ini polisi, dan satpam rumah sakit masih mengejar
para pasien. Diharapkan para masyarakat selalu di rumah, dan mengunci pintu,
karena terdapat pasien gila yang suka membunuh. Diperkirakan salah satu pasien
menuju Jl. Kapuas. Harap berhati-hati. Sekian berita Headline News.”
Gina terkejut, dan takut mendengar
berita itu karena Jl. Kapuas adalah jalan rumahnya. Tiba-tiba!
“Ting-tong….!”
Terkejut Gina mendengar bel rumah
berbunyi. Ia melihat ke kaca pintu rumah. Dan Gina pun bertanya.
“Siapa itu?” Dengan perasaan cemas ia bertanya.
“Apakah ini rumah Bapak
Ryntoro?” Balik bertanya sang pemencet bel.
“Bukan, ini rumah Bapak Darno, anda
siapa?” jawab Gina dan bertanya ulang .
“Saya Ridwan, saya anak buah dari Pak Ryntoro, saya kira ini rumahnya. Karena
saya ditugaskan mengantar berkas-berkas penting kerumahnya. Karena sudah dua
hari Beliau tidak masuk kantor.” Jawab lelaki itu.
“Oh…
tapi maaf ini bukan rumah yang Anda maksud. Mungkin Anda salah rumah ? Mungkin
rumahnya ada di sebelah?” Diam sejenak lelaki itu.
“Kalau
begitu terima kasih nona, mungkin benar saya salah rumah. Maaf sudah
mengganggu”
“Sama-sama”
Lelaki itu pun
pergi sejenak, melihat dan menoleh samping kiri, dan kanan rumah, tapi tidak
ada satu pun rumah yang ada di sana. Hanya perkebunan, dan hutan.
“Lah!
tidak ada rumah lagi di sini…? Ah aneh juga wanita itu, tadi bilangnya ada
rumah di samping, tapi hanya hutan dan kebun ubi?” Heran lelaki itu.
Lalu
lelaki itu pun kembali kerumah Gina dan menekan bel rumah itu kembali.
“Ting-tong ….Ting-tong!!!”
“Aduh
siapa lagi sih, mengganggu saja.” Gina pun kembali melihat, dan mengintip kaca
jendela.
“Kenapa
dia kembali lagi?” pikirnya dalam hati dan ia pun berkata padanya.
“Hei
kenapa kau kembali lagi?” Dengan meninggikan suaranya yang agak kesal.
“Oh
maaf Nona saya sudah mengganggu lagi. Tapi saya hanya ingin bertanya, kenapa
tak ada rumah di sekitar sini? Kata Nona tadi rumahnya ada di sebelah? Tanya
lelaki itu.
“Memang
tak ada rumah di sekitar sini , tapi mungkin kau salah alamat!!” Jawab Gina
dengan kasar.
“Hmm..ya
mungkin Nona benar... aduh kenapa bodohnya aku ya, maafkan aku Nona sudah
mengganggumu.”
“
Ada-ada saja lelaki itu, dasar aneh”
Lelaki
itu pun pergi menuju mobilnya. Gina kembali melanjutkan menonton televisi
bersama Kitty kucing manisnya.
Awan
pun terlihat semakin menghitam, dan langit memancarkan cahaya yang diiringgi
seruan petir yang menggelegar. Hujan pun turun dengan deras, tapi lelaki itu
masih sibuk di luar mobilnya karena mencari kunci mobilnya.
“Aduh
di mana kunci mobilku?” Sibuk ia mencari. Dan …
“Wah!
payah! masih tersangkut di dalam mobil… dasar bodoh, bagaimana ini? Aku harus berteduh
dulu, terpaksa aku harus kembali kerumah itu lagi.” Dengan cepat lelaki itu
berlari menuju rumah gadis itu dan menekan bel kembali.
“Ting-tong!!”
Berlari
Gina menuju pintu depan rumah sambil berkata, “Siapa lagi sih? Benar-benar
mengganggu?”
“Maaf
Nona ini saya lagi, boleh kah saya masuk ? Saya tidak bisa pergi sekarang
karena kunci mobil saya tertinggal di dalam mobil saya. Tolonglah Nona, saya di
sini kehujanan,” memohon lelaki itu pada gina.
“Tidak!
Anda tidak boleh masuk!” Tegas gina menjawab.
“Baiklah
saya tidak akan masuk, tapi izinkan saya berteduh dan meminjam handuk karena
saya bisa sakit bila basah begini.”
“Hmmm
(berpikir sejenak). Baiklah, akan kuambilkan handuk, tunggu sebentar.” Gina pun
ke belakang mengambilkan handuk untuk lelaki itu.
“Ini
ambilah”
“Terima
kasih nona.” Dengan segera Gina menutup pintu rumah, dan menguncinya. Ia pun
menuju kedapur karena merasa lapar.
Tiba-tiba
petir menggelegar, dan membuat lampu lisrik rumah itu padam, tapi hidup kembali.
Tapi, terdengar teriakan Gina dari belakang rumah.
“Aaaaaghhhhh……!!!!!”
Teriak gina secara histeris. Terkejut Gina melihat kucing kesayangannya
tiba-tiba mati dengan darah yang mengalir deras dari tubuh kucing itu.
Tiba-tiba lelaki itu muncul dari belakang rumah sambil melihat dari kaca rumah
belakang. Gina pun berteriak lagi melihat lelaki itu muncul secara tiba-tiba
“
Aaaa….!!!”
“Pasti
kau yang telah membunuh kucingku? Apa yang kau lakukan di sini? Kau pasti orang
gila yang sedang dicari polisi di berita tadi?” Tuduh Gina pada lelaki itu.
“Hei…
bukan! Bukan saya, Nona yang membunuh kucingmu. Saya saja berada di luar rumah,
jadi mana mungkin saya yang membunuhnya!” Cemas lelaki itu menjawab pertanyaan
yang dilontarkan Gina secara mendadak.
“Lalu
siapa? Siapa yang bisa membunuhnya? Ini kucing kesayanganku! Siapa lagi yang
ada di rumah ini? Hanya kau, dan aku!”
“Ya
tapi bukan saya, Nona! Sungguh!”
Menangis
Gina melihat kucingnya mati. Dan lelaki itu pun memberikan saran yang tak
terduga pada Gina.
“Nona
biarkan saya masuk, agar saya bisa melindungimu dari pembunuh kucingmu itu!”
Gina pun
menanggapi omongannya.
“Baiklah,
tapi ingat! jangan dekat-dekat padaku,” ancam Gina dengan masih rasa tak
percaya.
“Baik,
tenang saja saya tidak akan berbuat yang macam-macam padamu.”
Lelaki
itu pun masuk rumah. Duduk di depan televisi sambil memakan kudapan yang sudah
ada di meja.
“Nona,
bisakah saya meminta minum? Saya haus sekali,” minta lelaki itu sambil
terbatuk-betuk karena memakan kudapan.
“Baiklah
tapi ingat jangan sentuh apapun yang ada di rumah ini.”
Gina
pun segera mengambilkan segelas air minum ke dapur. Dari kejauhan ia melihat
dan mendengar lelaki itu menari-nari dan menyanyi di dalam rumahnya, semakin
takut ia melihatnya dengan gemetar ia berikan air minum pada lelaki itu.
“Ini
minumlah,” gugup memberikan.
“Terima
kasih cantik…emmmm segarnya….!! Ngomong-ngomong kita belum berkenalan, siapa
nama Nona?” Tanya lelaki itu.
“Namaku
Gin… Gina....,” terbata-bata ia mengucapkan karena takut.
“Perkenalkan
saya Ridwan,” jawabnya
“Ya
saya sudah tahu tadi “
“Oh
iya ya… tapi di rumah sebesar ini, di mana keluarga Nona yang lain?
Kelihatannya sepi sekali di rumah ini?” Tanya lelaki itu
“Keluargaku
saat ini sedang pergi ke Bandung ada acara di sana akan kembali satu bulan lagi,”
jawabnya.
Mereka
pun saling diam, detik demi detik berlalu, jam demi jam berlanjut, tapi hujan
tak redah sedikit pun. Seolah kesunyian menghampiri dengan kesuraman panjang.
Tiba-tiba !
“Ting-tong!”
Terdengar
suara bel berbunyi, ketegangan kembali berlanjut. Mereka bersiap-siap di depan
pintu sambil mengendap-endap dan bertanya,
“Siapa
itu ?” Orang itu pun menjawab, “Maaf, bolehkah saya masuk? Saya seorang polisi!
Mobil saya mogok di depan, jadi saya cari tempat berlindung, dan kebetulan ada
rumah mu.”
Dilihat
gina lelaki itu dari jendela kaca, dan ternyata seorang lelaki berambut
gondrong menyeramkan, tanpa berpikir panjang karena takut yang mereka kira
adalah seorang pembunuh gila, Gina menyuruhnya masuk tapi Ridwan sudah
siap-siap akan memukulnya.
“Baiklah
silahkan masuk.” Dengan cepat Ridwan memukul kepalanya, tapi lelaki itu sempat
mengelak hanya mengenai tangan kanannya.
“Hey
apa yang kalian lakukan? Saya ini seorang polisi!” Dengan marah ia katakana.
“Buktikan
kalau kau benar seorang polisi,” bantah Ridwan
“Baiklah
ini nomor identitas polisiku, dan kartu polisiku! Bila kalian masih tidak
percaya silahkan telpon kantor polisi sekarang tanyakan nama Sultan Suryandi
dan sebutkan nomor identitasku “
Dengan
cepat Gina menelpon kantor polisi, “Hallo selamat sore pak, apakah ada polisi
yang bernama sultan Suryandi dengan identitas *****(diam sejenak) Apa !!? Ya
terima kasih, Pak.”
“Hey
bagaimana? Apa kau sudah percaya?” Tanya lelaki yang mengaku sebagai polisi itu
pada Gina. “Hei Gina apa katanya” Ridwan pun kembali bertanya.
“Katanya,
tidak ada nama mu di sana, “ jawab Gina.
“Apa!!!??
Tidak mungkin ?? Coba telpon lagi ! Saya ini benar seorang polisi!!” Bantah
lelaki itu.
“Ah
diam kau! Tak usah mengelak lagi kau pasti pembunuh gila yang sedang dicari”
langsung Ridwan memukul leher lelaki itu, Gina mundur ke belakang karena takut.
lelaki itu pun pingsan tak bergerak.
“Nona,
sekarang Anda tidak perlu khawatir lagi karena kita telah menangkap orang gila
ini, sebaikknya kita ikat dia sebelum tersadar. Apakah ada tali untuk
mengikatnya?” Tanya Ridwan dengan nafas yang terengah-engah karena cemas
memukul lelaki itu.
“Ada..
dilantai dua ! Ayo cepat kita ke atas mengambil tali,” jawab Gina. Mereka pun menuju
lantai dua untuk mengambil tali, tapi tiba-tiba lelaki itu terbangun. Kepalanya
merasa pusing, tapi ia cepat langsung menelpon kantor polisi, tapi apa yang
terjadi?? Berulang kali ia tekan tombol telpon itu tapi tak terdengar suara,
karena merasa heran dan bingung, diperiksanya dan..
“Apa
? Kabelnya putus? Jadi dia menelpon tadi..??? Ternyata ada yang tidak beres di sini.”
Segera
lelaki itu menuju lantai dua. Di lantai atas, di sebelah kiri tangga terlihat
kamar, diceknya kamar tersebut. Tapi tak ada mereka hanya sebuah buntalan putih
panjang tergeletak di ujung kamar. Karena penasaran dengan buntalan panjang
tersebut, dibukanyalah buntalan itu. Dan tiba tiba! “Innalillahi… Siapa ini??”
Terkejut ia melihat ternyata sesosok mayat yang hampir membusuk. Ternyata mayat
tersebut adalah mayat Bapak Ryntoro sang pemilik rumah. Langsung saja lelaki
itu mengejar dan mecari perempuan itu.
Di
tempat lain di saat Ridwan dan Gina sedang sibuk mencari tali sambil mengobrol,
“Nona,
benar-benar besar rumahmu, ya ? Saya sangat suka rumah Nona. Andai rumah saya
seperti ini,” tapi Gina diam saja tidak mengeluarkan kata satu pun.
“Ridwan
coba kau ambil tali di gudang itu, di sana ada banyak,” perintah Gina pada
Ridwan. Ketika ridwan masuk ke ruangan itu, langsung muncul lelaki polisi itu
meghantam Gina dengan besi panjang.
“Dasar
gadis biadab!! Mati kau!!!” Tapi Gina mengelak, dan berteriak, Ridwan pun
terkejut dan langsung berlari ke luar gudang.
“Hey
!! apa yang kau lakukan ??” Tanya Ridwan pada lelaki itu.
“Kau
tidak mengerti ya? Wanita itu yang gila?”
“Apa
maksudmu? Kau lah yang gila!!!! Rasakan ini !!!” Ridwan pun langsung menyerang
lelaki itu dengan mendorongnya ke luar jendela, dan terjatuhlah lelaki itu.
Kaca jendela berhamburan langit membasahi darah yang mengalir dari tubuh lelaki
itu yang tak bernyawa lagi karena terjatuh.
“Dasar
lelaki gila aneh !!! Matilah kau!!” Teriak Ridwan.
“Tenanglah
Nona sekarang kita aman, dan benar-benar aman. Kita tak perlu khawatir lagi.”
Tapi Gina pun langsung mengambil besi yang dipegang sang lelaki tadi. Langsung dengan
cepat Gina memukul tangan, dan kaki Ridwan sambil tertawa.
“Aa…
aa! Apa yang Nona lakukan ??? Kenapa Nona memukul saya?” Merintih Ridwan dipukul.
Ia mundur karena takut.
“Hahaha….haha…!
Bukankah ini adalah hari yang indah??? Kenapa kau ini?? Hahaha sekarang aku
akan membunuhmu, karena akulah pembunuh itu..!!! Tidak!! Aku bukan pembunuh !!
Aku gadis cantik! Kaulah yang pembunuh !! Kaulah yang membunuh kucingku!!
Padahal aku ingin memasak kucingku itu, tapi kau bunuh!!!” Terbahak-bahak ia
berbicara dan tidak karuan. Ridwan semakin terpojok dan takut .
“Jadii…
kau selama ini berpura-pura? Kau gila!! Siapa kau ini?”
“Ah
sudahlah! Sekarang kau akan mati ! karena kau telah membunuh kucingku!! Hahahaha….!!!
Matilah kau….!”
“Jangaaaaaaaa………..n..!
Aaaaaaaaggggh….!!”
Deras
air hujan mengguyur ke bumi membasahi tawa sang wanita dengan bau anyir yang
bergabung dalam hujan. Tiada lagi teriakan rasa takut hanya terdengar bahakkan
yang mengema di rumah berbau darah.
“Selamat malam, berita terbaru telah
dikabarkan bahwa pasien yang kabur dari Rumah Sakit Jiwa Nusantara salah satu
yang sangat berbahaya bernama Gina Noviyanti. Harap para penghuni rumah
berhati-hati…..”
“Klik!!”
“Berisik
sekali televisi ini mencari-cariku, aku ini bukan artis, tapi pejabat cantik,”
tertawa Gina sendirian.
“Hallo,
mama? Kapan mama pulang? Gina kangen mama papa! Gina bosen sendirian. Ia ..
Gina baik kok.”
Senandung
rindu terucap ditelpon tanpa sambungan, terdengar di telinga Gina sang wanita
Gila yang berbau anyir ditubuhnya.
****************TAMAT**********************
Karya:
Daruhiko Ahmad
Menulis
Karya Sastra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar