|
M
|
inggu, malam Senin, 17 Febuari
2013 Pukul 22.01, langit tampak memerah hambar terlihat dengan keraguan akan
kepastian turunnya sang gerimis panjang yang tak menentu kapan ia akan
turun menjatuhkan dirinya ke bumi untuk membasahi semesta alam.
Tetap saja aku
tetap tak perduli dengan semua itu, karena hal tersebut hanyala klise kehidupan
yang selalu terjadi dalam tiap musim.
Aku tak pernah mengira hari ini
begitu sepi, mendengar nyanyian Larc~en~ciel mungkin membuatku nyaman, tapi
hanya sesaat belaka. Aku termenung kaku menerobos alam bawah sadar untuk
mencari tahu di mana letak tujuan hidup ini? tapi tak kutemukan juga. Waktu
seolah berhenti. Jarum jam seperti menatapku dengan mata yang begitu tajam
bagai hendak menusukku dengan jarumnya yang tajam yang siap merajam ke dalam
tubuh ini. aku tersentak bangun dari lamunan hampa berkat suara gemuruh Pesawat
yang melintasi tepat di atas rumahku.
Aku semakin
linglung, terhuyung-huyung melihat rembulan tampak tak bercahaya. Pikiranku
kosong di penuhi warna abu-abu. Ya, seperti dunia ini dibasahi dua abu-abu yang
berwarna tak mencolok dalam hidupnya. Seperti hidupku ini berwarna abu-abu yang
diam tak menentu hanya kesendirian yang menemani dalam sepi memekakan
raungan jiwa yang memang sedari dulu membisu tak pernah berbicara sepatah kata
pun dari bibir ini.
Novel-novel yang berada di lemariku seolah memanggil namaku dengan halus tapi menunjukan kebencian yang amat sangat, karena mereka mengeluh akan sikapku yang hanya setengah membaca buku-buku konyol itu. Menyebalkan! Cerita yang di dalam itu hanya omong kosong....! Ini dunia nyata, Bung! Jangan samakan dengan fiksi-fiksi lemahmu yang tak beraturan itu. Akhirnya buku-buku itu diam juga.
Novel-novel yang berada di lemariku seolah memanggil namaku dengan halus tapi menunjukan kebencian yang amat sangat, karena mereka mengeluh akan sikapku yang hanya setengah membaca buku-buku konyol itu. Menyebalkan! Cerita yang di dalam itu hanya omong kosong....! Ini dunia nyata, Bung! Jangan samakan dengan fiksi-fiksi lemahmu yang tak beraturan itu. Akhirnya buku-buku itu diam juga.
Segelas susu
kopi mocca menemani bibirku yang mengering, aku berharap tak pernah tidur dan
ingin melihat dunia malam ini berjalan dengan seksama dan semestinya.
Kekonyolan malam ini hanya bualan yang kuciptakan karena kebosanan yang terlalu
padat dalam otakku yang beku.
Jalan lurus itu tak
pernah ada, bumi saja berjalan tak sesuai dengan arahnya.
Penulis: Daruhiko Kuru_Chan
Penulis: Daruhiko Kuru_Chan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar