Kamis, 24 Oktober 2013

Cerpen


Tak Seindah Kenyataannya

Orang-orang bilang bahwa aku ini ganteng, cakep, kaya, hidup nyaman aman tentram dan damai. Mereka selalu memujiku dan mengeluhkan hidupnya kenapa tak seperti diriku. Memang benar itu kenyataan, aku kaya, tampan, rumah mewah, uang berlimpah, mobil gonta-ganti, villa di sana-sini. Siapa yang tak mengenalku? Pengusaha muda yang tampan gagah bagai pangeran, siapa wanita tak bakal tertarik denganku? Hah… hanya orang bodoh yang tak mau denganku.

            Benarkah seperti itu? Apakah aku benar-benar sempurna? Apakah aku bahagia dengan keadaanku yang kaya? Tentu saja, tapi itu dulu. Ketika aku masih belum mengenal pahitnya hidup.

            Aku memang dilahirkan dalam keadaan yang serba mewah. Dari kecil hingga aku dewasa dan menjadi pengusaha sukses yang mewarisi semua harta kekayaan ayahku. Harta kami memang tak akan pernah habis sampai tujuh turunan, bahkan ibuku pernah berkata, “Kita ditakdirkan Tuhan untuk menjadi orang kaya selamanya.” Semua orang iri pada kami, karena kami orang yang serba mewah. Ketika aku mewarisi semuanya, maka keserakahan muncul dari dalam hatiku untuk memiliki segalanya. Aku tidak pernah merasa puas apa yang telah aku miliki semuanya, dari tanah, rumah, villa, mobl, serta wanita dengan mudah aku beli lalu kucampakan sesuka hatiku. Padahal baru dengan wajahku ini saja mereka sudah kelepek-kelepek­ apalagi kalau mereka meliaht isi dompetku yang semuanya dollar, dan kartu kredit, mata mereka berubah derastis.

            Tapi sayangnya, ketika aku  menikah dengan seorang gadis yang telah menjadi pilihan hatiku, malah hidupku berubah. Kupikir setelah aku menikah, aku akan mendapatkan kebahagian sesungguhnya dalam hidup. Menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, tapi nyatanya aku tak mendapatkan kebahagian seperti yang kuharapkan. Tiap harinya selalu ada tangisan. Tak pernah ada senyuman. Karena anak-anak yang kulahirkan semuanya cacat. Dari tiga anak, satu anak lelaki dan dua anak perempuan tak ada yang normal, mereka semua serba kekurangan anggota tubuhnya sejak lahir.
            Awalnya kami bisa menerima kelahiran anak pertama kami yang cacat  lumpuh layu, dan memutuskan untuk menghasilkan benih yang lain yang diharapkan terlahir dengan keadaan fisik yang sempurna. Tapi anak yang kedua juga sama, dia buta, dan tuli. Istriku menangis sejadi-jadinya saat itu. Aku menasehatinya untuk bersabar. Dua tahun berselang, aku dan istriku memutuskan untuk menghasilkan anak lagi. Hasilnya malah bertambah parah. Anak ketiga kami tak memiliki lengan. Istriku menangis kembali. Aku terdiam dan terduduk pasrah. Aku malah bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya apa salahku? Kenapa terjadi seperti ini? Lalu aku tersadar, dulu sewaktu masih muda aku memang sering menyakiti hati wanita dan tak pernah mensyukuri nikmat Tuhan. Inikah hukum karma untukku?
            Akhirnya aku putuskan untuk mencari semua mantan-mantan pacarku, dan meminta maaf kepada semuanya. Tapi itu semua tak semudah membalikan telapak tangan. Aku malah dihina, dicaci, dan dimaki, malah diludahi, hingga aku harus bersujud di depan mereka untuk memohon maaf atas segala perbuatanku. Malah ada salah satu mantanku yang sampai hamil, dan memiliki anak dariku tapi tak pernah kuketahui. Ketika itu aku malah mencampakkannya saat ia tengah hamil muda. Dia malah tak ingin mengenalku lagi karena terlalu sakit hati, dan tak mau memaafkanku.
            Tiga hari setelahnya, aku kembali kerumahnya dengan membawa istri dan ketiga anakku yang cacat. Aku kembali memohon maaf padanya dan menangis dihadapannya. Aku dan isttriku menangis di depan keluarganya. Hingga akhirnya ia pun merasa iba melihat keadaan ketiga anakku yang lahir dalam keadaan cacat dan ia pun mau memaafkanku dengan catatan aku harus membesarkan anaknya, dan menjadikan anaknya orang yang berhasil kelak. Meskipun awalnya istriku tidak menerima, tapi ia putuskan untuk menerimanya juga demi kebaikkan bersama.
            Hingga kini kami akhirnya menemukan kebahagian kecil dengan  rasa syukur yang besar meski hidupku tak sempurna seperti aku masih muda, tapi kini tak masalah lagi bagiku meski dengan tiga anakku yang tak sempurna dengan nak satu anak yang kuciptakan tanpa kuketahui. Itu semua adalah kesalahan dan cobaan yang harus kuperbaiki. Akan kuterima hingga akhir hayatku.
Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar