Senin, 15 Juli 2013

KUMPULAN PUISI CINTA

Rindu Di Pucak Mahligai
(Kumpulan Puisi Cinta)




Ahmad Badarudin
2010 112 094





Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pendidikan Bahasa dan Seni
Universitas PGRI Palembang
2012











Sekapur Sirih

Kalau ditanya tentang puisi, apa itu puisi? Bagiku puisi itu gambaran perasaan hati yang unik yang dimiliki oleh tiap manusia melalui kata-kata aneh yang keluar dari pikiran seseorang. Aku memang tak pandai dalam berpuisi tapi aku mencoba untuk menuangkan sebuah karya yang merupakan kumpulan kisah perjalan hati selama ini yang menggelitik partikel-partikel sel otak yang selalu bertanya-tanya kapan aku bisa mengungkapkan cerita ini?
Kini aku menemukannya. Aku ingin bercerita tentang cinta dimana ada masa-masa yang membuat aku gila, suka,  tertawa, senang, sedih, terluka, malu dan jemu. Semua harapan pun tertuang dalam curahan hati di sebuah karya yang semoga dapat menimbulkan rasa bagi tiap sang pembaca.
Bila mengingat masa-masa itu, aku pasti akan tertawa mengenangnya, karena ini adalah memori masa-masa keluguan dan keraguanku dalam menikmati rasa di hati dan kutuang dalam sebuah judul Rindu Di Puncak Mahligai (Kumpulan Puisi).

Palembang,   Febuari 2012


Penulis










Daftar Isi

Sekapur Sirih .............................................................................................  ii
1.      Angkuh ................................................................................................1
2.      Cahaya Bulanmu ................................................................................2
3.      Hadiah Manis Untuknya.....................................................................3
4.      Lamunan Kerinduan...........................................................................4
5.      Maaf Sayangku.................................................................................... 5
6.      Pinggiran Jalan.....................................................................................6
7.      Selamanya Setia....................................................................................7
8.      Manisnya Senyummu di Mataku........................................................8
9.      Sengaja...................................................................................................9
10.  Rindu Empat Musim.............................................................................10
11.  Rindu Di Puncak Mahligai................................................................... 11
12.  Sepuluh Hal Aku Suka Kamu...............................................................12
13.  Hujan Kenangan.....................................................................................13
14.  Marah ..................................................................................................... 14
15.  Menanti Harapan .................................................................................. 15
Tentang Penulis..............................................................................................16












1.      Angkuh

Dewi malam tak tersenyum padaku
Dengan kubuat kabut mengelilingi
Seolah hatimu teriris dengan
sayatan yang tajam menusuk ke dalam sukma

Bukan aku tak rindu,
Tapi tak sempat kulepaskan dahaga kerinduan ini
Saat semula rasa itu telah musnah

Karena bagimu
Aku tak layak di hatimu

Tapi
Kini kau tersungkur malu padaku
Kupatahkan keangkuhanmu

Kau yang selama ini anggap aku tak berguna
Kini kau yang menyembah

Bukan aku tak mau bersamamu,
Tapi terlambat
Untukmu menjadi dambaan hati







2.      Cahaya Bulanmu

Menawan dirimu bagi putri impian
Manis tawamu memberikan kebahagian
Terkesima dengan semua yang kau miliki
Jelas bagiku

Akankah kau bisa kurangkul?

Jenuh perasaan ini
Kau begitu jauh dari harapan
Bukan kutak sanggup mengatakan suka

Tapi…
Semua musnah!
Kau telah….

Ya …
Bagiku, aku hanyalah pungguk yang bisa
Yang melihat cahaya bulanmu dikejauhan











3.      Hadiah Manis Untukknya

Kejujuran ini aku simpan di kotak hati
Tak akan kubuka
Sampai aku memahami
Perasaan manis manja yang tersirat di hatinya

Tapi
Sampai kapan kutahan?
Bukankah  rasanya seperti meledakkan bom
Di jantung?

Ini terlalu menyiksa!

Tak kuasa batin ini menahan…

Harus kubuka rahasia ini
Kan kuutarakan bahwa aku benar memiliki hadiah manis untuknya
Sebuah kalimat yang kuukir selama aku bersamamu
Bahwa “Aku Mencintaimu”











4.      Lamunan Kerinduan

Lamunan ini merobek hati
Di kerinduan
Aku teriak…..
Kencang…
Tapi di dalam hati

Sembilu mengiris rasa asa
Kutahan
Berlari….
Karena perih

Ada cinta yang kugantungkan
Begitu indah
Ingin kugapai
Tapi kubuang
Kusembunyi
Takut...
Pilu jiwa
Tanpa kasih sayangmu di sini

Datanglah padaku sekarang
Atau…
Aku kembali dalam
Lamunan kerinduan





5.      Maaf Sayangku

Jangan kau hancurkan hatiku
Bila memang cinta kita telah rapuh
Masih ada harapan untuk kita
Bila kau mau memulainya

Ini hati telah kubagi
Sebagai tanda hidupku
Sebagai ruang dalam jiwa
Walau hampa tapi bermakna

Ribuan untaian kata mesra
Kutaburkan untukmu
Tuk kuberikan di atas tanah merahmu
Walau sulit kau menerima
Semoga abadi dalam nurani

Kurebahkan kepalaku di pembaringan
Air mataku perlahan membasahi pembaringan
Sebagai tanda penyesalanku
Aku ucapkan
“Maaf Sayangku”








6.      Pinggiran Jalan

Mungkin langit tak memiliki daratan
Untuk tempatkan anganku di sana
Walaupun kugantungkan,
Pasti kan terjatuh menghancurkan semua harapan

Kudamba engkau kukira semula
Kau mengharapku, merindukanku
Memberikan semua curahan hati
Untuk kusimpan dengan semua kebahagiaan yang bisa kumiliki

Belum pernah aku mencintai sekeras ini
Bagaimana caranya?
Sementara aku tak tahu cara melupakanmu
Mengharapa semua perasaanmu aku tak bisa

Aku keliru mengenalmu
Kukira kau dapat kujadikan yang tersayang
Untuk kutempatkan di peraduan hati
Aku hanya bisa katakana
Cintamu seperti pinggiran jalan….









7.      Selamanya Setia

Mengenangmu
Dalam cerita cintaku
Engkau selalu ada di hatiku
Selamanya setia bila kita bersama

Mengenangmu
Dalam setiap kisahku
Bersama kita lalui sepanjang hari

Selamanya setia
Untuk cinta hati kita

Hatiku
Risauku
Tak pernah bisa kembalikanmu
Tangisku
Lukaku
Tak pernah bisa kembalikan asaku

Mungkinkah kau dapat kembali
Bersamaku

Cintaku
Kan kutitipkan
Di taman surga…




8.      Manisnya Senyummu di Mataku

Sajak kata mesra kuukir indah
Dengan ucapan bibir yang kudengar
Bila kau berucap

Seolah sang pemutar waktu
Menghentikan detik jarum jam
Agar aku dapat memandang indah
Wajahmu yang memukau sejenak

Bila perhatian ini tertuju padamu
Kan hilang pandangan yang lain
Karena manisnya senyummu di mataku
Menyejukkan batin dan jiwa yang menggila

Akankah aku bisa bersamamu?














9.      Sengaja

Aku diam
Tak tenang
Hatiku terasa panas
Tapi kutetap diam
Kutahan amarah

Muak telingaku
Ocehannya mulai merusak partikel sarafku

Ingin kuludahi wajahnya
Kutendang perutnya
Dan kumasukkan ke tong sampah

Tapi kutetap diam
Karena memang aku yang salah
Yang sengaja mendustaimu
Tapi kau memang pantas mendapatkannya

Karena kau sampah di mataku
Dan di hidupku

Meski aku diam
Aku tetap tertawa dalam hati

Bisa membuatmu terluka
Itu kebahagiaanku



10.  Rindu Empat Musim

Gadis bodoh yang tak kukenal
Menangis, tertawa, sedih, tersenyum
Aku tak mengenalmu
Tapi aku menyukaimu

Gadis bodoh dengan senyumnya
Datang dengan ratusan komik
Musim awal untuk aku agar lebih menyukaimu
Dan semakin menyukaimu

Gadis bodoh dengan tawanya
Mengupil di depan umum
Aneh, tapi membuatku geli

Gadis bodoh dengan keceriaannya
Bernyanyi layak artis tapi suaranya galau
Membuat sakit telingaku
Tapi aku bahagia

Gadis bodoh dengan tangisannya
Datang memohon maaf pergi meninggalkan aku
Meninggalkan sejuta kenangan bodoh
Aku terluka, tak kuterima

Tapi, kumohon
Bahagialah,
Tetap aku mencintaimu…
Aku merindumu dengan semua tingkahmu
Bye-bye…


11.  Rindu Di Puncak Mahligai

Syaduhnya kurasa saat ini
Suasana sepi saat ini
Teriris hatiku dibuai kenangan lalu
Ingin kuluapkan rasa di hatiku
Sudikah mendengarnya?

Sebenarnya engkau masih kusayang
Biar pun tak dapat bersama
Kau masih kurindu  seperti waktu dahulu
Aku mengharap agar kau mengerti luapan rasa ini

Jika kau telah hidup bahagia
Jangan kau lupakan diriku yang terdampar kesepian
Kudilamun ombak rindu
Yang hanyut dalam kelemasan

Mengapa aku menunggu dan menagih kasihmu?
Dirimu di mana?
Hanya aku yang terus sabar menantimu
Tanpa jemu

Rindu di puncak mahligai
Bagai sembilu yang mengiris hati
Pedih membara
karena kasih tak sampai
Sayang padamu kupinta
agar kau menghargai rinduku


12.  Sepuluh Hal Aku Suka Kamu

Aku suka saat melihatmu melamun,
Begitu ayu wajahmu
Aku suka saat melihatmu berjalan,
Begitu gemulai langkahmu
Aku suka saat senyummu terbuka,
Amat mengoda di jiwaku
Aku suka saat kau bertutur kata,
Halus dan berwibawa kau bicara
Aku suka saat kau marah,
Hanya diam dan tersenyum
Aku suka saat kau menyapa “Hai…!”,
Membuat aku semakin suka
Aku suka saat melihatmu menulis,
Seperti mengukir cinta dalam hatiku
Aku suka saat kau melihatku,
Seolah matamu mengizinkan aku untuk memelukmu
Aku suka saat kau membuatku jatuh cinta padamu,
Maka kumohon jadilah kekasihku!




13.  Hujan Kenangan

Seperti biasa
Kebosanan melanda hati
Tapi tak biasa
Kujenuh karena merindu

Bukankah hati kita selalu bersama
Kala kesejukkan dengan hiasan mendung tipis di langit
Kau memberikan kehangatan dalam pelukkan

Hujan itu
Saat aku mengingat kemesraan
Tapi tak kurasakan
Ketika kau jauh pergi

Aku menangis dalam rintihan hujan  kenangan
Kala aku merindumu

Mengapa kau pergi saat itu?
Aku terlalu penat menanti
Hanya hujan ini menemani…


14.  Marah

Kau tahu,
apa yang paling menyebalkan dan memuakkan?

Kau tak pernah mengerti aku

Kau tahu,
Apa yang membuat hatiku marah dan tak terkendali?

Kau terlalu egois padaku

Kau tahu,
Kau tak pernah mengerti, memahami, memaklumi, maupun menyayangi aku

Kala aku dilanda sepi
Kala aku dilanda dilemma
Kala aku dilanda sedih
Kala aku dilanda rindu
Kau kau kau!
Tak pernah ada untukku!

Cukup !
Hentikan ! aku tak butuh rayuan gilamu, pujianmu, alasanmu,
dan kata maafmu

Aku terlanjur terluka…




15.  Menanti Harapan

Kemarin,
Malam menepuk relung hatiku
Seolah menampar pedas
Mengingatkan aku  untuk merindumu
Tapi kubuang jauh

Hari ini,
Sang langit menjatuhkan sejuta harapan tentang engkau
Menarik kembali rasa ini
Agar aku dapat bersamamu lagi
Tapi kubuang jauh

Esok,
Entah apa yang akan kau lakukan
Mengirim rindu pada sang angin?
Mengirim kenangan pada sang bintang?
Agar aku dapat kembali?
Maaf kukatakan
Cintamu telah kubuang jauh…










Tentang Penulis
Ahmad Badarudin, lahir di Palembang, 04 November 1990. Dibesarkan oleh keluarga yang sederhana yang bertempat tinggal di JL. Urip Sumoharjo Lr. Manunggal Rt. 23 No. 2308 asrama Sekojo Palembang 30118. Alumni SD Negeri 176 Palembang tahun 1996- 2002, SLTP Negeri 29 Palembang tahun 2002-2005, melanjutkan ke SMA Y. Pembina Palembang jurusan IPA tahun 2005-2008. Setelah tamat, menjadi seorang Indie Band di Palembang dalam dunia musik sebagai penyaluran bakat. Melanjutkan ke Universitas PGRI Palembang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Seni di tahun 2010 hingga sekarang masih sebagai mahasiswa semester IV C. Karya ini merupakan harapan dari diri saya.

**************************************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar