Rindu Di Pucak Mahligai
(Kumpulan Puisi Cinta)
Ahmad Badarudin
2010 112 094
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pendidikan Bahasa dan Seni
Universitas PGRI Palembang
2012
Sekapur Sirih
Kalau
ditanya tentang puisi, apa itu puisi? Bagiku puisi itu gambaran
perasaan hati yang unik yang dimiliki oleh tiap manusia melalui
kata-kata aneh yang keluar dari pikiran seseorang. Aku memang tak pandai
dalam berpuisi tapi aku mencoba untuk menuangkan sebuah karya yang
merupakan kumpulan kisah perjalan hati selama ini yang menggelitik
partikel-partikel sel otak yang selalu bertanya-tanya kapan aku bisa
mengungkapkan cerita ini?
Kini aku menemukannya. Aku ingin
bercerita tentang cinta dimana ada masa-masa yang membuat aku gila,
suka, tertawa, senang, sedih, terluka, malu dan jemu. Semua harapan pun
tertuang dalam curahan hati di sebuah karya yang semoga dapat
menimbulkan rasa bagi tiap sang pembaca.
Bila mengingat masa-masa
itu, aku pasti akan tertawa mengenangnya, karena ini adalah memori
masa-masa keluguan dan keraguanku dalam menikmati rasa di hati dan
kutuang dalam sebuah judul Rindu Di Puncak Mahligai (Kumpulan Puisi).
Penulis
Daftar Isi
Sekapur Sirih ............................................................................................. ii
1. Angkuh ................................................................................................1
2. Cahaya Bulanmu ................................................................................2
3. Hadiah Manis Untuknya.....................................................................3
4. Lamunan Kerinduan...........................................................................4
5. Maaf Sayangku.................................................................................... 5
6. Pinggiran Jalan.....................................................................................6
7. Selamanya Setia....................................................................................7
8. Manisnya Senyummu di Mataku........................................................8
9. Sengaja...................................................................................................9
10. Rindu Empat Musim.............................................................................10
11. Rindu Di Puncak Mahligai................................................................... 11
12. Sepuluh Hal Aku Suka Kamu...............................................................12
13. Hujan Kenangan.....................................................................................13
14. Marah ..................................................................................................... 14
15. Menanti Harapan .................................................................................. 15
Tentang Penulis..............................................................................................16
1. Angkuh
Dewi malam tak tersenyum padaku
Dengan kubuat kabut mengelilingi
Seolah hatimu teriris dengan
sayatan yang tajam menusuk ke dalam sukma
Bukan aku tak rindu,
Tapi tak sempat kulepaskan dahaga kerinduan ini
Saat semula rasa itu telah musnah
Karena bagimu
Aku tak layak di hatimu
Tapi
Kini kau tersungkur malu padaku
Kupatahkan keangkuhanmu
Kau yang selama ini anggap aku tak berguna
Kini kau yang menyembah
Bukan aku tak mau bersamamu,
Tapi terlambat
Untukmu menjadi dambaan hati
2. Cahaya Bulanmu
Menawan dirimu bagi putri impian
Manis tawamu memberikan kebahagian
Terkesima dengan semua yang kau miliki
Jelas bagiku
Akankah kau bisa kurangkul?
Jenuh perasaan ini
Kau begitu jauh dari harapan
Bukan kutak sanggup mengatakan suka
Tapi…
Semua musnah!
Kau telah….
Ya …
Bagiku, aku hanyalah pungguk yang bisa
Yang melihat cahaya bulanmu dikejauhan
3. Hadiah Manis Untukknya
Kejujuran ini aku simpan di kotak hati
Tak akan kubuka
Sampai aku memahami
Perasaan manis manja yang tersirat di hatinya
Tapi
Sampai kapan kutahan?
Bukankah rasanya seperti meledakkan bom
Di jantung?
Ini terlalu menyiksa!
Tak kuasa batin ini menahan…
Harus kubuka rahasia ini
Kan kuutarakan bahwa aku benar memiliki hadiah manis untuknya
Sebuah kalimat yang kuukir selama aku bersamamu
Bahwa “Aku Mencintaimu”
4. Lamunan Kerinduan
Lamunan ini merobek hati
Di kerinduan
Aku teriak…..
Kencang…
Tapi di dalam hati
Sembilu mengiris rasa asa
Kutahan
Berlari….
Karena perih
Ada cinta yang kugantungkan
Begitu indah
Ingin kugapai
Tapi kubuang
Kusembunyi
Takut...
Pilu jiwa
Tanpa kasih sayangmu di sini
Datanglah padaku sekarang
Atau…
Aku kembali dalam
Lamunan kerinduan
5. Maaf Sayangku
Jangan kau hancurkan hatiku
Bila memang cinta kita telah rapuh
Masih ada harapan untuk kita
Bila kau mau memulainya
Ini hati telah kubagi
Sebagai tanda hidupku
Sebagai ruang dalam jiwa
Walau hampa tapi bermakna
Ribuan untaian kata mesra
Kutaburkan untukmu
Tuk kuberikan di atas tanah merahmu
Walau sulit kau menerima
Semoga abadi dalam nurani
Kurebahkan kepalaku di pembaringan
Air mataku perlahan membasahi pembaringan
Sebagai tanda penyesalanku
Aku ucapkan
“Maaf Sayangku”
6. Pinggiran Jalan
Mungkin langit tak memiliki daratan
Untuk tempatkan anganku di sana
Walaupun kugantungkan,
Pasti kan terjatuh menghancurkan semua harapan
Kudamba engkau kukira semula
Kau mengharapku, merindukanku
Memberikan semua curahan hati
Untuk kusimpan dengan semua kebahagiaan yang bisa kumiliki
Belum pernah aku mencintai sekeras ini
Bagaimana caranya?
Sementara aku tak tahu cara melupakanmu
Mengharapa semua perasaanmu aku tak bisa
Aku keliru mengenalmu
Kukira kau dapat kujadikan yang tersayang
Untuk kutempatkan di peraduan hati
Aku hanya bisa katakana
Cintamu seperti pinggiran jalan….
7. Selamanya Setia
Mengenangmu
Dalam cerita cintaku
Engkau selalu ada di hatiku
Selamanya setia bila kita bersama
Mengenangmu
Dalam setiap kisahku
Bersama kita lalui sepanjang hari
Selamanya setia
Untuk cinta hati kita
Hatiku
Risauku
Tak pernah bisa kembalikanmu
Tangisku
Lukaku
Tak pernah bisa kembalikan asaku
Mungkinkah kau dapat kembali
Bersamaku
Cintaku
Kan kutitipkan
Di taman surga…
8. Manisnya Senyummu di Mataku
Sajak kata mesra kuukir indah
Dengan ucapan bibir yang kudengar
Bila kau berucap
Seolah sang pemutar waktu
Menghentikan detik jarum jam
Agar aku dapat memandang indah
Wajahmu yang memukau sejenak
Bila perhatian ini tertuju padamu
Kan hilang pandangan yang lain
Karena manisnya senyummu di mataku
Menyejukkan batin dan jiwa yang menggila
Akankah aku bisa bersamamu?
9. Sengaja
Aku diam
Tak tenang
Hatiku terasa panas
Tapi kutetap diam
Kutahan amarah
Muak telingaku
Ocehannya mulai merusak partikel sarafku
Ingin kuludahi wajahnya
Kutendang perutnya
Dan kumasukkan ke tong sampah
Tapi kutetap diam
Karena memang aku yang salah
Yang sengaja mendustaimu
Tapi kau memang pantas mendapatkannya
Karena kau sampah di mataku
Dan di hidupku
Meski aku diam
Aku tetap tertawa dalam hati
Bisa membuatmu terluka
Itu kebahagiaanku
10. Rindu Empat Musim
Gadis bodoh yang tak kukenal
Menangis, tertawa, sedih, tersenyum
Aku tak mengenalmu
Tapi aku menyukaimu
Gadis bodoh dengan senyumnya
Datang dengan ratusan komik
Musim awal untuk aku agar lebih menyukaimu
Dan semakin menyukaimu
Gadis bodoh dengan tawanya
Mengupil di depan umum
Aneh, tapi membuatku geli
Gadis bodoh dengan keceriaannya
Bernyanyi layak artis tapi suaranya galau
Membuat sakit telingaku
Tapi aku bahagia
Gadis bodoh dengan tangisannya
Datang memohon maaf pergi meninggalkan aku
Meninggalkan sejuta kenangan bodoh
Aku terluka, tak kuterima
Tapi, kumohon
Bahagialah,
Tetap aku mencintaimu…
Aku merindumu dengan semua tingkahmu
Bye-bye…
11. Rindu Di Puncak Mahligai
Syaduhnya kurasa saat ini
Suasana sepi saat ini
Teriris hatiku dibuai kenangan lalu
Ingin kuluapkan rasa di hatiku
Sudikah mendengarnya?
Sebenarnya engkau masih kusayang
Biar pun tak dapat bersama
Kau masih kurindu seperti waktu dahulu
Aku mengharap agar kau mengerti luapan rasa ini
Jika kau telah hidup bahagia
Jangan kau lupakan diriku yang terdampar kesepian
Kudilamun ombak rindu
Yang hanyut dalam kelemasan
Mengapa aku menunggu dan menagih kasihmu?
Dirimu di mana?
Hanya aku yang terus sabar menantimu
Tanpa jemu
Rindu di puncak mahligai
Bagai sembilu yang mengiris hati
Pedih membara
karena kasih tak sampai
Sayang padamu kupinta
agar kau menghargai rinduku
12. Sepuluh Hal Aku Suka Kamu
Aku suka saat melihatmu melamun,
Begitu ayu wajahmu
Aku suka saat melihatmu berjalan,
Begitu gemulai langkahmu
Aku suka saat senyummu terbuka,
Amat mengoda di jiwaku
Aku suka saat kau bertutur kata,
Halus dan berwibawa kau bicara
Aku suka saat kau marah,
Hanya diam dan tersenyum
Aku suka saat kau menyapa “Hai…!”,
Membuat aku semakin suka
Aku suka saat melihatmu menulis,
Seperti mengukir cinta dalam hatiku
Aku suka saat kau melihatku,
Seolah matamu mengizinkan aku untuk memelukmu
Aku suka saat kau membuatku jatuh cinta padamu,
Maka kumohon jadilah kekasihku!
13. Hujan Kenangan
Seperti biasa
Kebosanan melanda hati
Tapi tak biasa
Kujenuh karena merindu
Bukankah hati kita selalu bersama
Kala kesejukkan dengan hiasan mendung tipis di langit
Kau memberikan kehangatan dalam pelukkan
Hujan itu
Saat aku mengingat kemesraan
Tapi tak kurasakan
Ketika kau jauh pergi
Aku menangis dalam rintihan hujan kenangan
Kala aku merindumu
Mengapa kau pergi saat itu?
Aku terlalu penat menanti
Hanya hujan ini menemani…
14. Marah
Kau tahu,
apa yang paling menyebalkan dan memuakkan?
Kau tak pernah mengerti aku
Kau tahu,
Apa yang membuat hatiku marah dan tak terkendali?
Kau terlalu egois padaku
Kau tahu,
Kau tak pernah mengerti, memahami, memaklumi, maupun menyayangi aku
Kala aku dilanda sepi
Kala aku dilanda dilemma
Kala aku dilanda sedih
Kala aku dilanda rindu
Kau kau kau!
Tak pernah ada untukku!
Cukup !
Hentikan ! aku tak butuh rayuan gilamu, pujianmu, alasanmu,
dan kata maafmu
Aku terlanjur terluka…
15. Menanti Harapan
Kemarin,
Malam menepuk relung hatiku
Seolah menampar pedas
Mengingatkan aku untuk merindumu
Tapi kubuang jauh
Hari ini,
Sang langit menjatuhkan sejuta harapan tentang engkau
Menarik kembali rasa ini
Agar aku dapat bersamamu lagi
Tapi kubuang jauh
Esok,
Entah apa yang akan kau lakukan
Mengirim rindu pada sang angin?
Mengirim kenangan pada sang bintang?
Agar aku dapat kembali?
Maaf kukatakan
Cintamu telah kubuang jauh…
Tentang Penulis
Ahmad
Badarudin, lahir di Palembang, 04 November 1990. Dibesarkan oleh
keluarga yang sederhana yang bertempat tinggal di JL. Urip Sumoharjo Lr.
Manunggal Rt. 23 No. 2308 asrama Sekojo Palembang 30118. Alumni SD
Negeri 176 Palembang tahun 1996- 2002, SLTP Negeri 29 Palembang tahun
2002-2005, melanjutkan ke SMA Y. Pembina Palembang jurusan IPA tahun
2005-2008. Setelah tamat, menjadi seorang Indie Band di Palembang dalam
dunia musik sebagai penyaluran bakat. Melanjutkan ke Universitas PGRI
Palembang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan
Bahasa dan Seni di tahun 2010 hingga sekarang masih sebagai mahasiswa
semester IV C. Karya ini merupakan harapan dari diri saya.
**************************************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar