RINTIHAN HATI BERKABUNG RINDU
Malam itu, di antara kesunyian yang merapuh dengan angin malam yang membisu,
begitu tipis mendesir tubuhku yang terduduk kaku dalam lamunan panjang. Lalu,
terdengar samar lagu dari “Omelette” yang berjudul “Ingatan Lalu” dari handphoneku
yang berdering.
“Bertemu berdua,
rasa rindu yang telah ada ketika
ku ingat memori bersama…
Sungguhku terbuai,
dalam rindu yang haus akan cinta,
dirimu selalu kurindu…”
Aku diam, dan termenung mendengarnya. Tanpa sadar air mata ini telah menetes
perlahan jatuh dengan sedirinya. Sejenak kuratapi lagu itu, aku terbayang
tentang “Dia”, wanita yang manis tersenyum kala ia sedang memanggil namaku yang
selalu membuat hati ini bergetar bila aku melihat kedua lesung pipinya itu.
Dialah kekasih hatiku yang ku impikan kala aku masih duduk di bangku ES EM
A untuk pertama kalinya aku jatuh cinta.
Masih terngiang-ngiang di kepalaku tetangnya, wajahnya, suaranya, gaya
berjalannya dan sapai tak sengaja saat itu ketika aku sedang memerhatikannya
dari kejauhan, tiba-tiba ia memanggil namaku. Aku terkejut! Seolah nyali ini menciut
karena diam-diam aku memerhatikannya, dia pun berjalan mendekat, dan semakin
mendekat berjalan menuju ke arahku lalu menyapaku.
“Badar?”
“Hmm…?”
Dengan wajah memerah tampak kaku dan jantung ini deg-degan seakan mau copot.
“Gak,
cuma mau manggil aja.” Lalu berjalan pergi sambil tersenyum padaku penuh
maksud.
“Hah?”
Aku bengong dan bertanya-tanya
“Apa
maksudnya? Wanita yang aneh?”
Dua
hari setelah hari itu, aku berpikir dan semakin berpikir tentang dia. Sampai
aku pun berencana untuk menyatakan cinta padanya. Lalu ku buat serangkaian
puisi untuk “Dia” dan tetang “Dia” sebagai cara agar aku dapat mengambil
hatinya.
Sepuluh Hal Aku Suka Kamu
Aku
suka saat melihatmu melamun,
Begitu
ayu wajahmu.
Aku
suka saat melihatmu berjalan,
Begitu
gemulai langkahmu.
Aku
suka saat senyummu terbuka,
Amat
mengoda di jiwaku.
Aku
suka saat kau bertutur kata,
Halus
dan berwibawa kau bicara.
Aku
suka saat kau marah,
Hanya
diam dan tersenyum.
Aku
suka saat kau menyapa “Hai…!”,
Membuat
aku semakin suka.
Aku
suka saat melihatmu menulis,
Seperti
mengukir cinta dalam hatiku.
Aku
suka saat kau melihatku,
Seolah
matamu mengizinkan aku untuk memelukmu.
Aku
suka saat kau membuatku jatuh cinta padamu,
Maka,
kumohon jadilah kekasihku!
By: Badar yang berharapkan cinta kasihmu
Langsung ku lipat selembar kertas yang berisikan puisi perasaan jiwa yang
tercurah di dalamnya. Bergegas pergi dan segera berdiri di depan kelasnya yang
ramai. Celingak-celinguk melihat, dan mencari dia yang kudamba. Tapi tak
terlihat juga. Aku hanpir kecewa. Tiba-tiba,
“Woi…!”
“Astaga!” Terkejut
kaget aku dibuatnya. Ternyata Winda temanku yang sekelas dengan “Dia”.
“Cari siapa?
Kayak orang udik aja, celingak-celinguk. Ngapain?” Tanyanya.
“Ah
Winda, kaget tau! Aku mau cari Lindya, tapi kok gak kelihatan dari tadi?”
“ Hmm… ngapain
nanya-nanyain Lindy? Dia gak masuk, sakit.” Cetusnya.
“O… Sakit apaan?”
“Ih..Tanya mulu
kaya wartawan, ya meneketehek ? tapi kalo mau ikut, ntar pulang sekolah aku mau
kerumahnya. Besuk gitu.”
“Wah boleh tuh!
jam berapa?”
“Ya abis pulang
sekolah lah, mau jam berapa lagi ?” Cibirnya sambil menarik hidungku.
“Ya udah,
ditunggu ya…”
Tepat pukul
12.30 siang dengan terik yang begitu menyengat kulit. Aku dan Winda berangkat
menuju rumahnya. Sesampainya tampak sebuah rumah sederhana dengan halaman yang
rindang dikelilingi taman bunga anggrek yang begitu cantik mekar berseri.
Karena kedatangan kami sudah ditunggu ibunya, maka langsung saja kami memasuki
rumahnya.
Di dalam sebuah kamar, tampak terlihat dinding-dinding kamar dihiasi
poster-poster animasi kartun jepang yang salah satunya poster Inuyasha yang
begitu besar tertempel. Dan rak buku yang berisi buku-buku komik. Aku
terpelanga dibuatnya, karena aku juga seorang maniak komik, tapi tak sebanyak
ini. Lalu dalam keheningan kamar itu, terlihat ia tertidur pulas dengan wajah
pucat, tapi tetap saja manis. Aku berdiri di depannya, Winda duduk di
sampingnya dan membangunkannya.
“Lind..
Lindy…?” Dengan menggoyang-goyangkan tangannya. Lindy pun terbangun membuka
kedua jendela matanya yang tampak memerah. Lalu dia melihat aku yang telah
berdiri di hadapannya. Dia tersenyum dan menyapaku.
“Hai…”
Dengan wajah pucatnya, dag-dig-dug hatiku bergetar kencang kembali. Wajahku
memerah dan tersenyum.
“Yee…
aku kayaknya nggak disapa nih?” Cibir winda yang menggerutu sambil memancungkan
bibirnya.
“Wah Winda
toh datang? Aku kira siapa nih?” Goda Lindy.
Mereka mengobrol sepanjangan, bertanya, dan bercerita tentang kegitan sekolah.
Karena Lindy semenjak hari ia menyapaku ternyata ia dalam keadaan kondisi
sakit, sampai saat ini ia belum masuk sekolah. Dengan tiba-tiba Winda menarik
tanganku dan menyuruhku duduk di samping Lindy. Aku malu dan tak bisa berkata apapun.
Winda tersenyum dan berkata,
“Lind, aku mau ke kamar
kecil dulu. Kalian ngobrol aja ya. Hehe…”
Kami
saling diam, aku bingung harus memulai dengan percakapan apa? Dalam hati kutegarkan,
aku harus mengatakan isi hatiku padanya saat ini. Tiba-tiba dia menyentuh tanganku,
aku terkejut. Hangat kurasa tangannya .
“Badar, Lindy
sebenarnya sudah lama memerhatikan Badar dari kejauhan tiap di sekolah, tapi
Lindy malu mau kenalan. Sebenarnya … Lindy…. Suka Badar!”
“Hah?” Entah perasaan
apa yang ada ada di hatiku, rasanya partikel-partikel sel otakku menjerit-jerit
kegirangan.
“Loh kok hah?”
Tanyanya.
“Lind, aku
gak tau mau bilang apa, tapi yang jelas tujuan Badar ke sini selain membesukmu
sebenernya aku juga ingin menyatakan perasaanku padamu.” Langsung kuberikan padanya
selembar kertas yang kusimpan lama di genggaman tanganku. Dibacanya puisi itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung tersenyum dan menarik hidungku.
“Traktir! Jangan gak!
Yang baru jadian… hoho….!” Datang Winda dari belakang pintu kamar yang ternyata
sejak lama memperhatikan kami.
“Hmm…
maunya.”
“He..he…
bercanda.”
Dua
bulan berseling setelah aku membesuk sekaligus menyatakan cinta padanya,
akhirnya harapan dan impian untuk memiliki kekasih hati yang tersayang
benar-benar terwujud. Hari-hari indah itu selalu menghiasi tiap waktu bila
bersamanya. Berjalan, berjumpa, bercanda, bergandengan tangan dengan mesra
bersama dia yang ku sayang. Dan ternyata selama ini tak pernah ku duga kami memiliki
hati yang sama yaitu menyukai musik-musik Jepang dan soundtrack lagu
film anime kartun Jepang. Juga kami berdua adalah maniak komik yang sama
gilanya. Salah satu komik yang paling kami berdua suka yaitu Death note,
Air Gear, Bleach dan masih banyak lagi. Lalu aku bertanya seperti lagunya
“Armada Band”, ya yang dulunya masih mengunakan nama “Kertas Band”, karena saat
itu mereka belum terkenal seperti saat ini. Lagu yang berjudul “Nikmat
Bercinta” salah satu liriknya terucap, “Inikah nikmat bercinta?” tersenyum
sendiri aku dibuatnya.
Tapi kebahagian itu tak berlangsung lama, terdengar kabar bahwa Lindya kembali
sakit dan dirawat di rumah sakit. Langsung tersentak sedih hati ini
mendengarnya. Bergegas aku membesuk Lindy ke rumah sakit bersama Winda. Rasa di
hati mulai tak terasa enak, ada sesuatu yang mengganjal dan membuat nafasku
sesak di perjalanan. Sesampainya di rumah sakit, berlari aku
sekencang-kencangnya mencari ruangan Lindy dirawat. Terlihat ibunya tampak
sedih dan menangis.
“Tante,
gimana keadaan Lindy?” Gemetar tanyaku dengan nafas yang terengah-engah.
“Hiks…” Hanya tangisan yang kudapat. Langsung ku lihat di dalam ruangan itu,
hanya tampak sesosok tubuh gadis yang tertutup kain putih di pembaringannya. Kudekati
tapi ragu, kaki ini tak mau bergerak dengan pasti. Kakiku kaku. Aku cemas!
Sekujur tubuhku bergetar. Kuberanikan diri ini. Tapi perlahan, kudekati
dengan mata yang berkaca-kaca. Aku telah berdiri di pembaringannya,
bergetar tangan ini, dan kubuka kain itu, tiada kata yang terucap kecuali
tangisan yang tiada hentinya bercucuran. Gelapnya hidupku kini terasa. Langit
menjerit dengan gemuruhnya, seolah mengerti bahwa aku telah ditinggalkan oleh
kekasihku yang
tersayang.
Winda terlihat terduduk kaku, dan tertunduk bersama ibu Lindy menangis dengan
sedihnya.
Hari dimana ia pergi meninggalkan aku untuk selamanya tanpa meninggalkan ikatan
kasih sayang yang telah tercipta. Siapa yang menyangka ternyata Lindy mengidap
penyakit kanker darah yang amat parah. Selalu cuci darah tiap tiga bulan
sekali, tapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan sisa hidupnya.
Malam kian merangkak jauh, lara hati menusuk rindu. Sejuta kenangan bersama dia
yang tersayang menjadi ingatan lalu, bahwa sayangku padamu tak pernah berlalu.
Sebuah kalimat yang selalu dapat mengingatkanku
padanya yaitu “Loving You Make Me Happy Every Day.” Semoga engkau
mendengar rindu ini di sana wahai Lindya Nissa kekasihku.
Karya: Daruhiko Ahmad
Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar