Kamis, 24 Oktober 2013

Cerpen


                                          RINTIHAN HATI BERKABUNG RINDU
         
              Malam itu, di antara kesunyian yang merapuh dengan angin malam yang membisu, begitu tipis mendesir tubuhku yang terduduk kaku dalam lamunan panjang. Lalu, terdengar samar lagu dari “Omelette” yang berjudul “Ingatan Lalu” dari handphoneku yang berdering.
“Bertemu berdua,
rasa rindu yang telah ada ketika
ku ingat memori bersama…
Sungguhku terbuai,
dalam rindu yang haus akan cinta,
dirimu selalu kurindu…”
            Aku diam, dan termenung mendengarnya. Tanpa sadar air mata ini telah menetes perlahan jatuh dengan sedirinya. Sejenak kuratapi lagu itu, aku terbayang tentang “Dia”, wanita yang manis tersenyum kala ia sedang memanggil namaku yang selalu membuat hati ini bergetar bila aku melihat kedua lesung pipinya itu. Dialah kekasih hatiku yang ku impikan kala aku masih duduk di bangku ES EM A untuk pertama kalinya aku jatuh cinta.
         Masih terngiang-ngiang di kepalaku tetangnya, wajahnya, suaranya, gaya berjalannya dan sapai tak sengaja saat itu ketika aku sedang memerhatikannya dari kejauhan, tiba-tiba ia memanggil namaku. Aku terkejut! Seolah nyali ini menciut karena diam-diam aku memerhatikannya, dia pun berjalan mendekat, dan semakin mendekat berjalan menuju ke arahku lalu menyapaku.
        “Badar?”
       “Hmm…?” Dengan wajah memerah tampak kaku dan jantung ini deg-degan seakan mau copot.
        “Gak, cuma mau manggil aja.” Lalu berjalan pergi sambil tersenyum padaku penuh maksud.
        “Hah?” Aku bengong dan bertanya-tanya
       “Apa maksudnya? Wanita yang aneh?”
        Dua hari setelah hari itu, aku berpikir dan semakin berpikir tentang dia. Sampai aku pun berencana untuk menyatakan cinta padanya. Lalu ku buat serangkaian puisi untuk “Dia” dan tetang “Dia” sebagai cara agar aku dapat mengambil hatinya.

Sepuluh Hal Aku Suka Kamu
Aku suka saat melihatmu melamun,
Begitu ayu wajahmu.
Aku suka saat melihatmu berjalan,
Begitu gemulai langkahmu.
Aku suka saat senyummu terbuka,
Amat mengoda di jiwaku.
Aku suka saat kau bertutur kata,
Halus dan berwibawa kau bicara.
Aku suka saat kau marah,
Hanya diam dan tersenyum.
Aku suka saat kau menyapa “Hai…!”,
Membuat aku semakin suka.
Aku suka saat melihatmu menulis,
Seperti mengukir cinta dalam hatiku.
Aku suka saat kau melihatku,
Seolah matamu mengizinkan aku untuk memelukmu.
Aku suka saat kau membuatku jatuh cinta padamu,
Maka, kumohon jadilah kekasihku!

By: Badar yang berharapkan cinta kasihmu

         Langsung ku lipat selembar kertas yang berisikan puisi perasaan jiwa yang tercurah di dalamnya. Bergegas pergi dan segera berdiri di depan kelasnya yang ramai. Celingak-celinguk melihat, dan mencari dia yang kudamba. Tapi tak terlihat juga. Aku hanpir kecewa. Tiba-tiba,
        “Woi…!”
      “Astaga!” Terkejut kaget aku dibuatnya. Ternyata Winda temanku yang sekelas dengan “Dia”.
       “Cari siapa? Kayak orang udik aja, celingak-celinguk. Ngapain?” Tanyanya.
        “Ah Winda, kaget tau! Aku mau cari Lindya, tapi kok gak kelihatan dari tadi?”
      “ Hmm… ngapain nanya-nanyain Lindy? Dia gak masuk, sakit.” Cetusnya.
      “O… Sakit apaan?”
      “Ih..Tanya mulu kaya wartawan, ya meneketehek ? tapi kalo mau ikut, ntar pulang sekolah aku mau kerumahnya. Besuk gitu.”
      “Wah boleh tuh! jam berapa?”
      “Ya abis pulang sekolah lah, mau jam berapa lagi ?” Cibirnya sambil menarik hidungku.
       “Ya udah, ditunggu ya…”
       Tepat pukul 12.30 siang dengan terik yang begitu menyengat kulit. Aku dan Winda berangkat menuju rumahnya. Sesampainya tampak sebuah rumah sederhana dengan halaman yang rindang dikelilingi taman bunga anggrek yang begitu cantik mekar berseri. Karena kedatangan kami sudah ditunggu ibunya, maka langsung saja kami memasuki rumahnya.
         Di dalam sebuah kamar, tampak terlihat dinding-dinding kamar dihiasi poster-poster animasi kartun jepang yang salah satunya poster Inuyasha yang begitu besar tertempel. Dan rak buku yang berisi buku-buku komik. Aku terpelanga dibuatnya, karena aku juga seorang maniak komik, tapi tak sebanyak ini. Lalu dalam keheningan kamar itu, terlihat ia tertidur pulas dengan wajah pucat, tapi tetap saja manis. Aku berdiri di depannya, Winda duduk di sampingnya dan membangunkannya.
       “Lind.. Lindy…?” Dengan menggoyang-goyangkan tangannya. Lindy pun terbangun membuka kedua jendela matanya yang tampak memerah. Lalu dia melihat aku yang telah berdiri di hadapannya. Dia tersenyum dan menyapaku.
        “Hai…” Dengan wajah pucatnya, dag-dig-dug hatiku bergetar kencang kembali. Wajahku memerah  dan tersenyum.
        “Yee… aku kayaknya nggak disapa nih?” Cibir winda yang menggerutu sambil memancungkan bibirnya.
       “Wah Winda toh datang? Aku kira siapa nih?” Goda Lindy.
         Mereka mengobrol sepanjangan, bertanya, dan bercerita tentang kegitan sekolah. Karena Lindy semenjak hari ia menyapaku ternyata ia dalam keadaan kondisi sakit, sampai saat ini ia belum masuk sekolah. Dengan tiba-tiba Winda menarik tanganku dan menyuruhku duduk di samping Lindy. Aku malu dan tak bisa berkata apapun. Winda tersenyum dan berkata,
     “Lind, aku mau ke kamar kecil dulu. Kalian ngobrol aja ya. Hehe…”
        Kami saling diam, aku bingung harus memulai dengan percakapan apa? Dalam hati kutegarkan, aku harus mengatakan isi hatiku padanya saat ini. Tiba-tiba dia menyentuh tanganku, aku terkejut. Hangat kurasa tangannya .
       “Badar, Lindy sebenarnya sudah lama memerhatikan Badar dari kejauhan tiap di sekolah, tapi Lindy malu mau kenalan. Sebenarnya … Lindy…. Suka Badar!”
      “Hah?” Entah perasaan apa yang ada ada di hatiku, rasanya partikel-partikel sel otakku menjerit-jerit kegirangan.
      “Loh kok hah?” Tanyanya.
       “Lind, aku gak tau mau bilang apa, tapi yang jelas tujuan Badar ke sini selain membesukmu sebenernya aku juga ingin menyatakan perasaanku padamu.” Langsung kuberikan padanya selembar kertas yang kusimpan lama di genggaman tanganku. Dibacanya puisi itu. Tanpa pikir panjang ia langsung tersenyum dan menarik hidungku.
     “Traktir! Jangan gak! Yang baru jadian… hoho….!” Datang Winda dari belakang pintu kamar yang ternyata sejak lama memperhatikan kami.
      “Hmm… maunya.”  
      “He..he… bercanda.”
        Dua bulan berseling setelah aku membesuk sekaligus menyatakan cinta padanya, akhirnya harapan dan impian untuk memiliki kekasih hati yang tersayang benar-benar terwujud. Hari-hari indah itu selalu menghiasi tiap waktu bila bersamanya. Berjalan, berjumpa, bercanda, bergandengan tangan dengan mesra bersama dia yang ku sayang. Dan ternyata selama ini tak pernah ku duga kami memiliki hati yang sama yaitu menyukai musik-musik Jepang dan soundtrack lagu film anime kartun Jepang. Juga kami berdua adalah maniak komik yang sama gilanya. Salah satu komik yang paling kami berdua suka yaitu Death note, Air Gear, Bleach dan masih banyak lagi. Lalu aku bertanya seperti lagunya “Armada Band”, ya yang dulunya masih mengunakan nama “Kertas Band”, karena saat itu mereka belum terkenal seperti saat ini. Lagu yang berjudul “Nikmat Bercinta” salah satu liriknya terucap, “Inikah nikmat bercinta?” tersenyum sendiri aku dibuatnya.
         Tapi kebahagian itu tak berlangsung lama, terdengar kabar bahwa Lindya kembali sakit dan dirawat di rumah sakit. Langsung tersentak sedih hati ini mendengarnya. Bergegas aku membesuk Lindy ke rumah sakit bersama Winda. Rasa di hati mulai tak terasa enak, ada sesuatu yang mengganjal dan membuat nafasku sesak di perjalanan. Sesampainya di rumah sakit, berlari aku sekencang-kencangnya mencari ruangan Lindy dirawat. Terlihat ibunya tampak sedih dan menangis.
        “Tante, gimana keadaan Lindy?” Gemetar tanyaku dengan nafas yang terengah-engah.
        “Hiks…” Hanya tangisan yang kudapat. Langsung ku lihat di dalam ruangan itu, hanya tampak sesosok tubuh gadis yang tertutup kain putih di pembaringannya. Kudekati tapi ragu, kaki ini tak mau bergerak dengan pasti. Kakiku kaku. Aku cemas! Sekujur tubuhku bergetar. Kuberanikan diri ini. Tapi perlahan, kudekati  dengan mata yang berkaca-kaca. Aku telah berdiri di pembaringannya, bergetar tangan ini, dan kubuka kain itu,  tiada kata yang terucap kecuali tangisan yang tiada hentinya bercucuran. Gelapnya hidupku kini terasa. Langit menjerit dengan gemuruhnya, seolah mengerti bahwa aku telah ditinggalkan oleh kekasihku yang tersayang.          
          Winda terlihat terduduk kaku, dan tertunduk bersama ibu Lindy menangis dengan sedihnya.
         Hari dimana ia pergi meninggalkan aku untuk selamanya tanpa meninggalkan ikatan kasih sayang yang telah tercipta. Siapa yang menyangka ternyata Lindy mengidap penyakit kanker darah yang amat parah. Selalu cuci darah tiap tiga bulan sekali, tapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan sisa hidupnya.
           Malam kian merangkak jauh, lara hati menusuk rindu. Sejuta kenangan bersama dia yang tersayang menjadi ingatan lalu, bahwa sayangku padamu tak pernah berlalu.
Sebuah kalimat yang selalu dapat mengingatkanku padanya yaitu “Loving You Make Me Happy Every Day.” Semoga engkau mendengar rindu ini di sana wahai Lindya Nissa kekasihku.

Karya: Daruhiko Ahmad
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar