Tak Seindah Kenyataannya
Orang-orang bilang bahwa aku ini ganteng,
cakep, kaya, hidup nyaman aman tentram dan damai. Mereka selalu memujiku dan
mengeluhkan hidupnya kenapa tak seperti diriku. Memang benar itu kenyataan, aku
kaya, tampan, rumah mewah, uang berlimpah, mobil gonta-ganti, villa di
sana-sini. Siapa yang tak mengenalku? Pengusaha muda yang tampan gagah bagai
pangeran, siapa wanita tak bakal tertarik denganku? Hah… hanya orang bodoh yang
tak mau denganku.
Benarkah seperti itu? Apakah aku benar-benar sempurna? Apakah aku bahagia
dengan keadaanku yang kaya? Tentu saja, tapi itu dulu. Ketika aku masih belum
mengenal pahitnya hidup.
Aku memang dilahirkan dalam keadaan yang serba mewah. Dari kecil hingga aku
dewasa dan menjadi pengusaha sukses yang mewarisi semua harta kekayaan ayahku.
Harta kami memang tak akan pernah habis sampai tujuh turunan, bahkan ibuku
pernah berkata, “Kita ditakdirkan Tuhan untuk menjadi orang kaya selamanya.”
Semua orang iri pada kami, karena kami orang yang serba mewah. Ketika aku
mewarisi semuanya, maka keserakahan muncul dari dalam hatiku untuk memiliki
segalanya. Aku tidak pernah merasa puas apa yang telah aku miliki semuanya,
dari tanah, rumah, villa, mobl, serta wanita dengan mudah aku beli lalu
kucampakan sesuka hatiku. Padahal baru dengan wajahku ini saja mereka sudah kelepek-kelepek
apalagi kalau mereka meliaht isi dompetku yang semuanya dollar, dan kartu
kredit, mata mereka berubah derastis.
Tapi sayangnya, ketika aku menikah dengan seorang gadis yang telah
menjadi pilihan hatiku, malah hidupku berubah. Kupikir setelah aku menikah, aku
akan mendapatkan kebahagian sesungguhnya dalam hidup. Menjadi keluarga yang
sakinah, mawaddah, dan warahmah, tapi nyatanya aku tak mendapatkan kebahagian
seperti yang kuharapkan. Tiap harinya selalu ada tangisan. Tak pernah ada
senyuman. Karena anak-anak yang kulahirkan semuanya cacat. Dari tiga anak, satu
anak lelaki dan dua anak perempuan tak ada yang normal, mereka semua serba
kekurangan anggota tubuhnya sejak lahir.
Awalnya kami bisa menerima kelahiran anak pertama kami yang cacat lumpuh
layu, dan memutuskan untuk menghasilkan benih yang lain yang diharapkan
terlahir dengan keadaan fisik yang sempurna. Tapi anak yang kedua juga sama,
dia buta, dan tuli. Istriku menangis sejadi-jadinya saat itu. Aku menasehatinya
untuk bersabar. Dua tahun berselang, aku dan istriku memutuskan untuk
menghasilkan anak lagi. Hasilnya malah bertambah parah. Anak ketiga kami tak
memiliki lengan. Istriku menangis kembali. Aku terdiam dan terduduk pasrah. Aku
malah bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya apa salahku? Kenapa terjadi
seperti ini? Lalu aku tersadar, dulu sewaktu masih muda aku memang sering
menyakiti hati wanita dan tak pernah mensyukuri nikmat Tuhan. Inikah hukum
karma untukku?
Akhirnya aku putuskan untuk mencari semua mantan-mantan pacarku, dan meminta
maaf kepada semuanya. Tapi itu semua tak semudah membalikan telapak tangan. Aku
malah dihina, dicaci, dan dimaki, malah diludahi, hingga aku harus bersujud di
depan mereka untuk memohon maaf atas segala perbuatanku. Malah ada salah satu
mantanku yang sampai hamil, dan memiliki anak dariku tapi tak pernah kuketahui.
Ketika itu aku malah mencampakkannya saat ia tengah hamil muda. Dia malah tak
ingin mengenalku lagi karena terlalu sakit hati, dan tak mau memaafkanku.
Tiga hari setelahnya, aku kembali kerumahnya dengan membawa istri dan ketiga
anakku yang cacat. Aku kembali memohon maaf padanya dan menangis dihadapannya.
Aku dan isttriku menangis di depan keluarganya. Hingga akhirnya ia pun merasa
iba melihat keadaan ketiga anakku yang lahir dalam keadaan cacat dan ia pun mau
memaafkanku dengan catatan aku harus membesarkan anaknya, dan menjadikan
anaknya orang yang berhasil kelak. Meskipun awalnya istriku tidak menerima,
tapi ia putuskan untuk menerimanya juga demi kebaikkan bersama.
Hingga kini kami akhirnya menemukan kebahagian kecil dengan rasa syukur
yang besar meski hidupku tak sempurna seperti aku masih muda, tapi kini tak
masalah lagi bagiku meski dengan tiga anakku yang tak sempurna dengan nak satu
anak yang kuciptakan tanpa kuketahui. Itu semua adalah kesalahan dan cobaan
yang harus kuperbaiki. Akan kuterima hingga akhir hayatku.
Karya:
Daruhiko Ahmad
Menulis
Karya Sastra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar