Minggu, 27 Oktober 2013

Cerpen

MAWAR LIAR


            Aku ini indah, cantik dan selalu berseri. Wangi apalagi, siapa yang tak suka diriku yang baru mekar berseri. Tak ada manusia yang berani menyentuhku, bila ada yang menyentuhku pasti terluka, karena Aku berduri. Tak ada yang mudah mendapatkan Aku. Akulah mawar liar. Aku berseri di kedalaman hutan yang jarang dikunjungi orang. Tapi hingga suatu ketika ada sesuatu yang tak pernah kuduga.
            “Win, kemari deh, coba deh lihat, ada mawar cantik di sini.”
            “Mana?”
            “Ini loh, sini buruan. Cantik banget mawarnya.”
            “Ririn, di hutan kayak gini ada mawar? Eh iya, ya kok  bisa ya? (terbengong dan tercengang) Iya cantik…. Ambil deh bawa pulang!”
            “Gimana? Aku nggak bawa sekop kecil, tuh ada durinya gede-gede, sakit lah.. luka nanti tanganku.”         
            “Tunggu, aku kayaknya bawa deh, nih ada pisau kecil.”
            “Wah beruntungnya diriku, he..he…he…!”
            “Inget sampe akarnya, dan bawa tanahnya juga, ntar biar nggak mati di tengah jalan.”
            Aku dicabut!!! Oh tidak!!! Sakit rasanya! Ada manusia yang mengambilku. Apakah aku dapat hidup nantinya? Aku takut. Aku dibawa dua orang gadis kecil, apakah mereka dapat merawatku dengan benar? Aku dimasukan ke dalam kantung plastik berukuran sedang dengan segumpal tanah. Rasanya Aku mulai merasa panas. Karena hari begitu terik menyengat semua partikel pembuluh xylem dan floemku. Aku haus…! Air..air… Aku minta air… inikah akhir hidupku? Selamatkan aku…! Help me… help me… please…!
            Aku dibawa keluar hutan, melewati pasar dan perkotaan dengan kendaraan yang merusak polusi udara membuat aku sesak menyerap Co2 di perkotaan ini. Hingga Aku tiba di sebuah rumah sederhana dengan taman yang sedikit luas. Kulihat banyak tanaman bunga. Ya, pastinya Aku tidak kesepian di sini. Tapi mereka tidak secantik diriku. Ho…ho… sombongnya diriku.
            Aku di letakkan dalam sebuah pot yang berukuran sedang. Pemindahan dalam penanamanku berlangsung baik, tapi Aku masih harus beradaptasi dengan tempat baruku ini yang masih belum terasa nyaman karena Aku masih biasa hidup di hutan.
            Wina, gadis cilik yang membawaku kemari, langsung menyiramiku dengan air segar. Oh… nikmatnya…! Lalu dituangkannya pupuk kandang ke dalam tempat baruku, dan diletakkannya Aku di tempat yang teduh tak panas tanpa cahaya matahari yang terlalu menyengat. Gadis yang pintar.
            Empat hari telah berlalu, Aku masih terlihat segar. Gadis kecil itu merawatku dengan rutin. Dua kali penyiraman dalam satu hari. Tiap pagi dan petang ditambah pupuk kandang yang membuatku merasa segar dan tumbuh subur.
            Hari ke lima, hari minggu pagi. Dari jendela rumah kulihat gadis itu tampak sibuk dan ceria dengan dandanan rapi. Ternyata ia ingin pergi ke rumah paman dan bibinya di salah satu wisma, karena anak gadis bibinya menikah. Tapi sepertinya ia melupakan Aku pagi ini. Ia tak menyiramiku dan memberikanku pupuk seperti biasanya. Memang Aku bisa bertahan, tapi apakah Aku bisa tahan di siang hari nanti?
            Matahari begitu terik, menyengat, dan udara panas membuat Aku kewalahan. Daun-daunku tiba-tiba menguning. Tiada orang di rumah ini, semua pergi, hanya terdengar anak-anak kecil di samping rumah Wina yang sepertinya sibuk bermain bola. Lalu,
            “Suiiii……….nnng…!” sebuah bola meluncur ke arahku.
           “Praakk…!” Pot tempat tinggalku hancur dan Aku membuyar…! Tanah hitam berserakan, Aku terkapar kaku di teras rumah yang begitu teriknya terkena sinar matahari di siang bolong.
            “Wah Don, mabil tuh bola, payah loe..!”
            “Iya.”
            Datanglah seorang bocah yang tanpa dosa berlari mengambil bolanya, dan langsung kabur tanpa rasa iba terhadapku.
            “Tok, gawat, pot mbak Wina pecah! Gimana?”
            “Ah biarin aja, pot juga kan? Ntar ganti aja kenapa? Rumit amat.”
            “Oke deh!”
            Aku berantakan, Aku mengering, layu, tanpa air, tanpa ada yang memperbaikiku, dan iba terhadapku. Aku tak kuat lagi. Hari semakin panas, Wina juga belum kembali. Andai Aku masih di hutan pasti Aku tak akan seperti ini.
            Sore, pukul 04.30, semua keluarga Wina pulang. Wina langsung membawakan air segar dan menuju teras rumahnya untuk menyiram mawarnya.
            “Mawar…mawar… aku akan menyirammu, maaf ya tadi pagi lupa…he..he…”
            Lalu, “Mama….!!! Mawarku…!!!” Teriak Wina penuh histeris.
            “Apa sayang?” Langsung ibunya bergegas melihat putrinya.
            “Mawarku ma, kenapa kayak gini? Siapa yang ngancurinnya?”
            “Ya udah, jangan nangis, besok kita beli mawar yang bagus.” Hiburnya.
            “Tapi ma… hiks…!” tangisnya.
            “Iya udah, nanti mama diganti.”

Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar