SURAT
Puisi: Cinta Palsu
“Engkau durhakai perintah Allah
Padahal di lahir menyatakan cinta
Di dalam alam ini mustahil
Di dalam alam ini pun ganjil
Kalau nian cintamu tulus
Niscaya perintahNya engkau taati
Sebab orang bercinta kepada kecintaan
Patuh dan tunduk senantiasa.”
Semua orang bertepuk tangan mendengar Fandy berpuisi,
termasuk aku sahabat dekatnya yang selalu mendukungnya di setiap acara
lomba baca puisi bertemakan Islam, karena Fandy adalah orang yang paling
suka bila menggeluti soal Islam, dan memiliki bakat bila berpuisi
seperti berorasi. Fandy pun turun dari atas panggung, semua orang
menyalaminya wajar saja, karena Fandy sudah jelas menjadi juaranya.
Fandy pun mendekat ke arahku sambil tersenyum.
“Asslamualaikum, wahai sahabatku…” Sapa Fandy padaku.
“Waalaikumsalaman, selamat ya Fan, kamu memang jago kalau masalah puisi Islam..”
“Ah, nggak juga, hanya kebetulan. Ayo kita makan dulu, perutku sudah lapar.” Ajak Fandy.
“Traktir nih…!” Cibirku.
“Tenang aja.”
Aku dan Fandy menuju kantin kampus untuk merayakan
kemenangannya, ya meskipun tak sebesar perayaan yang diharapkan, tapi
inilah pertemanan. Yang penting kan kebersamaannya.
Pukul 13.05, di kantin setelah makan kami masih
berbincang-bincang membicarakan kemenangan. Lalu tiba-tiba datang
seorang lelaki yang tinggi jangkung agak berjanggut dengan kulit sawo
mateng menghampiri kami.
“Boleh saya gabung?” Tanya lelaki itu dengan senyumnya yang aneh.
“Oh, silahkan..” Ujar Fandy sambil menggeser kursi dengan maksud memberi tempat.
“Kamu, Fandy? Yang menang lomba tadi kan?” Tanya lelaki itu kembali.
“Ya benar, memang ada apa ya? Kamu siapa?” Tanya Fandy penasaran.
“Hmm, o..ya, kenalin saya Zaidil. Saya kagum dengan cara
kamu berpuisi tadi ketika di atas panggung. Menyentuh hati saya terhadap
Islam.” Ujarnya.
“Oh, terima kasih, lalu?”
“Sebetulnya saya ingin mengajak Fandy ke pertemuan acara
saya di mall. Saya ingin memperkenalkan Fandy pada teman saya yang jago
juga akan puisi Islam. Sepertinya itu akan menarik bila kita bisa
membahas tentang itu…” Jelasnya
“Ya, bolehlah, tapi… Hmm… Gimana kalau besok saja? Saat
ini saya agak capek. Tinggalin nomor HP Zaidil aja, nanti saya
hubungin.”
“Wah, ide bagus tuh, ya udah ini kartu nama saya. Nanti hubungi saya besok jam 01.00 siang di mall restoran Kaniku.”
“Hmm, oke…!”
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, ada urusan lain nih di organisasi. Assalam..”
“Waalaikumsalam.”
Lelaki itu pun akhirnya pergi dengan meninggalkan kartu
namanya pada Fandy. Fandy segera memasukannya ke dalam dompetnya. Aku
hanya diam mendengar percakapan mereka, karena aku tak begitu tertarik
tentang itu.
“Mau dibawa ke mana hubungan kita… Jika kau terus menunda-nunda.. dan…”
“Halo, assalamualaikum?” Aku mengangkat handphoneku yang berdering “Armada”.
“Oh, ya, iya nanti aku segera ke sana, tunggu aja, waalaikumsalam…”
“Siapa Win? Tanya Fandy.
“Nuri, menyuruhku ke rumah sakit, mau pinjem duit. Dia
lagi ada masalah, bapaknya sakit-sakitan, jadi aku tolong deh, sekalian
amal gitu.”
“Hmm, amal apa Nurinya?” Ledeknya .
“Maksud loe? Udah ah aku mau pergi dulu ya. Assalam…!”
“Waalaikumsalam, hari-hati ya..”
“Ya…”
Aku meninggalkan Fandy di kantin. Aku pun segera menuju
rumah sakit untuk menemui Nuri yang sedang kerepotan menangani ayahnya
yang sakit-sakitan.
Rabu, 6 April 2011, pukul 11.30 menjelang siang
Sudah seminggu ini aku tak melihat Fandy, sejak hari
perlombaan itu dan aku meninggalkannya terakhir di kantin. Di kelas pun
dia tak ada. Aku duduk di halaman kampus di antara pepohonan rindang
dengan rerumputan hijau yang sedikit menguning. Sambil makan kudapan
ditemani pop ice melon. Dengan cuaca yang sangat menyengat kulit dapat mengeringkan tenggorokanku, aku duduk termangu.
“Ah… Alhamdulillah…,” pop ice menyegarkan tenggorokanku.
Tiba-tiba, Fandy muncul berjalan membawa Alquran kecil yang biasanya tak pernah ia bawa.
“Fandy…!” Teriakku dari kejauhan menyapanya. Fandy mendekat dan menyalami tanaganku.
“Assalamualaikum!” Ucapnya.
“Waalaikumsalam, Fan, darimana? Kenapa seminggu ini nggak ada kabarmu?” Tanyaku.
“Baik, aku lagi ada kerjaan, jadi nggak bisa masuk kuliah belakangan ini..”
“Oh…”
Tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu saat dia duduk di sampingku.
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ
وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ
يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ
يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung
kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka
perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).
Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.
Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
[QS. Al-A’raf : 176].” Ucapnya.
“Kenapa kamu ucapin ayat itu Fan?”
“Win, aku mau hijrah.” Katanya.
“Apa maksudmu?” Aku terbengong.
“Kamu sadar nggak Negara Indonesia ini bener-bener nggak
beres, Pancasila yang dituliskan tidak sesuai dengan apa yang
dijalankan. Bukankah negara kita ini mayoritas adalah orang muslim?
Seharusnya Indonesia menjadi Negara Islam.”
“Ada apa sih? Aku nggak ngerti yang kamu omongin. Hijrah? Negara Islam? Buat apa?”
“Pokoknya aku harus hijrah, aku sudah membayar uang sedekah seratus ribu buat awal aku hijrah.”
“Lalu?”
“Kamu mau ikut?” Tanya Fandy.
“Ah, aku nggak ngerti.” Ucapku.
“Win, aku cuma mau titip surat, tolong kamu serahin surat
ini ke ibuku ya, aku bakal nggak pulang, aku mau pergi hijrah…” Sambil
menggenggam tanganku memberikan sepucuk surat.
“Buat apa sih?” Aku semakin bingung.
“Aku sekarang mau berangkat, tolong ya sampaikan pada ibu, asslamualaikum…!”
“Waalaikumsalam…”
Aku terbengong, Fandy pergi meninggalkanku tanpa
memberikan sesuatu hal yang jelas. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi
padanya? Apa yang ia lakukan selama seminggu ini? Aku pun meninggalkan
kampus menuju rumah Fandy untuk memberikan surat yang dititipkannya
padaku.
Pukul 14.30, tepat di depan rumah Fandy.
“Assalamulaikum..”
“Waalikumsalam..” Ucap ibu Fandy yang keluar dari pintu rumah.
“Eh, nak Erwin, ada apa? Mana Fandy?”
“Fandy katanya mau pergi, dia cuma titip surat ini tante sama Erwin.”
“Surat?”
“Iya, ini suratnya…”
Dibukanya surat itu, dan aku juga melihatnya yang isinya,
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bandung, 05 Mei 2011
Yth. Ibunda tercinta
Di rumah
Asslamualaikum.
Bunda yang Fandy sayangi, maaf ya bun, Fandy nggak
bisa pamitan langsung sama bunda. Ini sudah Fandy pikirin matang-matang,
Fandy mau pergi dari kota ini. Fandy ikut temen, soal kuliah Fandy
sudah urus semuanya. Bunda jangan khawatir, Fandy bisa jaga diri.
Fandy mau mencari arti Islam sejati, jangan cemaskan
Fandy ya Bun, jangan cari Fandy, karena Fandy sudah menemukan tempat
yang benar-benar seharusnya Fandy tempati, yaitu di sebuah organisasi
yang Fandy geluti saat ini. Di sana Fandy bakal tenang dalam hal Islam.
Tolong titip salam ya Bun sama adek, paman dan bibi.
Fandy pamit. Fandy sayang kalian semua, terimakasih atas didikan Bunda
selama ini.
Wasslamulaikum.
Anakmu tersayang
Muhammad Fandy Al-Rasyid
“Tante, ada apa?” Tanyaku.
“Fandy ke mana Win?”
“Erwin cuma sebentar ketemu Fandy, terus Fandy langsung pamit sama Erwin, tante..!”
“Oh…. Ya Allah…!”
Ibunya pingsan, aku kebingungan. Kupanggil warga untuk
meminta bantuan. Terdengar suara televisi dari dalam rumah memberitakan,
“AWAS!!! NII…! CUCI OTAK!!”
“Mungkinkah Fandy?” aku terlemas kaku.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Karya: Daruhiko Ahmad
Menulis Karya Sastra
Menulis Karya Sastra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar