Minggu, 15 Desember 2013

KUMPULAN PUISI MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELAS C ANGKATAN TAHUN 2010


ANGIN MALAM

Aku merasakan kehilangan sesuatu darimu
Namamu selalu terukir di lubuk hati yang paling dalam

Terkadang benci, terkadang rindu
Engkau membuat hatiku hancur berkeping-keping

Dinginnya semilir angin malam mengajakku berbincang-bincang
Ingin rasanya aku membuang jauh-jauh masa lalu itu
Karya: Antedi

MELATI
Embun pagi yang menetes
Menyirami taman bunga hatiku ini

Engkau yang datang menebar janji
Lalu, pergi bersama angin di atas awan

Ingin rasanya aku mencabik-cabik hati ini
Aku melati yang layu
Karya: EMELIA

Asa

Sunyinya malam ini
Hanya menambah kepiluan hati
Kini aku sendiri
Berharap pada ilahi

Tuhan, aku bersimpuh menengadah kepada-Mu
Membuka jemari untuk memohon dan meminta
Masih sudikah Engkau menerima pintaku
Disaat kalbu sudah tak perdulikan asa

Aku seorang hamba yang selalu banyak pinta
Mengeluh, mengaduh, menafikkan segala nikmat
Kuratapi suratan ini dan tak kusyukuri berkah yang kudapat
Jadikan aku sebagai hamba yang selalu taat dan selamatkan aku dunia akhirat
Karya: PIPIN MERLITA

Memancing
Tuhan yang mengerti
Dari
Segalanya
dan
Manusia yang menikmati dengan indah dan damai
Di bumi mana pun
Karya: M. Alif

Goresan Pensil

                                    Ku melangkah tanpa arah
                                    Ku berjalan tanpa tujuan
                                    Apa ini,?
                                    Apa yang sedang kujalani?

                                    Gedung, meja, kursi begitu aneh bagiku
                                    Ya.. semua itu sangat aneh
                                    Ku dihadapkan pada dunia
                                    Dunia yang tidak aku ketahui

                                    Hari ini
                                    Sekarang lagi-lagi aku dihadapkan
                                    dengan keanehan-keanehan itu
                                    Aku dihadapkan pada sebuah benda
                                    Benda itu
                                    Buku dan pensil
Bak melihat hantu, mengapa aku begitu takut dengan benda itu?

                                    Bagaikan menelan duri
                                    Betapa sakitnya bila aku melihat
                                    Ujung pensil menancap dikeras putih itu
                                    Sungguh aku tidak ingin melihat terkoyaknya buku hanya                                                  karena subuah pensil

                                    Hingga setahun berlalu
                                    Tidak ada juga goresan dikertas itu

KARYA: DWI OKTA SARI

TEKAD
Mentari muncul, tersenyum dengan sipunya
Melangkah, yakinkan hati di ujung sanubari
Tersenyum, lihatlah di sekeliling tempat berpijak
Gersang, ramai, tak peduli sejuta kegiatan menanti.

Mentari mulai menyengat hingga terlelah
Cahayanya mulai meremang
Arloji pun ikut tersenyum dengan sejuta tingkah
Tapi aku tetap tersenyum dengan sejuta niat dan tekad

Kejamnya dunia, tapi aku berlindung kepada-Nya
Sepi, takut dan mencekam
Akan tetapi, niat lebih besar dari kecekaman sunyi di malam itu
Ku pejamkan mata, ku kepal tangan

Tekad itu mengalahkan ketakutan yang berujung
Ku sentuh hati, tenangkan detak jantung
Nadi pun kembali berdetak
Mereka, alasanku tuk melawan semua asa.
By Created: Gusti Riani

Jalan

Awalnya diriku sendiri meratapi...
Satu jalan  dalam sanubari...
Sekejap Mekar hati saat disadarkan waktu kini...
Terlukis sketsa bingkai wajah dirimu disisi...

Tak tersadar pupus sudah sumpah yang aku ucapkan sendiri...
Roman kebaikan mu membelai lubuk jantung ini...
Terjatuh bayangmu dalam labirin yang buta tanpa arah...
Meraba tiap keikhlasan hati yang penuh sedih...

Merasakan kesendirian waktu ku sendiri...
Hilang Kekecewaan menaggapi senyum iklas mu..
Dalam jangka jauh di siksa nafsuku...
Pikiran bersitegang dengan pergulatan batin...
Melangkahi sepi jalan di ujung nadi yang pergi..
                                                                                     Karya Herpian
Hilang Separuh Jejak

                J   : urang tak berdasar begitu menghantui 
                U  : capan selamat tinggal mengakhiri
                B  : erakhir di sini tempatku mulai bermimpi
                I   : ndah dengan sang bidadari hati

                E  : ntah bagaimana hidupku selanjutnya, tapi,
                K  : u takkan mati
                A  : kukan tetap berdiri 

                R  : asa ini takkan terobati
                A  : tau bahkan
                M : ati takkan mengobati
                A  : ku ingin kau pergi jauh tak kembali
                D  : an biarkan masa lalu menghilang dari hidup ini
                O  : ohh,,
                N  : ada-nada masa lalu bersegeralah kau pergi
                A  : ku melawan hari, terus bermimpi, tak ada yang bisa
                       menghalangi
 Sajak: JUBI EKA RAMADONA


Seuntai bahagia

Sosok mungil terlihat lemah
Ini bukan tanggungannya
Ketika dipaksa memahami keadaan
Yang setiap hari harus ia hadapi
            Menangis meraungpun tak terhiraukan
            Memilukan dan menyayat hati kecilnya
            Entah dosa apa yang dilakukannya
            Bermimpi pun rasanya tak sanggup
Rasa marah benar tertanam di nuraninya
Gadis itu sadar ini perbuatan terkutuk
Pencipta sangat membencinya
Hingga ego lah yang menyadarkannya
            Ketidakberdayaannya memaksanya
            Melupakannya begitu memilukan
            Itu masa kelamku,
            Lupakan-lupakan ini bukan milikmu
                                    Karya : @nonalia21

Tak seindah senyummu

                                                                                                                                                                                                                                             lengkung di langit
malam inspirasi
    beribu tahun menja
                    di dewa bermasa-ma
             sa lengkung selepas ba
          kaskara melanglang bu
      ana penanda rindu sang
    punggukmerana mengi
  si malam penuh dahaga
  lengkungnya memudar
  tatkala bayang senyum
    mu mengisi angan di
      malam malam sepiku
          kurang dari tiga ming
             gu lagi kita akan berte
                   mu jika dia memang
                           ingin mempertemu
                                                kan kita
SAJAK : Meilinda

 
“Inisiatifku”
Gentar hati dan jiwaku
Amarah yang mengelora di dadaku
Yang membuat tingginya keegoisanku
 Akan memnggoyahkan cintamu
Tapi
Rasa yang kurasakan tak lain karena cinta
Inisiatifku karna aku sayang kamu
 Menghujammu menanam kecemburuanku
 Aku takut
Yang kau rasa akan sirna
 Akan musnah
 Seiring berjalannya waktu
Aku yakin kamu akan mengerti
 Ragaku, Rasa ku, Marahku, Cemburuku
 Inisiatif ku karena ku cinta kamu

Karya: Gayatri Mayasari

AI DAN IA

Seluruh nafasku terbang
Bayangkan ku menghilang
Semua tanpa mu teman
Semua waktu yang hilang

Dan semua musim terus berganti
Tetap bermain sobat
Merangkai mimpi dengan khayalku
Selalu bermimpi dengan hariku

Pernah kau lihat bintang
Bersinar putih penuh harapan
Tangan halusnya terbuka
Coba temani dan dekati aku
Selalu terangi gelap malamku

Yang melengkapi khayalmu
Kau terhenyak dan terbangunkan
Dan harapkan keajaiban datang hadir dipundakmu
Kau mencari letak masa lalu yang lepaskanmu
Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu

Karya : Prio Natulangi P.
 
MUTIARA HIKMAH ”

Aku tanpamu bagai tumbuhan yang tak berakar
Aku tanpamu bagai sumur yang tak berair
Aku tanpamu bagai bumi yang tak bercahaya

            Dalam dekapmu, seakan menebarkan cinta dari keseluruhan bumi
            Cahaya yang menjulang untuk hati yang mencintai

Sejenak merenungi hidup yang telah dilalui
Kau adalah inspirasi hidupku…

            Begitu banyak pengorbanan mu…
            Begitu banyak penderitaan mu….
            Begitu banyak air mata yang bercucuran dari bola matamu.
            Love You Bunda.

By : Insana 

" Di Antara Dua"

di antara dua aku harus memilih
entah satu baik atau buruk
aku tak terasa berdiri diantara keduanya
dan aku menentukannya...

di antara dua, aku harus masuk
entah satu mudah atau sulit
aku tak bisa bergelut di antara keduanya
dan aku meratapinya....

di antara dua, aku harus berjuang
entah satu manis atau pahit
aku tak berhenti meraih satrunya
dan aku tak ingin kalah...
Karya: Nani

Penghianat Cinta

di keheningan malam
aku teringat akan bayangmu
kau hadir membawa cinta
dengan senyum manis palsu

harus kuakui...
begitu sulit melupakanmu
menghapus cinta yang pernah ada
... dan membeku di dalam hati

tapi...
kau penghianat
bila waktu membawamu kembali
kau hanya racun dalam jiwaku
Karya: Saliyah

ILUSI

Kau hadir pada saat malam
Cahayamu indah berkelipan
Seberkas cahaya menyinari dunia
Kau sungguh elok mempesona
Meskipun kau kecil
Kau begitu indah
Berdampingan dengan ribuan lainnya
Kau tak pernah letih memandangi dunia
Bertukar tempat dengan yang lain
Andai ku bisa terbang
Ku ingin menggapaimu
Ku tunjukkan pada dunia keindahanmu
Itu hanya ilusi ilusi
Pikiran yang melayang
Terbang bersama keinginan

Karya: Listiani
Sang Pendosa
Runtutan doa terucap
Entah sudah untuk yang keberapa kali
Tapi, meski aku bersimpuh
Namun ku tahu
Oleh dosaku itu,

Lantunan ampun yang terpapar
Ayat-ayat suci-Mu ku ujarkan
Rasanya masih belum cukup
Apakah sejauh itu?lalu,
Seberapa berat dosaku?
Ampuni aku...
Tuhan,
Ibamu kupinta

Putus sudah harapanku
Usahaku sia-sia
Tak tergerakkah sedikit rasa hatimu
Renungku di setiap seperempat malam
Itulah hal yang mampu kulakukan sekarang

Sajak: Retno Larasati P.

Hampa

Raut wajah pudar memucat pasi
Ingatan suram mulai menghantui
Aura surgapun tak tercium lagi

Kala hidup di dalam kegelapan
Udara pengap seakan mencekik mati
Rona kejam merasuk ke dalam jiwa
Nanar perih bisikan hati
Ini hidup bukan hidup sebenarnya
Angan-angan hanyalah angan biasa

Nyata dan khayalanpun sama saja
Ingin ku dengar nyanyian-nyanyian damai
Nyanyian surga nyanyian itu
Gemerlap malam tak ada lagi
Siang pun terlewati begitu saja
Ingin rasakan semuanya, namun
Hampa hidup dalam dunia nyata

Karya: Ria Kurnia Ningsih
Ketika Disatukan



Semirik irama sepenggal cerita

Rasa, senang dan bahagia

Ketika dua hati dipersatukan

Ada gelitik Tanya dari sekempulan keluarga



Bercak-bercak kesinambungan kata yang mengalir

Mungkin tak ada yang diprotes

Karena dia adalah pilihan terbaik

Baginya…



Baginya…

Memang aku pilihan terbaiknya

Karena itulah aku dipertemukannya

Bersama keluarganya

                                                                                    Karya : Septia Kristi
KESEPIAN



Kini kuhanya bisa membayangkan,

membaca aksara yang kau rangkai penuh makna

tanpa sanggup ku menyapa

dan hanya bisa mengenangmu dalam duka



Kini kau telah pergi

tanpa kau peduli tentang perasaanku

kau pergi dengan kenangan indah

kau tinggalkan kenangan yang hayakan rapuh ditelan waktu,

dan sisa sisa usiaku



Haruskah air mata ini mengalir setiap waktu?

haruskah kuhentikan

detak jantung dan nadiku untuk merindukanmu?

dan haruskah nyawa ini terpisah dari ragaku karena cintamu?

mungkinkah ini semua telah menjadi suratan takdirku


Karya: Sri Mentari   2010112110
Decak Kagum




Bagiku kehadiranmu adalah akhir dari kerisauan hatiku



Bibirku seakan membeku



Tak mampu berucap kata



Saat melihat dirimu hadir didepan kedua bola mata ini



Yang bermula dari sebuah decak kagum yang luar biasa



            Hati ini sering berkata



            Mungkinkah??!



            Mungkinkah aku bisa menatap wajahmu



            Mungkinkah aku bisa berdua, melepaskan rasa kagum ini



            Dan mungkinkah aku bisa berfoto denganmu



            Merekam semuanya yang kita lakukan dalam sebuah memoriku



            Wahai idolaku (Afgan Syahreza)
Karya: Inneke Saras Tindi 

 

Pemberi Nafas Baru

Kamu rubah semuanya
Kamu perjuangkan semuanya
Kamu bela semuanya
Kamu pimpin semuanya
Kamu benahi semuanya
Demi kaum mu
Demi kaum yang tertindas
Demi kaum yang lemah
Demi kaum yang dianggap remeh
Ialah kaum wanita
Yang selalu dianggap bawah
Tapi karena kamu
Karena titih peluhmu semuanya berubah
Ya kamu
Harum namamu
Besar jasamu
IBU KARTINI
Pemberi nafas baru
Nafas bagi kaum wanita

 
PUISI DARI SEBUAH NAMA
T: Tarikan napas terasa lepas
R: Riuk aingin seakan menggetarkan jiwa yang berkelana
I: Itukah, Diriku?
A: Angan melayang hilang seakan tabuh
N: Namun, sunyi berbisik kalbu yang sepi
J: Jeritan sukmaku tak berhenti entah kapan
A: Aku tahu semuanya tak kan menjadi sempurna dan berubah
R: Rintihan tangis serta tawa mewarnai perjalanan yang gersang ini
S: Sekejap aku memejamkan mata, merasakan apa yang menjadi hak ku
A: Akankah semuanya berakhir tepat pada waktu nya
R: Rumus kehidupan telah tergaris
I: Ingin ku belai ragamu, sukmamu, aku tak mampu berkata, terjadi, kenyataan dua insan tak dapat dipisahkan

Karya: Tri Anjar Sari
 
 
SELEMBAR PUISI UNTUK KEKASIH

Terpaku dalam kegundahan hati
Terasa tak dapat ku lawan dengan jari-jari
Tiada lagi tempat hari yang terasa ada
Hanya lelah
Lelah yang ku rasa……………

Andaikan waktu itu tak terjadi
Mungkin hatiku takan remuk seperti ini
Langkahku terhenti dalam kelamnya malam
Mataku terhalang jurang yang dalam
Pendengaranku sayup-sayup tak menentu
Hatiku terombang ambing dalam ombak kemarahan
Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi
Mungkin tiada lagi yang dapat terjadi saat ini
Semangatku lemah hatiku susah
Teringat malam itu yang menyakitkan
Inikah kehidupan?

Kurasa semua bukan seperti ini
Mungkin masih ada titik terang
Yang akan menyinari kegelapan hati
Memberi pujian untuk diri sendiri
Meredamkan semua yang ada saat ini
Hingga aku dapat kembali ke kehidupan yang indah ini

Karya: Tassa Folanda
AROMA CINTA

Saat daku mengamati elok wajahmu
Indah terpancar lembutnya cahaya
Terdapat di pelangi bola matamu
Ingin aku membelai halusnya pipimu
            Lama aku melihat dirimu
            Entah, perasaan pahit manis aku rasakan
            Saat engkau menatap diriku
            Tindakan diriku mulai risau
            Ku ingin berbisik tentang perasaanku
            Rasa aroma cinta mulai tumbuh
            Itu semua karena aku melihatmu
  Karya: Siti Lestari

SUPER
Karya Era Tri Utami

Kau rangkai kata-kata
Tersusun makna indah
Jutaan barisan manusia bergetar
Manakala suara itu menyebar
Manakala gerakan mulai mendekat

Kau umbar banyak pesan
Kau hancurkan pilu tangisan
Seperti memberi energi besar
Muda hingga tua
Membuka mata, membuka jiwa
Menyatukan segala pikiran

Wahai, pria parubaya !
Kau tampilkan proses masa depan
Kau arahkan insan intelektual
Supaya berguna bagi kehidupan

*****************Terima Kasih Telah Membaca*****************



 

1 komentar: