Rabu, 23 Oktober 2013

CERPEN


Bukan Cerita Cantik

Cerita Harianku, September 2008

Sore itu agak terlalu mendung, tak terlalu hangat untuk beraktivitas lebih. Aku memutuskan untuk mandi dan membersihkan dari. Temanku datang bermain ke rumah. Kusuruh ia menunggu. Ia lakukan sambil mengisi baterai Hpnya yang kosong. Sedangkan aku sibuk sendiri dalam kamar mandi.
Setelah semua telah kuselesaikan, aku keluar dari pintu bersih-bersih itu. Sambil mengusap-usap rambut, aku memanggil temanku. Saat itu, ia tampak berkaca-kaca. Aku bingung, ada apa? Dan mengapa? Lalu ia berkata, “Sob, Maria Meninggal.” Sambil menangis. Aku tersentak kaget harus berkata apa aku tak tahu.
“Beneran? Dak salah?” Tanyaku.
“Iyo, ini nah.” Memperlihatkan isi SMSnya padaku.
“Cubo kau telpon dulu bener nian apo idak.”
“Sudah, dan kato sepupunyo iyo nian, Maria ninggal.” Tangisnya semakin menjadi. Dia sempat menyesal karena beberapa hari nomor kartu Hpnya tidak bisa aktif karena rusak. Saat ia telah memperbaiki nomornya malah sesuatu hal yang tak diharapkan ia dapatkan. Tidak hanya itu, ia juga sempat berselisih paham dengan kekasihnya itu dan merasa bersalah akan kejadian yang ia lakukan.
Aku bingung. Aku terdiam melihat dia semakin bersedih dan tak menerima akan kenyataan yang ada. Lalu ia memutuskan untuk pergi langsung ke Indralaya untuk melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi. Sore itu juga dengan melepaskan air matanya, temanku langsung berangkat ke Indralaya untuk menemui kekasih hati yang telah terbaring kaku.
Esok harinya, kabar duka kini telah terdengar jelas. Penyebab kematian sang kekasih. Maria meninggal bukan karena sakit atau pun penyakit. Tapi ia meninggal karena tertabrak mobil tronton di arah jalan timbangan menuju Indralaya dengan menggunakan motor. Belum sampai di rumah sakit, ia tidak bernyawa karena organ dalam tubuhnya hancur. 
Hatiku benar-benar pilu. Terdiam dan tak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya salat Gaib yang bisa kulakukan dan berdoa untuknya.


Bukan Cerita Cantik

Bukan cerita cantik untuk diceritakan
Bukan hal menarik untuk didengarkan
Berarak-arak dalam duka
Duka mengagah
Bernanah
Hingga ke tanah merah

Malam hina berganti pilu
Pilu hati kini merintih
Rintih lirih menusuk hati
Hati mereka mengharap sedih
Anak mati tak kan kembali

Doa dan tangis menjerit ke langit
Mengharap Tuhan memberi kemudahan
Melihat hidup begitu sulit
Hanya ketabahan masih bertahan

Bukan cerita cantik untuk diceritakan
Bukan hal menarik untuk kalian tertawakan
Bila hati direndung pilu
Diri siapa kian tak luluh

Kasih merana akan tangisnya
Keluarga meronta akan hilangnya
Masyarakat diam karena ibanya
Semua kini tengah berduka

Bukan cerita cantik untuk diceritakan
Bukan hal menarik untuk dipertanyakan
Ini realita kehidupan
Baik buruk di tangan Tuhan

 "SELESAI"
Karya: Ahmad Badarudin
2010112094

Tidak ada komentar:

Posting Komentar