MAWAR LIAR
Aku ini indah, cantik dan selalu berseri. Wangi apalagi,
siapa yang tak suka diriku yang baru mekar berseri. Tak ada manusia yang
berani menyentuhku, bila ada yang menyentuhku pasti terluka, karena Aku
berduri. Tak ada yang mudah mendapatkan Aku. Akulah mawar liar. Aku
berseri di kedalaman hutan yang jarang dikunjungi orang. Tapi hingga
suatu ketika ada sesuatu yang tak pernah kuduga.
“Win, kemari deh, coba deh lihat, ada mawar cantik di sini.”
“Mana?”
“Ini loh, sini buruan. Cantik banget mawarnya.”
“Ririn, di hutan kayak gini ada mawar? Eh iya, ya kok
bisa ya? (terbengong dan tercengang) Iya cantik…. Ambil deh bawa
pulang!”
“Gimana? Aku nggak bawa sekop kecil, tuh ada durinya gede-gede, sakit lah.. luka nanti tanganku.”
“Tunggu, aku kayaknya bawa deh, nih ada pisau kecil.”
“Wah beruntungnya diriku, he..he…he…!”
“Inget sampe akarnya, dan bawa tanahnya juga, ntar biar nggak mati di tengah jalan.”
Aku dicabut!!! Oh tidak!!! Sakit rasanya! Ada manusia
yang mengambilku. Apakah aku dapat hidup nantinya? Aku takut. Aku dibawa
dua orang gadis kecil, apakah mereka dapat merawatku dengan benar? Aku
dimasukan ke dalam kantung plastik berukuran sedang dengan segumpal
tanah. Rasanya Aku mulai merasa panas. Karena hari begitu terik
menyengat semua partikel pembuluh xylem dan floemku. Aku haus…! Air..air… Aku minta air… inikah akhir hidupku? Selamatkan aku…! Help me… help me… please…!
Aku dibawa keluar hutan, melewati pasar dan perkotaan
dengan kendaraan yang merusak polusi udara membuat aku sesak menyerap Co2
di perkotaan ini. Hingga Aku tiba di sebuah rumah sederhana dengan
taman yang sedikit luas. Kulihat banyak tanaman bunga. Ya, pastinya Aku
tidak kesepian di sini. Tapi mereka tidak secantik diriku. Ho…ho…
sombongnya diriku.
Aku di letakkan dalam sebuah pot yang berukuran sedang.
Pemindahan dalam penanamanku berlangsung baik, tapi Aku masih harus
beradaptasi dengan tempat baruku ini yang masih belum terasa nyaman
karena Aku masih biasa hidup di hutan.
Wina, gadis cilik yang membawaku kemari, langsung
menyiramiku dengan air segar. Oh… nikmatnya…! Lalu dituangkannya pupuk
kandang ke dalam tempat baruku, dan diletakkannya Aku di tempat yang
teduh tak panas tanpa cahaya matahari yang terlalu menyengat. Gadis yang
pintar.
Empat hari telah berlalu, Aku masih terlihat segar. Gadis
kecil itu merawatku dengan rutin. Dua kali penyiraman dalam satu hari.
Tiap pagi dan petang ditambah pupuk kandang yang membuatku merasa segar
dan tumbuh subur.
Hari ke lima, hari minggu pagi. Dari jendela rumah
kulihat gadis itu tampak sibuk dan ceria dengan dandanan rapi. Ternyata
ia ingin pergi ke rumah paman dan bibinya di salah satu wisma, karena
anak gadis bibinya menikah. Tapi sepertinya ia melupakan Aku pagi ini.
Ia tak menyiramiku dan memberikanku pupuk seperti biasanya. Memang Aku
bisa bertahan, tapi apakah Aku bisa tahan di siang hari nanti?
Matahari begitu terik, menyengat, dan udara panas membuat
Aku kewalahan. Daun-daunku tiba-tiba menguning. Tiada orang di rumah
ini, semua pergi, hanya terdengar anak-anak kecil di samping rumah Wina
yang sepertinya sibuk bermain bola. Lalu,
“Suiiii……….nnng…!” sebuah bola meluncur ke arahku.
“Praakk…!” Pot tempat tinggalku hancur dan Aku membuyar…!
Tanah hitam berserakan, Aku terkapar kaku di teras rumah yang begitu
teriknya terkena sinar matahari di siang bolong.
“Wah Don, mabil tuh bola, payah loe..!”
“Iya.”
Datanglah seorang bocah yang tanpa dosa berlari mengambil bolanya, dan langsung kabur tanpa rasa iba terhadapku.
“Tok, gawat, pot mbak Wina pecah! Gimana?”
“Ah biarin aja, pot juga kan? Ntar ganti aja kenapa? Rumit amat.”
“Oke deh!”
Aku berantakan, Aku mengering, layu, tanpa air, tanpa ada
yang memperbaikiku, dan iba terhadapku. Aku tak kuat lagi. Hari semakin
panas, Wina juga belum kembali. Andai Aku masih di hutan pasti Aku tak
akan seperti ini.
Sore, pukul 04.30, semua keluarga Wina pulang. Wina
langsung membawakan air segar dan menuju teras rumahnya untuk menyiram
mawarnya.
“Mawar…mawar… aku akan menyirammu, maaf ya tadi pagi lupa…he..he…”
Lalu, “Mama….!!! Mawarku…!!!” Teriak Wina penuh histeris.
“Apa sayang?” Langsung ibunya bergegas melihat putrinya.
“Mawarku ma, kenapa kayak gini? Siapa yang ngancurinnya?”
“Ya udah, jangan nangis, besok kita beli mawar yang bagus.” Hiburnya.
“Tapi ma… hiks…!” tangisnya.
“Iya udah, nanti mama diganti.”
Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra
Menulis Karya Sastra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar